Sinamotku

Sinamotku
Merasa bersalah



"Abang serius mau bercerai atau membatalkan pernikahan ini? Aku sudah berkata jujur, aku mengakui kalau aku memang benar-benar tidak pernah melakukan hal sekeji ataupun sekotor itu. Hal itu sangat menjijikkan bagiku, tolonglah percayalah padaku," rintih Jesika, terus memohon agar suaminya agar tak berniat menceraikannya.


Alex menyeringai pada Jesika, sesaat ia memikirkan kembali ucapan yang sudah terlontar. Namun dengan keteguhan hati, ia tetap ingin membatalkan pernikahan lantaran sudah tak ingin bersama Jesika lagi. Alex merasa dibohongi.


"Aku ingin membatalkan pernikahan ini atau bercerai. Besok pagi aku segera pulang ke Jakarta dan aku tidak mau melihat wajahmu lagi," berang Alex, tak lagi ingin melihat wajah cantik Jesika.


Jesika duduk meringkup dengan lutut yang dipeluk dengan kedua tangannya di tepian ranjang. Ia juga menundukkan kepala, tak menyangka pernikahan itu berakhir hanya dalam satu hari setelah pemberkatan berlangsung.


Di tengah kalut yang mendera, dia tetap mencoba berpikiran jernih. Meskipun sebenarnya, ia ingin berlari sejauh mungkin meninggalkan kediaman Alex yang belum diketahui seluk-beluknya itu.


Jesika memikirkan kembali apa yang akan dibawanya untuk keluar dari rumah yang besar milik keluarga Alex. Ia mengingat hanya membawa dompet pemberian sang mama saat acara resepsi kedua berlangsung.


Untung saja ponselnya sejak hari pertama telah dibawa tapi hanya disimpan di dalam kamar Alex. Sejak malam pertama ia tak lagi memegang ponselnya karena tidak ada waktu untuk memeriksa notifikasi pada ponsel itu.


"Baiklah kalau itu kemauan Abang, lebih baik kita sudahi saja pernikahan ini. Untuk selanjutnya silakan Abang berbicara dengan kedua orang tuaku mengenai sinamot yang sudah sudah Abang berikan jika pernikahan Ini dibatalkan. Biasanya sesuai dengan adat sinamot harus dikembalikan," ungkap Jesika panjang lebar.


"Aku tidak akan memusingkan soal sinamot karena uang itu tak seberapa bagi keluargaku tapi aku sangat menyayangkan soal kesucianmu, mengapa kau tidak bisa menjaganya sehingga suamimu tidak bisa menikmatinya pada malam pertama," lirih Alex, dengan tatapan kecewa.


"Kenapa kau menuduhku seperti itu? Aku tidak pernah berbuat seperti yang kau katakan. Aku selalu menghormati diriku sendiri, menjaganya hingga suamiku lah yang pertama kali mendapatkan kesucianku," beber Jesika.


Jesika merasa semakin sesak saat tuduhan-tuduhan itu terus dilayangkan oleh Alex. Ia tak kuasa lagi menahan air mata yang sudah berada di ujung pelupuk mata. Tanpa terasa buliran bening pun telah membasahi pipi tirusnya yang cantik jelita.


"Maaf, Bang aku tidak terima dituduhkan seperti itu. Malam ini juga aku akan keluar dari rumah ini," ketus Jesika sembari beranjak dari tempat tidur.


"Terserah yang terpenting aku tidak ingin melihat wajahmu lagi," jawab Alex seraya memalingkan wajah.


Jesika mengambil dompet yang diberikan oleh sang Mama yang disimpan di dalam saku tuxedo suaminya yang menggantung di dalam lemari.


Dompet itu tak sempat dikeluarkan saat mereka tiba di rumah, ia menggeledah tuxedo untuk mengambil dompet, lalu beralih mengambil ponsel yang ada di nakas.


Untung saja, kemarin Jesika sudah mengisi daya baterai ponselnya. Meski kondisi ponsel itu mati karena belum dinyalakan oleh Jesika.


Tanpa mengucap kata apapun atau berpamitan pada Alex, dia segera keluar dari kamar. Saat itu sudah jam hampir setengah satu malam, saat keluar dari kamar tak didapati seorangpun yang berada di setiap sisi ruangan.


Walaupun mengenakan pakaian rumahan, Jesika tak segan-segan keluar melangkahkan kakinya. Ia berjalan tertatih dengan tangis yang mengurai membasahi pipinya. Tak lama, Jesika juga menyalakan ponselnya.


Yang terlintas dalam pikirannya adalah sahabat satu-satunya yang masih berada di kota ini, kota tempatnya tinggal. Ingin sekali rasanya Jessica meninggalkan desa ini, pergi jauh agar kenangan buruk yang menimpanya bisa terlupakan begitu saja.


Satu panggilan telepon segera dilakukan oleh Jesika. Ia menelepon Rini sahabatnya. Meskipun sudah dini hari, Rini tetap menjawab panggilan dari Jesika.


"Halo ... kenapa, Jes?" tanya Rini, to the point dari seberang telepon.


Ia melangkahkan kakinya dengan lebar, jalanan tampak sunyi, tak ada satupun kendaraan yang melintas. Meski begitu, tak ada rasa takut lagi yang menghampiri Jesika.


Dirinya bahkan sudah tak lagi suci karena telah direnggut oleh suaminya sendiri. Meskipun kesucian itu tak pernah diakui sehingga meninggalkan rasa kesal, amarah serta kecewa di dadanya.


Pernikahan ini menjadi kenangan buruk bagi dirinya. Ia ingin segerakan melupakan pernikahan sehari yang sudah menyakiti dirinya. Bahkan, ia ingin pergi jauh melalang buana melupakan kejadian buruk yang menimpanya saat ini


"Aku di Hotel Bengawan, Jes! Ke sini saja," kata Rini.


Jessica berjalan tanpa henti hingga ia tak lagi merasakan letih. Deru kakinya melangkah, hingga tak sadar, jalan raya berada di depan matanya.


Beberapa kendaraan terlihat melintas. Kaki Jesika terhenti saat ia melihat motor yang terparkir di pinggir jalan di depan sebuah warung kelontong kecil.


Jesika menanyakan langsung pada pemilik kendaraan itu. "Permisi, Bang boleh antarkan aku ke Hotel Bengawan. Nanti aku bayar lebih. Tolong, ya, Bang." Jessica meminta penuh harap.


"Kak, saya bukan tukang ojek, coba cari di daerah sana. Di ujung sana biasanya masih ada ojek yang mangkal atau bentor juga ada. Tapi masih lumayan jauh jalannya," ujar Pria itu.


"Bang, saya buru-buru, nanti saya kasih uang banyak. Tolong antarkan saya segera, ya, Bang," pinta Jesika memohon hingga membuat pria itu terenyuh dan tak tega.


"Oh ... gitu, yaudah tunggu sebentar, kak. Saya siap-siap dulu." Pria itu meraih jaketnya yang menggantung di warung, lalu berpamitan pada seorang perempuan yang menjaga warung kelontong yang buka selama 24 jam di pinggir jalan.


"Dek, aku mengantar perempuan itu dulu, ya! Soalnya kasihan, lihat aja mukanya kayak gitu, menyedihkan," papar pria itu, menunjuk ke arah Jesika.


"Ya, Bang, hati-hati!" pesan istrinya.


Pria itu memboyong Jesika mengendarai motor. Mereka menuju hotel Bengawan. Tak berselang lama, Jesika pun turun memberikan uang Rp100.000 untuk pria itu.


"Bang, terima kasih sudah mengantarkan saya. Segini cukup nggak?" tanya Jesika, mengulurkan tangannya memberi lembaran merah untuk pria itu.


"Terlalu banyak, Kak. Kasih saya 20 ribu saja, udah cukup kok," jelas Pria itu.


"Jangan, Bang." Jessica melakukan penolakan dengan tangan, ia tetap memberikan uang lembaran merah itu pada pria yang sudah berani mengantarkannya.


****


Di kediaman Alex, pria tampan itu menyugar rambutnya berkali-kali lantaran merasa khawatir pada istrinya. Bahkan ia seperti menyesali perbuatannya sendiri, mengapa bisa dirinya setega itu. Mengusir istrinya dari rumah ini saat dini hari.


"Apakah dia akan baik-baik saja? Aku jadi merasa bersalah telah mengusirnya malam-malam begini. Seharusnya aku tunggu sampai esok pagi," batin Alex, menatap langit-langit kamar.