
"Maaf, Bang tadi bosku menghubungi, jadi aku harus menjawabnya, takut ada yang penting," kilah Jesika, saat menatap lekat suaminya.
Tak berselang lama, seorang pelayan datang membawa troli makanan yang isinya berbagai pesanan untuk mereka.
"Permisi, Tuan, Nyonya ... ini pesanannya sudah datang," Pelayan itu langsung meletakkan berbagai makanan, memindahkan semua makanan yang berada ditroli ke meja makan.
Sementara, Alea hanya duduk terdiam dan termenung, menatap mama dan papa yang sedang dengan asik berbincang.
Usai pelayan itu menyimpan semua makanan di meja, dia pun berpamit pergi. Kemudian Alex dan Jesika kembali melanjutkan perbincangan mereka.
"Jadi selama ini kau kerja apa, Jes?" seru Alex, penasaran karena ia tak sempat menanyakan persoalan pribadi Jesika selama 5 tahun terakhir.
Apalagi Alex sama sekali tidak pernah mengirimkan uang pada Jesika untuk kebutuhan istri bersama anak dalam 5 tahun ini. Ia merasa kecewa karena tidak dilibatkan apapun dalam masa perkembangan gadis kecil itu.
"Aku kerja sebagai seorang sekretaris, Bang karena berkat bantuan Rini aku bisa bekerja di perusahaan Kargo yang besar di daerah ini. Rini juga bekerja di sana, jadi kami satu perusahaan. Hanya saja, penempatan kami berbeda-beda, aku menjadi sekretaris bosnya, sementara Rini di bagian divisi yang lain," beber Jesika.
"Oh ..." Alex hanya mengangguk-angguk sembari membulatkan mulutnya.
Kini, Alex semakin penasaran siapa Bos yang akan diurus oleh Jesika. Tampaknya Jesika pun memiliki kedekatan lain dengan pria itu. Namun, Alex tak ingin membuat Jesika merasa tak enak padanya, sehingga Alex mengurungkan niat untuk menanyakan tentang bos kargo itu.
"Sejak kapan kau menjadi sekretaris?" singgung Alex lagi.
Tak lama, ia juga mengambilkan sebuah piring kecil serta mengisi pizza dan menyisihkan untuk Jesika. Sedangkan untuk Alea, ia juga berikan piring kecil yang berisi pizza agar anak itu bisa menyantapnya.
"Sudah sejak awal waktu kepindahanku di sini kok, Bang karena aku pindah ke sini tidak membawa apapun termasuk ijazahku juga berada di rumah kedua orang tuaku, jadi aku bekerja hanya melalui modal orang dalam dari Rini," jelas Jesika.
"Oh, sebenarnya kenapa si Rini menyembunyikan tentang keberadaanmu di sini? Andai saja dia berkata jujur waktu itu, aku bisa menyusulmu ke sini!" sahut Alex, netranya menatap penuh binar.
"Semua itu atas dasar permintaanky, Bang! Jadi kalau suatu saat Bang Alex ketemu dengan Rini, tolong jangan salahkan dia, salahkan saja aku karena memang aku yang menghindar untuk bertemu dengan Abang," ungkap Jesika, penuh sesal.
"Ya, aku mengerti sih, saat itu jika aku menjadimu mungkin aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," sela Alex dengan tertunduk malu.
"Abang jangan terlalu memikirkan masa lalu lagi, lebih baik kita makan saja dulu," titah Jesika seraya menyuapkan pizza ke dalam mulutnya.
Jesika dengan lahap menyantap makanan itu, karena meras sangat nikmat. Untuk kali ini, tidak salah pilihannya, sesuai dengan harapannya tadi. Pizza itu benar-benar sangat lembut di mulut dan kejunya bahkan terasa lumer.
Alex hanya mengangguk, lalu ia memerintahkan agar Alea juga ikut memakan pizza tersebut. Namun gadis kecil itu justru menolaknya karena ia tidak suka saus pedas yang berada di atas pizza itu.
"Alea, ayo makan, Nak!" ajak Alex, namun gadis kecil itu menggelengkan kepala dengan cepat.
"Kenapa, Alea? Itu pizzanya enak loh!" lanjut Alex meyakinkan.
"Alea nggak suka pedas, Om itu kayaknya pedes deh soalnya di atas pizza ada saosnya," ujar Alea dengan lugas.
"Yasudah, kamu mau coba yang lain? Ini punya papa, ada french fries yang enak nih," sambung Alex menyodorkan kentang goreng yang sudah dipesannya tadi.
Alea akhirnya menurut dan ia memakan kentang goreng yang diberikan oleh sang papa.
****
Karena pekerjaan yang banyak itu, terpaksa dia harus lembur, merelakan waktu luangnya dan mengerjakan pekerjaan yang belum tuntas. Kini, ia sudah berada di rumah. Hendak ingin melihat buah hati kecilnya yang dirindukan. Rini sudah menganggap Alea sebagai anaknya sendiri.
"Mbok, Jesika sama Alea mana?" tanya Rini, saat mengedarkan pandangan tidak melihat jejak kedua orang itu baik ibu dan anak tersebut.
Rini merasa penasaran kemanakah perginya mereka karena tidak ada kabar dari Jesika kalau ia akan pergi untuk waktu yang lama.
"Ehm ... tadi Non Jesika sama Non Alea pergi sama seorang lelaki. Mbok juga nggak tahu siapa, karena pria itu tidak memperkenalkan diri. Pokoknya mereka terlihat sangat akrab," ujar Mbok Darti.
"Oh ... kok mereka nggak ngabarin aku sih," keluh Rini, seraya berpamit pergi dari hadapan Mbok Darti yang tengah duduk di meja dapur.
"Kalau gitu aku ke kamar dulu, Mbok!" pamit Rini, lalu ia memasuki kamar dalam waktu yang singkat.
Rini menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, lalu ia menatap langit-langit kamar, kemudian mengambil ponsel yang berada di saku celana untuk menghubungi sahabatnya.
Sayangnya, panggilan dari Rini tak kunjung di jawab oleh Jesika. Entah mengapa Jesika mengabaikan sahabatnya, ini baru kali pertama terjadi. "Mungkinkah Jesika memiliki kegiatan yang benar-benar tak bisa diganggu?"
Ah... masa iya si Jesika langsung jalan sama Alex, mentang-mentang itu suaminya gitu? Langsung dia jalan bersama?
Rini larut dalam dalam pikiran sendiri, memikirkan hubungan antara Alex dan Jesika yang secepat itu bisa diperbaiki.
****
Irma tengah menata ponsel, ia khawatir terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya, sebab panggilan yang baru saja ia lakukan justru tak dijawab oleh Jesika. Oleh karena itu, Irma pun merasa bingung dan menanti-nanti kalau sewaktu-waktu Jesika yang akan menghubunginya kembali.
"Ada apa, Mama selalu melihat ponsel itu?" celetuk Bernard, menatap lekat wajah istrinya yang sendu sembari menatap nanar layar ponsel dengan lama.
"Tadi kan, Mama telepon Jesika tapi nggak diangkat sama sekali loh, Pak!" jawab Irma.
"Mungkin saja dia lagi sibuk jadi biarkan saja dulu, nanti juga kalau sudah ada waktu dia pasti akan menghubungimu kembali!" balas Bernard, memberikan keteduhan bagi istrinya yang tengah merasa khawatir.
"Mama rindu sama pahopuku, bagaimana kabar si Alea, udah lama rasanya Mama nggak berkomunikasi sama mereka," timpal Irma.
"Sabarlah, Mama nanti juga pasti akan ditelepon lagi, coba-coba beberapa saat kemudian hubungi sekali lagi!" Bernard memberikan saran pada istrinya lantaran perempuan itu terlihat sangat khawatir.
Irma pun mengangguk, tetapi dia langsung membuat satu panggilan telepon saat itu juga. Sayangnya, lagi-lagi tetap tak ada jawaban dari Jesika.
"Ah ... tetap nggak diangkat, Pak!" imbuh Irma seraya menatap nanar ponsel, berharap Jesika akan menghubunginya kembali.
"Udah, tunggulah sebentar lagi. Paling dia lagi sibuk, entah dia masih ada kerjaan di luar kota atau bagaimana kan kita tidak tahu! Mama kan tahu sendiri pekerjaannya sebagai seorang sekretaris dan harus mengikuti bosnya kemana-mana," hardik Bernard.
Irma hanya mengangguk patuh, kemudian ia meletakkan ponsel di atas meja dan duduk termenung seraya menanti-nanti kalau anaknya akan menghubungi. Sedangkan Bernard hanya terdiam dan menatap istrinya dengan rasa terheran-heran.