
5 tahun kemudian...
Jesika kini telah hidup bahagia dengan anak perempuannya yang sudah berusia 4 tahun bahkan, ia sudah menempati rumah yang sederhana berkat kerja keras menjadi seorang sekretaris CEO muda.
Ia sengaja membeli rumah di Jogja dan tinggal bersama Rini serta anak perempuannya agar tak lagi mengeluarkan uang untuk sewa rumah. Bahkan, dirinya juga tak menampik jika orang-orang menanyakan tentang hubungan dengan anak perempuan yang tinggal bersamanya.
Jesika tanpa malu mengakui secara terang-terangan kalau anak tersebut adalah anak kandung yang ia lahirkan dari rahim sendiri. Selama masa kehamilan, dulu Jesika selalu dibantu oleh Rini, apapun yang ia idamkan dipenuhi oleh Rini.
Setelah anak itu lahir, Rini juga membantu merawat anaknya berdua. Sahabatnya selalu berada di samping dan selalu ada untuknya, menemani dikala sedih, senang dan bahagia hingga seorang gadis seorang mungil hadir di tengah-tengah mereka dan merubah kehidupan mereka dengan cukup drastis.
Pagi ini, Jesika tengah merapihkan seragam buah hatinya yang akan berangkat ke PAUD. Ia sudah mendaftarkan anak mungil itu untuk ikut mendapatkan pendidikan usia dini sebelum memasuki pendidikan dibangku SD.
Jesika tampak terburu-buru karena jadwal untuk bekerja pun sudah mepet. Oleh karena itu, ia bergegas mengantarkan putrinya menggunakan mobil yang telah dibelinya menggunakan uang dari ATM pemberian orang tuanya.
Tak hanya itu, Jesika juga membuka usaha kuliner di Jogja berkat dari dukungan Rini. Kuliner itu awalnya hanya iseng-iseng semata, yang disarankan Rini pada Jesika untuk membuka sebuah angkringan kecil di pinggir jalan yang akan dikelola oleh seorang pekerja. Namun ternyata angkringan itu justru mendapat animo masyarakat yang tinggi, disukai oleh orang banyak bahkan sangat dinanti-nanti sebelum angkringan itu dibuka.
Usaha angkringan itu juga dilakukan atas kerjasama yang dilakukan oleh Jesika bersama Rini, mereka membuat rencana bahkan turun tangan langsung untuk mengurus menu makanan-makanan yang dijual.
Jesika yang menyukai makanan yang sehat dengan porsi sedikit tapi tidak mengalahkan rasa nikmat dari makanan itu sendiri. Oleh karena itu, angkringan menjadi solusinya, dengan usaha yang dibukanya, ia bisa memberikan makanan enak dan sehat kepada orang-orang, selain harganya yang murah makanannya juga terbilang dengan porsi kecil sehingga cukup sekali untuk orang-orang yang sedang berdiet.
***
Selama 5 tahun terakhir, Alex terus saja terbayang-bayang oleh wajah Jesika. Padahal sudah banyak usaha yang ia lakukan untuk menghilangkan wajah Jesika dari pikiran, termasuk dengan terus sibuk bekerja.
Selain itu, tiap tahun, Alex juga selalu pulang kampung untuk mencari tahu kondisi istrinya. Sayangnya, setiap ia pulang kampung hanya mendapatkan hasil yang nihil, tidak ada kabar apapun mengenai Jesika termasuk orang tua Jesika sendiri tidak pernah melihat wajah putrinya.
Bahkan, keluarga Alex juga sudah meminta agar pernikahan itu diselesaikan secara baik-baik. Mereka juga mendatangi keluarga Jesika yang meminta agar pernikahan dibatalkan ataupun diajukan gugatan cerai secara sah di mata hukum tapi pihak Jesika justru tidak menyetujui permintaan keluarga Alex.
Bernard tidak yakin untuk menyetujui perceraian, lantaran dia belum melihat wajah putri satu-satunya secara langsung. Ia pun tak akan menyetujui keputusan keluarga Alex yang meminta pernikahan tersebut dibatalkan, mengingat sudah ada seorang cucu yang dimiliki oleh Jesika.
Selain itu, keluarga Alex juga menuntut tentang sinamot yang telah mereka keluarkan pada saat pernikahan agar dikembalikan oleh pihak keluarga Jesika. Namun, Bernard terus menolak dengan dalih bahwa keluarga Alex yang harus bertanggungjawab atas kehilangan anaknya, mereka juga harus mengembalikan Jesika kepada Bernard.
Disisi lain, Jesika sudah mengaku pada kedua orang tuanya telah hidup menyendiri dan berpisah dari Alex. Untung saja, kedua orang tua Jesika bisa menerima keputusan anaknya yang memilih untuk hidup sendiri tanpa bayang-bayang suami dan keluarganya. Namun, Jesika tidak mengungkap persoalan apa yang bisa menghancurkan rumah tangga mereka.
Tak hanya itu, hanya kedua orang tua Jesika sudah mengetahui kalau boru sasada mereka, memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik.
Anak itu juga kerap menghubungi opungnya untuk sekedar menanyakan kabar. Mereka kerap bertatap muka melalui video call yang kini sudah bisa dilakukan dengan ponsel yang semakin canggih.
Jadi, hanya keluarga Alex yang tidak mengetahui bahwa mereka sudah memiliki keturunan dari Jesika, termasuk Alex sendiri tak pernah tahu bagaimana kondisi istrinya setelah 5 tahun terakhir.
Jesika bahkan tak pernah mencari Alex ataupun meminta pertanggungjawaban pria itu, ia berjuang seorang diri demi kebahagiaan bersama anak satu-satunya yang sudah ia sayangi dan cintai sepenuh hati.
Semua tentang Jesika sangat memberatkan pikiran Alex. Ia tak bisa mendekati wanita manapun karena rasa bersalah dan belum menyelesaikan persoalan rumah tangga itu secara baik-baik.
Pagi ini, Alex buru-buru ingin pergi menuju bandara, karena ia di alih tugaskan untuk pindah ke rumah sakit cabang Jogja. Meskipun, Alex tak menyukai usulan dari pihak rumah sakit, tapi dengan berat hati ia harus menjalankan tugas tersebut.
Oleh karena itu, pagi ini ia bergegas menuju bandara agar bisa sampai tepat waktu di Jogja. Alex hanya membawa sebuah koper kecil yang berisi baju-baju ganti selama beberapa hari tinggal di Jogja.
Dirinya ditugaskan selama setahun penuh untuk tinggal di Jogja, ditugaskan di cabang rumah sakit sesuai intruksi atasannya. Oleh karena itu, untuk kebutuhan lain, Alex lebih baik membeli langsung saat berada di Jogja.
Kemarin, Alex bahkan sudah berpamitan dengan sahabat-sahabatnya yang masih bekerja di rumah sakit utama tempatnya bekerja. Dia benar-benar meninggalkan ibu kota yang penat, sekaligus memanfaatkan peluang yang ada, untuk mengganti suasana tempat bekerja ataupun menghilangkan bayang-bayang mengenai Jesika.
Setelah berada di Jogja, hal yang pertama kali dilakukan Alex adalah menuju sebuah apartemen studio yang sangat dekat dengan rumah sakit. Apartemen studio pilihan Alex, sudah dibayarkan uang mukanya, tinggal ia menyerahkan sewa selama 1 tahun ke depan.
Alex tampak terburu-buru langsung menuju tempat apartemen itu agar ia bisa menyimpan barang-barangnya dan menuju tempat rumah sakit pada hari pertama bekerja.
Alex juga sudah membuat janji temu dengan pemilik apartemen di lobby untuk penyerahan kunci pagi ini.
"Selamat pagi!" sapa seseorang perempuan yang ada di lobby.