
"Dengan Bapak Alex?" tanyanya lagi, memastikan pria yang baru saja tiba di lobby apartemen.
"Oh ... iya, saya Alex, ibu yang menyewakan apartemen yang sudah saya berikan uang mukanya?" balas Alex, menatap datar wajah perempuan muda itu, dengan nafas sedikit terenggal-enggal.
Perempuan itu pun mengangguk, lalu mempersilahkan Alex untuk duduk di sofa yang berada di lobby, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yakni kunci apartemen. "Saya ingin meminta uang sewa selama setahun kedepan, Pak Alex!"
Alex mengeluarkan tiga gepok uang cash untuk pembayaran sewa apartemen. Ia memang membawa uang cash karena mengambil tabungan dari brangkas di apartemen lama, akhirnya Alex menyerahkan pada perempuan itu.
"Ini untuk uang sewa saya selama setahun ke depan, depositonya berarti akan dikembalikan di akhir masa sewa saya berakhir, ya?" sahut Alex, seraya menyodorkan uang gepokan tersebut.
"Benar sekali, Pak itu demi kenyamanan bersama. Karena penyewa kerap melakukan hal semena-mena, tidak menjaga kebersihan apartemen, deposito akan hangus bila kondisi apartemen tidak layak ditempati saat saya menerima kunci pada saat masa sewa berskhir. Kalau begitu terima kasih, semoga Bapak nyaman tinggal di sana. Dan jangan lupa jaga kebersihan apartemen," ucap pemilik apartemen panjang lebar.
Alex tersenyum dan mengangguk, ia kemudian meraih kunci yang disodorkan pemilik apartemen, lalu bergegas menuju apartemen tempat tinggal barunya.
Setelah melihat-lihat kondisi dalam apartemen, ia yakini memang apartemen itu sangat cocok dengannya, kondisinya bersih dengan pemandangan yang cukup indah melalui jendela yang ada di sana.
Alex bergegas menyimpan koper di dalam lemari, lalu bergegas keluar lagi untuk menuju Rumah Sakit tempat praktek barunya, sebab jam 11 siang, dia harus sudah mulai praktek menerima pasien.
****
Jesika sudah mengantarkan gadis mungilnya ke PAUD. Ia pun berpamitan, lalu mencium pipi gadis mungil itu dengan senyum yang sumringah.
"Bye, Sayang! Nanti Mama jemput pas pulang sekolah!" tutur Jesika, berlalu pergi.
Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk, tak lama ia langsung masuk ke dalam didampingi oleh guru paudnya.
Jesika hanya melambaikan tangan sebelum gadis kecil masuk ke dalam ruangan, setelah tak melihat lagi sosok anaknya, ia meninggalkan halaman paud, menancapkan pedal gas mobil, meninggalkan sekolahan itu.
Tak berselang lama, Jesika sudah berada di kantor, ia mulai sibuk mengurus jadwal CEO.
Tok ... Tok ...
Meski sudah terbiasa dipinta oleh Fay agar Jesika tak perlu mengetok pintu tapi Jesika tetap hormat meminta izin sebelum masuk. Ia hanya memberikan pertanda ketukan pintu, sebelum menarik handle pintu ruangan bosnya.
Ceklek ...
Suara tarikan pintu menyita perhatian Fay yang baru saja melepas jas dan menggantungkannya. Fay menoleh ke belakang, lalu menatap Jesika.
"Selamat pagi, Pak! Hari ini Bapak harus mengunjungi sekolah SMA yang bekerjasama dengan perusahaan kita untuk menghadiri seminar," ucap Jesika, menyampaikan semua jadwal yang akan diisi oleh Fay hari ini.
"Nanti kau temani saya ke sana! Saya akan bersiap-siap dulu." Fay meminta Jesika meningalkan ruangan, kemudian ia merapikan berkas yang berada di atas meja kerja karena ia tidak suka melihat kekacauan di sana.
Jesika sudah kembali ke meja kerjanya, lalu ia mempersiapkan beberapa bahan seminar yang nantinya akan dibacakan oleh Fay saat berada di sekolah SMA tempat mereka mengadakan seminar itu.
Hari ini, target perusahaan kargo melakukan seminar di sekolahan adalah untuk mengajak para anak muda masa kini agar lebih memperhatikan pengiriman ekspedisi yang jangkauannya sudah mencakup dengan luas bahkan menjangkau ke seluruh negeri ini hingga luar negeri.
Karena itu, perusahaan juga berkeyakinan akan mendapatkan pengusaha muda dari kalangan pelajar untuk menggunakan kargo mereka dengan bijak.
Fay pun keluar dari ruangan, lalu mengajak Jesika untuk pergi berangkat ke sekolahan. Pagi itu, mereka berangkat bersama menggunakan mobil yang dikendarai oleh Fay. Walaupun ia pria muda kaya raya tetapi Fay sangat mandiri, tidak suka disupiri oleh orang lain.
Oleh karena itu, ia selalu mengendarai kendaraannya bahkan didampingi oleh sekretarisnya saat berada di dalam mobil.
"Oh ... iya, Bos! Nanti siang ada jadwal untuk kencan bersama perempuan yang akan dijodohkan oleh orang tua bos di cafe dekat kantor!" celetuk Jesika, Fay langsung menoleh dengan cepat.
"Hah ... apa aku dijodohkan lagi?" tanya Fay, lantaran selama 5 tahun terakhir, orang tuanya selalu memaksa agar Fay segera memasuki jenjang pernikahan karena usia yang cukup serta kehidupan yang mapan.
"Iya, Bos ... tadi Namboru menghubungi saya dan meminta untuk memasukkan jadwal tersebut ke agenda hari ini!" balas Jesika.
"Kenapa mereka tidak meminta izinku?" desah Alex, sembari membuang nafas kasar.
"Aku tidak mengerti, pokoknya namboru meminta agar bos hadir dalam kencan buta. Dan jangan sampai gagal lagi!" ketus Jesika, menirukan apa yang diucapkan oleh mamanya Alex seperti saat mereka berhubungan melalui telepon.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Fay harus menuruti keinginan kedua orang tuanya, sebab jika ia menolak nasib perusahaan akan diambil alih lagi oleh sang Bapak yang sudah memberikan rasa tanggungjawab pada Fay untuk mengelola perusahaan kargo terbesar itu.
"Baiklah, siapa perempuan yang akan berkencan bersama saya?" tanya Fay, melirik Jesika sekilas.
"Namanya Mutia, Bos. Orangnya sih cantik!" Jesika memperlihatkan foto sosok perempuan yang dikirimkan oleh mamanya Fay pada dirinya.
Sementara Fay hanya melirik tajam sekaligus melihat Jesika dengan tatapan yang sendu. "Kenapa tidak denganmu saja?" gumam Fay, lalu fokus kembali menyetir mobil.
***
"Selamat pagi semuanya! Hari ini saya akan memperkenalkan dokter baru yang mulai bekerja bersama kita, beliau pindahan dari rumah sakit pusat yang berada di ibukota dan beliau ini akan menangani poliklinik gigi," terang Direktur Rumah Sakit, memperkenalkan Alex pada seluruh karyawan serta dokter yang sudah berkumpul pagi-pagi sesuai arahan kemarin.
Alex menunduk dan tersenyum tipis, lalu ia agak mencondongkan tubuhnya dan mulai memperkenalkan diri.
"Selamat pagi, perkenalkan saya dokter Alex yang akan menangani poliklinik gigi di rumah sakit ini. Karena rumah sakit ini baru saja berdiri jadi saya diperintahkan untuk tugas di sini selama 1 tahun ke depan."
Beberapa wanita di sana tersenyum-senyum seorang diri menatap Alex yang tampan. Bahkan mereka berharap bahwa bisa mendekati dokter Alex dalam masa kerjanya selama setahun ini.
Beberapa diantara mereka juga berbisik-bisik karena kepincut dengan ketampanan dokter Alex.
"Ada pertanyaan?" kata Alex, membuyarkan lamunan para perawat dan dokter perempuan yang ada di sana.
"Sudah menikah, Dok?" tanya salah satu perawat yang hadir di tempat itu.
Alex kemudian diam, menatap perempuan itu cukup lama dengan tatapan maut yang tajam dengan kedua tangan yang dilipat dan satu jari berada di bibir.
...penampilan dokter alex hari ini...