
Alex memeluk tubuh Jesika seketika. Membuat Jesika terkejut bukan kepalang saat kedua dadanya saling berbenturan.
"Abang, mau ngapain?" cecar Jesika, berada dalam pelukan suaminya tanpa aba-aba.
"Cuma mau peluk aja, tidurnya gini ajalah!" sahut Alex, menatap istrinya yang berada di dalam pelukan.
Jesika pun mencoba membalas pelukan itu, ia mengalungkan sebelah tangan di perut sang suami. Mengelus-elus punggung suaminya dengan niat menenangkan.
Namun, Alex justru merasa berbeda, bukan menenangkan malah membangkitkan sesuatu yang berada di bawah sana.
"Tangannya diam saja!" titah Alex, mencium pucuk kepala istrinya.
Jesika mulai memejamkan mata, tak lagi mendengar ucapan sayup-sayup yang terdengar ke telinga. Dalam sekejap, ia sudah tertidur nyenyak dalam dekapan sang suami. Tak ada lagi jarak diantara keduanya, jarak itu benar-benar terkikis.
Sementara, Alex justru tak bisa tertidur dengan posisinya saat ini. Ia malah ingin menyentuh tubuh istrinya. Alex ingin meminta jatah di malam pertama, ia mengendurkan pelukan tersebut.
Namun, seketika wajahnya menatap dengan kecewa lantaran sang istri sudah tertidur pulas di dalam pelukannya. Alex pun malah memanfaatkan momen tersebut.
Karena ia tak bisa tertidur, ia melumaat sendiri bibir sexy milik Jesika. Bahkan, Alex keasikan sendiri saat menjelajahi rongga-rongga mulut itu.
Karena tak ingin lebih jauh beraksi, ia pun menghentikan kegiatannya. Lalu membaringkan tubuh Jesika agar tidur lebih nyaman di atas ranjang, tak lagi berada di dalam pelukan.
Alex mencoba menarik dan mengeluarkan nafas kasarnya. Perlahan-lahan, ia juga memejamkan kedua mata yang masih berkeinginan untuk terus menatap tubuh molek yang ada di sampingnya.
Namun, Alex menggelengkan kepala untuk membuyarkan pikiran jorok yang terus menghantui. Tak berselang lama, ia pun berhasil tertidur lelap.
****
Pagi itu, penata rias Jesika sudah datang di kediaman Alex sejak pukul 4 pagi. Jesika pun dibangunkan oleh maid yang berada di dalam rumah tersebut.
Tok ... Tok ...
"Permisi, nyonya muda, penata riasnya sudah datang!" ucap seorang Maid, dari depan daun pintu kamar.
Jesika pun terbangun. Ia berjalan gontai membuka pintu kamar. "Ada apa, bu?" tanya Jesika pada Maid yang masih menunggunya.
"MUAnya sudah datang, Nyonya!" tandas Maid itu.
"Oh ... sebentar, saya mandi dulu! Suruh tunggu saja!" titah Jesika, dengan bahasa yang formal dan baku.
"Baik, Nyonya!" Sang Maid pun bergantian membangunkan nyonya besar yang ada di dalam rumah itu.
Bahkan, ia juga membangunkan kedua kakak perempuan Alex. Sebab, mereka juga harus segera dipoles dan berhias untuk acara resepsi dihari kedua.
Jesika membangunkan Alex yang masih tertidur pulas. Padahal baru saja dua jam lalu, ia berhasil tidur menyusul istrinya yang sudah teler lebih dulu.
"Bang, bangun! Siap-siap!" ujar Jesika, tapi tak kunjung berhasil lantaran Alex masih tertidur dengan pulas.
Alhasil, Jesika mandi lebih dulu. Lagi pula, Alex tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap ke acara resepsi kedua.
Setelah mandi, Jesika menggunakan kemeja dan celana panjang untuk memudahkan berganti baju pengantin yang nantinya dipakai pada acara resepsi kedua.
"Pagi!" sapa Jesika pada MUA yang juga bekerja untuknya mulai dari acara martumpol hingga resepsi pertama. Saat acara kemarin, Jesika sudah berpesan untuk datang ke rumah mempelai pria untuk meriasnya di sana.
Jesika pun duduk di kursi yang disediakan. Ia dirias di kamar kosong yang ada di rumah itu. Sebelumnya, sang MUA yang meminta agar disiapkan ruang khusus untuk memoles pengantin.
Selama satu jam, tara rias itu tak kunjung selesai. Perut Jesika berbunyi, ia merasakan lapar yang luar biasa karena lelah berjam-jam di make up.
"Lapar, Kak? Apa mau saya minta sarapan ke pembantu yang ada di rumah ini?" tanya MUA tersebut.
Jesika hanya menggeleng sembari menahan rasa lapar.'Ia tak bisa seenaknya memerintah apalagi baru tinggal beberapa jam di rumah itu.
****
Di kamar masing-masing, MUA khusus perias keluarga Alex sudah sibuk menata mama dan kakak perempuannya.
Bahkan, disaat Jesika merasakan kelaparan karena sudah sejam menunggu hingga selesai riasan, keluarga Alex baru memulai proses meriasnya.
"Bikin yang cantik, Kak!" ujar Ima dengan nada lemah lembut.
Penata rias itu hanya mengangguk seraya mengulas senyum dibibirnya. Dengan lihai, tangannya memoles make up pada wajah cantik Ima.
Meskipun sudah tua, wajah Ima justru lolos dari keriput. Sebab, ia sering melakukan perawatan untuk mengencangkan kulit-kulitnya agar tampak lebih muda.
Kedua kakak Alex juga sudah selesai dipolesi make-up. Keduanya sibuk saling membicarakan kecantikan Jesika.
"Kak, kira-kira perawatan apa yang dipakai si Jesika itu, kau lihat cantiknya bukan main!" ujar Kakak Kedua Alex—Beta Riana.
Ia memang suka memiliki iri dengki pada orang-orang yang memiliki kelebihan dibandingkan dirinya.
"Entah, pasti mahal lah itu, kau lihat aja kulitnya putih mulus tanpa celah!" sahut Kakak Pertama Alex—Juli.
"Iya, biasanya orang-orang kaya seperti kita pasti punya langganan untuk perawatan diri! Apa dia operasi plastik makanya bisa cantiknya nggak manusiawi gitu?" ujar Beta, tak kehabisan akal berpikiran negatif pada adik iparnya sendiri.
"Nggaklah, kau lihat mamaknya walaupun udah tua tapi masih cantik kali kok! Memang udah bawaan lahir itu dia punya kecantikan paripurna!" sambung Juli, wanita ini memang memiliki sikap yang baik dan penyayang.
Lagipula, tak ada alasan baginya untuk membenci Jesika yang sudah sah menjadi istri adik bungsunya.
"Ah, sok tahu kau, Kak!" sesal Beta, karena kakaknya tak satu suara dengannya.
Saat jam 6 pagi, semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Termasuk dengan Alex dan istrinya. Sebelumnya, Jesika memang meminta pada MUA untuk sarapan pagi setelah polesan make-up selesai.
Namun, ia belum mengenakan gaun pengantin agar memudahkan saat sarapan nanti. Karena merasa tidak enak untuk sarapan sendiri, akhirnya Jesika berinisiatif membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas.
Alex pun yang teringat pada acara resepsi kedua, langsung membulatkan bola matanya saat dibangunkan sekali oleh Jesika. Sebelum ia bergegas mandi, dirinya mengajak Jesika untuk sarapan sebelum perempuan itu yang mengajak duluan karena terserang rasa lapar.
"Ayo, kita sarapan dulu. Untuk acara resepsi agak siang jam 8 pagi, masih panjang waktunya!" ungkap Alex, menggandeng tangan istrinya menuju meja makan.
Saat pertama Jesika mendatangi meja makan, belum ada satu orang pun yang berada di sana. Namun, saat ia datang bersama Alex, kini semua keluarga sudah berkumpul dengan rias diwajahnya masing-masing.
Hanya Alex dan bapaknya yang masih berpenampilan dengan pakaian rumahan dan baru bangun tidur. Alex menarik kursi makan untuk Jesika, lalu ia duduk di sebelah sang istri.
"Sudah malam pertama kalian?" singgung Ima, membuka percakapan yang cukup frontal pagi ini.
Jesika hanya menatap penuh histeris, ia tak menyangka mertuanya bisa bertanya tentang hal tabu untuk pasangan suami istri yang belum saling mengenal satu sama lain.