Sinamotku

Sinamotku
pariban



Keluarga kecil itu sudah tiba di sebuah mall yang cukup besar berada di pusat kota Jogjakarta, mereka melenggang menyusuri mall, mencari beberapa tempat yang bisa disinggahi.


Untuk pertama kali, Alex merasa bahagia dan merasa haru karena ia sudah memiliki keluarga kecil, hanya tinggal membahagiakannya saja. Beberapa tempat menarik yang akan disinggahi oleh keluarga kecil itu yaitu satu arena permainan kidzone.


Ada berbagai permainan yang bisa membuat Aleandra bahagia. Meski dibatasi waktunya hanya selama satu jam saja tapi Alea langsung berlari untuk bermain setelah diperbolehkan masuk.


Sebelumnya, Alex sengaja membayar untuk dua pendamping sekaligus agar dirinya dan Jesika bisa masuk ke dalam mengawasi Alea selama bermain.


"Ma, Om aku mau main yang di kidzone itu aja karena banyak permainannya, ada perosotan juga,"'pinta gadis kecil itu kegirangan hingga melompat-lompat kecil.


Alex segera membayar untuk tiket masuk ke dalam kidzone tersebut, ia membayar 1 orang anak berikut 2 pendampingnya sekaligus. Ketiganya pun masuk ke area permainan, Alea terlihat sangat antusias, ingin mencoba perosotan serta berbagai permainan yang ada di sana.


Tak hanya itu, Alea juga bermandikan bola karena sangat banyak tumpukan bola yang berada di kolam khusus tersebut. Ia sangat senang dan heboh untuk mengajak mama dan papanya bermain bersama.


****


Maruli tengah berbincang dengan satu keluarga yang memang masih memiliki keterikatan persaudaraan dengan istrinya. Maruli akan menjodohkan anaknya dengan pariban Alex.


Pria tua itu, berniat untuk mencarikan istri untuk Alex karena selama 5 tahun terakhir, Alex selalu memilih untuk menyendiri. Bahkan seperti hilang rasa untuk menikah apalagi memiliki keturunan untuk penerus keluarga Sidabutar.


Dengan berat hati, Maruli akhirnya menjalin hubungan untuk menjodohkan anaknya dengan pariban yang berasal dari keluarga istrinya.


Pariban Alex ini, tampak sederhana yang merupakan anak dari tulang kandung—Yongki. Padahal, sang tulang dulunya menyaksikan pernikahan Alex. Bahkan ia menjadi seorang yang dituakan dalam keluarga tersebut. Namun, kini ia malah menjodohkan putrinya pada Alex berharap harta Alex Akan berpindah ke tangannya.


"Jadi gimana, Lae jadi kita nikahkan si Alex sama si Martha ini?" tanya Yongki.


"Jadilah, Lae karena Kasihan kali si Alex, sudah 5 tahun hidupnya selalu sendiri, istrinya kabur entah ke mana," beber Maruli.


"Jadi di mana rupanya sekarang bereku itu kerja?" balas Yongki, seraya memicingkan mata.


Yongki memang akhir-akhir ini tak pernah mendengar kabar tentang Alex, yang ia tahu Alex masih bekerja di ibukota dengan pekerjaannya yang mapan dan penghasilan yang cukup besar.


"Dia baru saja dipindahkan ke Jogja, jauh lah pokoknya tapi kalau gajinya sih tetap sama saja," ungkap Maruli, karena ia sudah mendengar cerita dari sang anak hanya dipindahkan tugas ke luar kota saja.


"Waduh, kalau itu kayaknya nggak bisa lah, soalnya rumah sakit yang di Jogja itu kan masih cabang rumah sakit pusatnya di Jakarta, dia kan terikat kerja di Rumah Sakit pusat itu tapi karena mereka baru membangun cabang yang berada di Jogjakarta, Alex diberi kesempatan untuk ditugaskan di Rumah Sakit tersebut," papar Maruli.


"Oh ... jadi harus si Marta inilah yang ikut sama calon suaminya nanti, ya?" sosor Yongki, sembari menyesap kopi yang dihidangkan di ruang tamu.


"Ya begitulah, dulu pun seharusnya istrinya ikut sama dia ke Jakarta, tapi kan istrinya sudah kabur duluan sebelum mereka pindah ke sana. Alex jadinya pulang sendiri ke Jakarta," timpal Maruli.


Lalu, Maruli pun melakukan pembicaraan yang lebih ke persoalan inti perjodohan itu. Ia ingin segera mempercepat pernikahan, padahal Alex sendiri tidak mengetahui bahwa ia akan segera dijodohkan dengan paribannya.


"Jadi memang sudah pastilah si Martha ini bakal mau jadi calon istri anak kami, ya?" tanya Maruli, meyakinkan kembali iparnya tersebut.


"Iya, sudah pasti kok, Lae! Pasti mau dia karena memang kan dia tidak melanjutkan kuliah lagi, tahu sendirilah keuangan kami bagaimana. Jadi dia langsung bekerja saja, membantu-bantu di ladang," tandas Yongki tanpa rasa segan.


Maruli berpikir sejenak mengenai latar belakang pariban Alex—Martha, memang sangat jauh berbeda dengan menantunya dahulu yaitu Jesika yang merupakan anak orang konglomerat di desa mereka, bahkan pendidikannya juga sangat tinggi sehingga tak ada kekurangan bagi perempuan itu untuk dijadikan seorang istri.


Sementara, Martha yang dijodohkan dengan Alex hanyalah berasal dari keluarga miskin. Bahkan tak sampai mengemban pendidikan hingga di bangku kuliah. Maruli pun sedikit bimbang dengan keputusannya.


"Yaudahlah, pokoknya kita jadikan aja perjodohan ini. Minggu depan kita akan mulai marhata sinamot, berapa lah yang cocok untuk meminang si Marta," tegas Maruli, dengan pasrah karena ini adalah solusi terakhir agar sang anak bisa menikah dan bisa memiliki keturunan sebagai penerus keluarga Sidabutar.


"Iya, gampanglah itu, tapi bagaimana status si Alex? Apa dia sudah bercerai dengan istrinya yang lama itu? Ke mana rupanya istrinya itu?" sela Yongki, kembali mengungkit persoalan mengenai Jesika.


"Entahlah kabur ke mana dia. Aku pun tidak tahu sampai sekarang, tidak pernah terlihat kedatangannya. Untuk pernikahan mereka belum resmi bercerai tapi aku akan mendesak Alex untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan!" ungkap Maruli, dengan tegas.


"Loh ... apakah bisa menggugat tapi orangnya tidak kelihatan? Orangnya saja kita tidak tahu di mana!" desah Yongki, sembari mengernyitkan alis lantaran merasa kebingungan.


Obrolan itu pun semakin meluas entah ke mana-mana, mereka membicarakan kekurangan Jesika hingga mulai menyiapkan strategi untuk proses perceraian Alex agar bisa lebih mudah dilakukan.


"Jadi, nanti minggu depan si Alex bakal datang nggak?" lanjut Yongki, seraya mengedarkan pandangan karena memang Alex tidak berada di sana, dan proses perjodohan sudah seharusnya meminta Alex untuk pulang dan mengikuti prosesinya.


"Nanti ku hubungi dulu lah si Alex, biar kusuruh dia pulang ke kampung ini, supaya kita bisa melanjutkan marhata sinamot dan lanjut ke proses yang lebih sakral lagi," sosor Maruli.


Percakapan tentang perjodohan masih dilakukan oleh Maruli dan iparnya. Mereka belum menyangkut pautkan dan mengabari seluruh pihak keluarga. Karena ini masih proses percakapan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.