Sinamotku

Sinamotku
100 ribu



"Aku mau rasa coklat, Om," kata Alea.


Kemudian, Jesika juga ikut menyambar dan menjawab pertanyaan Alex. "Kalau aku strawbery deh."


Alex menghampiri pelayan yang menjual es krim, lalu menyampaikan pesanannya. "Mbak saya pesan coklat 1 strawberry 1 dan 1 lagi rasa vanila."


Ketiganya masih berdiri menunggu hingga pesanan dibuatkan oleh pelayan tersebut. Tak lama, mereka sudah menerima tiga cup es krim untuk di santap, sambil berjalan menyusuri Mall mereka memakan es krim tersebut.


"Alea, gusinya masih sakit nggak?" tanya Alex seraya menatap lekat wajah putri kecilnya.


"Enggak kok, Om!" jawab Alea dengan polos, padahal sebenarnya ia tengah menahan sakit karena saat menyantap es krim meski gusinya terasa dingin dan ngilu.


"Ah yang benar? Gusi kamu kan baru dijahit tadi pagi, pasti sakitlah apalagi makan es krim kayak gitu," timpal Alex seraya tak melepaskan pandangannya dari putih kecilnya meskipun mereka sambil berjalan beriringan.


"Sudah biarkanlah, Bang kan dia yang ingin makan es krim, mudah-mudahan nggak papa gusinya," sanggah Jesika, menangahi perdebatan antara papa dan anak tersebut.


Alex hanya mengangguk menuruti perkataan istrinya, lalu ia pun tetap menggandeng satu tangan anaknya yang tidak memegang cup es krim. Keduanya sangat akrab, terlihat jelas seperti jalinan seorang ayah dan anak.


"Jas, apa kau lapar?" tanya Alex, kembali beralih menatap istrinya tapi tangannya hanya menggenggam tangan Alea saja.


Sedangkan tangan Jesika malah menganggur karena tak dapat jatah genggaman dari Alex. Hanya satu tangan yang bekerja saat sibuk untuk menyantap es krim yang diberikan oleh pria itu.


"Iya, Bang aku lapar, soalnya tadi aku belum makan di rumah. Kalau Alea sih sudah aku kasih makan sebelum kita berangkat," ungkap Jesika.


"Yaudah, kalau gitu kita makan dulu, terserah manti Alea mau makan apa enggak!" sosor Alex, melihat gadis kecil itu sangat antusias menikmati es krimnya.


"Enggak, Om! Alea Masih kenyang soalnya tadi udah disuapin sama mama," tutur Alea sambil menyesap es krim.


"Ya terserah Alea deh. Kalau gitu kita ke salah satu restoran aja, siapa tahu nanti Alea mau pesan yang lain," ucap Alex, lalu menghabiskan es krimnya agar tangannya bisa berfungsi keduanya untuk menggenggam tangan istri dan anaknya sekaligus.


Jesika dan Alea mengangguk, menuruti keinginan pria itu. Sebab, sudah memasuki jam 7 malam, karena tak terasa mereka sudah berada di dalam mall 1 jam lebih lamanya.


***


Dengan rasa sedikit penasaran akhirnya Fay memberanikan diri untuk menghubungi Jesika. Namun, saat ia hendak menguhubunginya, tiba-tiba ponsel itu berdering, ternyata ada sebuah panggilan dari Mutia—perempuan yang dijodohkan dengannya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Fay langsung mengangkat sambungan telepon tersebut. Ia pun menyapa Mutia dengan baik-baik untuk memberikan kesan yang baik pada perempuan yang dijodohkan padanya


"Halo ... ada apa, Mutia?" ujar Alex.


Saat pertemuan pertama, mereka memang sudah janjian untuk melakukan pertemuan kedua hingga ketiga kali lagi. Sebelum memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan perjodohan tersebut, saat mau berpisah, keduanya saling bertukar nomor ponsel.


"Halo ... Bang, kira-kira kapan kita bisa ketemu lagi untuk kencan kedua?" ucap Mutia tak sabaran, sebenarnya ia ingin sekali bertemu lagi dengan Fay setelah beberapa hari mereka tak ketemu setelah melewati pertemuan pertama kali saat melakukan kencan buta.


Fay baru saja menghempaskan tubuh di atas ranjang, meski masih mengenakan setelan pakaian kerja.


"Kali ini Abang yang harus nyamperin aku. Tolong jemput aku ke rumah, nanti akan aku pilihkan tempat untuk kita berkencan," jawab Mutia dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Baiklah kalau begitu besok saya akan jemput kamu sekitar pukul 7 malam karena jam segitu saya baru selesai bekerja," ucap Fay.


Fay memang tak ingin segera menemui Mutia karena ia masih banyak pekerjaan yang harus diurus di kantor. Setiap harinya, Fay selalu pulang malam tidak sesuai dengan jam pulang kantor.


"Baiklah, Bang kalau begitu nanti tolong kabari aku kalau Abang sudah sampai di rumah, nanti aku akan kirimkan pesan untuk alamat rumahku," sahut Mutia, sembari mematikan sambungan telepon itu.


***


"Yes, yes, yes, aku kencan lagi sama Bang Fay!" Mutia menari-nari mengitari kamar.


Ia semakin tak sabar ingin melakukan kencan kedua dengan harapan bahwa perjodohan itu akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Dengan adanya keinginan Fay untuk melakukan kencan buta sebanyak tiga kali, artinya Mutia memiliki kesempatan untuk memberikannya peluang sebagai calon istri pria itu.


"Mudah-mudahan saja, Bang Fai benar-benar menerima aku sebagai calon istrinya," batin Mutia dengan semangat.


Namun, tiba-tiba dia mendapatkan panggilan telepon dari pacarnya.


Drt ... drt...


Awalnya Mutia tampak mengabaikan panggilan telepon pertama tapi setelah berkali-kali ditelepon oleh sang pacar, akhirnya Mutia menyerah dan mengangkat panggilan telepon tersebut karena sangat mengganggu baginya. Sebab, sang pacar yang terus saja mencoba menghubunginya tanpa henti hingga ponselnya terus berkedip.


"Halo ... Sayang dari mana aja? Kenapa teleponku tidak diangkat-angkat!" keluh pria yang di gadang-gadang sebagai pacarnya Mutia—Brian itulah panggilan yang sering di sebut sebagai nama pria itu.


"Oh ... maaf, Sayang aku tadi habis dari kamar mandi. Tidak kedengeran ada panggilan telepon darimu. Ada apa, ya?" tanya Mutia pada pacarnya.


"Tolong kirimkan aku uang, sebab aku belum makan seharian. Mamaku tidak masak karena tidak ada uang!" tandas Brian tanpa rasa malu.


Entah mengapa dia malah sering sekali meminta uang pada pacarnya. Bahkan Mutia pun selalu menurut saja apapun yang diminta oleh pria itu karena Mutia selalu mengajak Brian untuk pergi menemui teman-temannya. Bryan memiliki paras yang sangat tampan hanya saja dia sangat miskin. Brian adalah pria yang patut diajak untuk dipamerkan pada teman-teman Mutia.


Namun, entah mengapa semenjak bertemu dengan Fay, rasanya Mutia tak ingin lagi mengenal Brian. Apalgi pacarnya itu hanya menjadi benalu baginya. Bahkan Brian tidak memiliki uang apalagi dia sering meminta uang pada Mutia dan membuat perempuan itu menjadi jengkel.


"Kau butuh berapa?" cecar Muria, tanpa basa-basi.


Mutian enggan lama-lama berkomunikasi dengan pria itu, ingin sekali rasanya Mutia memutuskan hubungan jalinan kasih diantara mereka.


"Kirimkan aku 100 ribu saja. Aku ingin membeli makanan untuk makan malamku," kata Brian tanpa rasa segan.


Pria itu sudah terbiasa meminta-minta pada pacarnya karena Brian tahu kalau Mutia adalah seorang anak yang kaya raya dan bisa dimanfaatkan. Brian terus memanfaatkan Mutia selama kesempatan ada pada dirinya.