
Sementara, Jesika belum menyadari karena belum melihat wajah Alex dengan jelas karena masih terhalang sedikit bagian tirai. Tapi saat ia berjalan mendekati, akhirnya bisa menangkap wajah Alex yang menatapnya dengan tatapan tajam.
Alex melihat Jesika dengan tajam dengan rasa penasaran yang terus bertanya-tanya, lalu bergantian menoleh pada gadis kecil itu. Seorang gadis kecil yang berada di tangannya, sedang mendapatkan proses penanganan untuk memperbaiki gusi.
Rasa tak percaya dengan pandangan yang saat ini nyata dihadapannya, akhirnya lamunan Alex buyar lantaran saat itu ditatapnya oleh seorang perempuan yakni istrinya yang sudah memiliki seorang anak kecil berusia 4 tahun.
Alex, masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Bibirnya sampai tak bisa membuka karena sangat merasa terkejut dengan yang dialaminya hari ini. begitupula dengan jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya.
"Bang Alex?" ucap Jesika, saat mulai mendekati Alex.
Lalu, Jesika juga melirik sang anak yang sedang terduduk lemah untuk mendapatkan penanganan dan terlihat sangat memprihatinkan.
Entah mengapa di dalam benak Jesika seperti ada terasa kerinduan saat ia menatap Alex lebih dalam lagi. Bahkan, Jesika tak bisa marah ketika melihat pria itu. Mungkin karena kini ditengah-tengah mereka ada seorang anak kecil yang sudah menanti sejak lama keinginan untuk bertemu sang papa.
Alex terdiam sejenak saat menatap Jesika yang masih terlihat terkejut. Keduanya bahkan tidak pernah menduga hal ini bisa terjadi.
Alex semakin larut dalam pikirannya, ia tak menyangka bisa bertemu dengan perempuan itu di kota kecil seperti ini.
Apalagi, Yogyakarta adalah tempat yang jauh dari desa asal mereka, sehingga membuat Alex tak percaya dengan apa yang terjadi.
Kemudian, Alex berlari mendekati Jesika, lalu memeluknya dengan erat tanpa membuka sarung tangan serta tanpa melepaskan peralatan yang masih ia pegang seperti gunting hingga benang untuk menjahit gusi anaknya.
"Maafkan aku, Jes aku sudah lama mencarimu," lirih Alex, sembari menangis terisak-isak tanpa malu.
Sementara orang-orang yang ada di sana menatap dengan tatapan yang aneh termasuk guru paud yang menatap dengan rasa kebingungan.
Sama halnya dengan seorang perawat yang merasa kebingungan dengan situasi saat ini. Tapi tidak dengan gadis kecil itu, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sana, antara mama dan lelaki itu.
Tetapi gadis kecil itu hanya bisa diam, sebab jika ingin bersuara pun tidak bisa karena mulutnya terkunci rapat dengan sebuah alat yang membelenggu mulutnya. Sebuah cheek retractor berada di tengah-tengah mulutnya.
Aleandra hanya menatap dengan penuh rasa penasaran saat sang Mama dipeluk oleh seorang pria tampan, tepatnya sang dokter tampan yang saat ini menanganinya. Rasa curiga mulai ia taruh jauh di lubuk hati terdalam.
Sementara itu, Jesika masih terdiam saat tubuhnya berada dalam dekapan Alex. Pria itu terisak-isak tanpa henti seperti merasa bersalah karena telah mengusir Jesika saat malam pertama mereka. Tangisnya mulai pecah saat Jesika tak berkutik bahkan tak menolak pelukannya.
Setelah tangisnya mulai agak mereda, Jesika mulai mengendurkan pelukan, memberikan jarak antara tubuhnya dan tubuh Alex. Seketika, pelukan itu pun segera renggang, lalu Jesika hanya terdiam, mulutnya bak terkunci tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Jesika sebenarnya menyesali karena selama 5 tahun terakhir tak mengabari bahwa mereka berdua sudah memiliki seorang putri yang seharusnya bisa mereka rawat bersama.
Karena Alex termenung saat diam berdiri, akhirnya Jesika membuka suara. Orang-orang yang menatap mereka berdua pun ikut tersadar.
"Tolong, Bang tangani Alea dulu, aku tidak ingin dia merasa kesakitan," imbuh Jesika, memecahkan lamunan Alex yang langsung mengusap buliran bening yang membasahi kedua pipi dengan sisi lengannya.
Alex kemudian membalikkan badan, menatap gadis kecil yang berada di kursi pasien, tatapannya penuh nanar. Ia menduga gadis kecil itu adalah benar-benar putrinya. Nama Aleandra sepintas terdengar ditelinga Alex saat Jesika meneriakkannya saat membanting pintu kala ia masuk ke tuangan.
Nama itu tidak jauh berbeda dengan nama lengkapnya yakni Alexander Sidabutar, pria itu semakin penasaran dengan marga yang menjadi nama belakang anak tersebut.
Namun, Alex belum bisa meminta penjelasan itu pada Jesika saat beberapa orang masih berada di dalam ruangan. Ia segera melanjutkan penanganan yang tadi sempat tertunda karena adegan dramatis yang dilakukannya bersama Jesika.
Tak lama, Alex kembali menjahit gusi gadis kecil itu, setelah menyelesaikan tugasnya, Alex masih melakukan pemeriksaan pada gigi yang patah.
Dalam batin Alex, kini ia bertanya-tanya apakah gadis kecil itu adalah anaknya? Atau pikiran buruk pun mulai menghantui Alex, menganggap Jesika sudah memiliki suami lain. Namun, yang Alex tahu bahwa dirinya dan Jesika belum resmi bercerai.
Alex hanya bisa menerka-nerka dengan berbagai pikiran buruk yang menyelimuti pikirannya. Sementara Jesika hanya menelisik kondisi anaknya yang sedang mendapatkan penanganan dari dokter Alex.
Sekali-kali, ia juga mencuri-curi pandang, melihat tubuh Alex yang masih tampak gagah tetapi tidak dengan raut wajah yang tampak berbeda saat mereka pertama kali kenal. Wajah itu pun terasa dingin saat menatap orang lain. Tapi tidak saat menatap wajah Jesika yang tiba-tiba berubah menjadi sendu.
Memang Alex, menunjukkan raut wajah yang dingin, seperti seorang pria yang tak lagi mengharapkan wanita di sampingnya. Entah mengapa sejak ditinggalkan oleh Jesika, ia dengan mudah sudah bersikap demikian. Bahkan sangat ketus pada perempuan lain.
"Bang Alex, kenapa wajahnya berbeda saat pertama kali kami bertemu, dia bukan seperti Bang Alex yang dulu," lirih Jesika dalam batin.
Jesika merasa Alex memang benar-benar merasa frustasi atas kepergiannya, bahkan Jesika akhirnya tersadar kalau Alex memang mencarinya seperti yang dikatakan Rini dulu.
Apalagi, Alex sengaja menghubungi sahabatnya untuk mencari kabar tentang keberadaan dirinya tapi Jesika bahkan menolak dan hingga selama 5 tahun terakhir tak pernah mau menghubungi Alex sama sekali.
Kali ini, rasa sesal menggebu di dalam hatinya. Ia seperti seorang perempuan yang jahat telah memisahkan anak kandung dengan sang papa yang seharusnya gadis kecil itu berada disisi Alex.
Saat Jesika menyaksikan kedekatan antara Alex dan Aleandra, Jesika merasa prihatin. Ia ingin terang-terangan mengaku kalau anak yang ditangani pria itu adalah anak kandungnya.
Tapi, rasa takut dan khawatir kalau Alex tidak akan menerima anak itu justru lebih besar menggeluti hati Jesika.
"Bagaimana ini, apakah aku harus jujur pada Bang Alex? Apalagi Alea terus mendesak tentang keberadaan papanya, apakah Alea akan menerima Alex sebagai papanya?" Jesika semakin larut dalam pikiran sendiri.