Sinamotku

Sinamotku
Pasu-pasu



Setelah acara pemberkatan selesai, seluruh jemaat yang hadir bergegas menuju gedung tempat pelaksaan resepsi. Jesika dan Alex digiring menggunakan mobil pengantin.


Sepanjang jalan, Alex menciumi tangan Jesika. Tak sabar rasanya ingin segera menyentuh istrinya berdua saja. Sementara, Jesika hanya malu-malu menatap suami yang belum sepenuhnya ia kenal.


Pria itu memang menatap penuh godaan, setelah sah menjadi suami istri, tidak ada halangan bagi Alex untuk melayangkan kecupan ataupun bersikap romantis. Tentu saja, Jesika sangat menyukai perlakuan itu.


Pengantin beserta keluarganya tiba di gedung mewah yang berada di pedesaan itu. Gedung yang disewa selama dua hari hingga esok, tempat di mana resepsi berlangsung.


Alex menggenggam tangan istrinya, berjalan di atas karpet merah yang terpasang dari depan gedung hingga masuk ke dalam. Suara musik mengalunkan perjalanan sepasang penngantin yang sangat mesra.


Bahkan, tamu undangan juga sudah memenuhi ruangan, menantikan acara resepsi yang megah dan mewah. Suara gendang juga memeriahkan, usai lantunan musim melankolis pengiring pengantin berlalu.


Dalam acara resepsi, penyampaian pasu-pasu sesuai random acara akan ,mulai digelar. Pembawa acara mengarahkan acara sesuai dengan random.


Sebelum pasu-pasu dilaksanakan, penyampaian pidato adat yang pertama kali disampaikan oleh para tetua dari masing-masing perwakilan keluarga.


Seluruh tamu undangan menyambut dengan meriah. Baru kali ini, mereka menyaksikan pernikahan yang megah, berbeda dari biasanya. Mungkin, karena yang menggelar acara ini adalah bagian anak konglomerat di desa mereka.


Dari perwakilan keluarga Alex, tulangnya—Yongki menyampaikan pidato tentang pernikahan tersebut. Yongki berpesan, agar Alex menjaga istrinya, menjaga keutuhan rumah tangga hingga maut memisahkan.


Sementara, perwakilan dari keluarga Jesika, udanya—Lamber menyampaikan tetuah untuk pasangan suami istri yang sebentar lagi bisa memadu kasih.


"Kepada anakku Jesika serta suaminya, aku doakan pernikahan kalian langgeng, berlangsung hingga opung-opung, tidak ada yang bisa melepaskan ikrar janji yang suci, yang sudah kalian sampaikan di hadapan Tuhan!" pesan Lamber setelah menyampaikan pidato yang panjang lebar.


Tak hanya itu, acara pasu-pasu pun di mulai. Tarian tor-tor mulai dipertontonkan, untuk keluarga yang akan menyampaikan ulos pasu-pasu.


Musik berdendang, pertama kali, Uda Jesika—Lamber, menortor untuk menyampaikan ulos ragi hotang, ulos ini diberikan pada keluarga Alex, diberikan pada namborunya.


Kemudian, tulang Jesika-Kombur menari tor-tor, memberikan ulos. Kombur menortor dengan hebohnya, memeriahkan acara hingga membuat tamu bersorak-sorak.


Setelah menyerahkan ulos, Kombur menerima uang sinamot yang diberikan oleh keluarga Jesika. Sinamot disematkan di dalam amplop, bahkan terlihat sangat tebal.


Hal itu membuat Kombur semakin bahagia. Ia menerima hasil sinamot untuk penyerahan anak gadis dari keluarga besar Bernard.


"Horas! Horas! Horas!" teriak Kombur di akhir musik, setelah musik hampir selesai.


Selanjutnya, kedua orang tua Jesika pun ikut menari. Menyampaikan ulos pengantin, Bernard dan Irma menortor dengan riangnya, mengantarkan anak satu-satunya yang sudah dipinang oleh pria mapan yang tampan.


Setelah menari-nari tanpa henti, sekitar 10 menit, hingga akhirnya kedua orang tu itu menyematkan ulos di punggung kedua pengantin, lalu menyimpulkan ujung tali ulos di depan dada sang pengantin.


Tak hanya itu, Bernard dan Irma juga menyerahkan sebuah sarung, yang disebut sebagai sarung hela. Nantinya, sarung itu akan digunakan Alex, dalam setiap acara apapun yang digelar oleh keluarga mereka terutama untuk marhobas.


"Ini ulos dan sarung, jangan sampai hilang, ya, hela! Jaga anak kami, sebagai mana kami menjaganya mulai dari kecil hingga dewasa," pesan Bernard memberikan sedikit wejangan setelah musik terhenti.


Alex pun hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab dan memastikan kalau ia tak akan pernah mengecewakan pesan kedua orang tua Jesika.