
Alex hanya menggelengkan kepala. Sementara, Jesika terdiam seribu bahasa tak berani menjawab pertanyaan mertuanya.
"Kenapa?" tanya Beta, mulai penasaran dengan adik dan iparnya mengapa tak melakukan hal seintim itu.
"Kan hari ini harus bangun pagi, mana sempat ada acara malam pertama!" jawab Alex dengan dingin dan ketus.
Sontak, Jesika pun terkejut dengan Alex yang bersikap seperti itu. Lebih baik, ia mengunci mulutnya rapat-rapat, tak berani menjawab ataupun sampai salah mengucap.
"Malam pertama biasanya cuma setengah jam paling lama, nggak sempat apanya!" seloroh Ima, masih membicarakan hal itu.
"Argh! Payah mamak, nggak bisa kami! Sudah perjanjian juga, hanya ada malam kedua. Artinya nanti malam baru bisa merasakan hal itu!" tutur Alex, mengungkap dengan lesu kepada seluruh keluarga.
Juli pun terkekeh mendengar ucapan Alex. Rasanya, adik bungsunya itu seperti membuat guyonan dipagi hari. Bagaimana mungkin sepasang suami istri bisa menahan nafsunya di malam pertama?
Apalagi, mereka sudah tidur dalam sekamar berdua tapi memang itulah yang terjadi pada Jesika dan Alex.
"Kau serius, Lex? Kalian belum malam pertama!" kekeh Juli, menertawai adik siapudannya.
Alex pun hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Berarti takdirmu di malam kedua!" bisik Juli, kembali menertawai adiknya.
Semua orang pun tertawa kecuali Jesika dan Alex yang masih merasa bingung dengan respon orang-orang sekitar. Jesika jadi merasa bersalah telah menolak ajakan suaminya untuk melakukan hubungan suami istri.
"Maaf, Bang!" lirih Jesika, berbisik di dekat telinga Alex.
Alex hanya tersenyum menatap istrinya. Ia jadi tak tega melihat wajah cantik itu merasa diledeki oleh keluarganya.
"Memangnya apa yang salah kalau belum malam pertama? Hari masih panjang kok!" gerutu Alex, tersenyum sinis memelototi keluarganya secara bergantian.
Beta berdiri dari kursinya, menepuk bahu Alex spontan, lalu tertawa ringan. "Iyah, masih panjang kok, Ito! Jadi kau harus lebih bersabar!" cibir Beta, kembali duduk di kursi.
****
Jam 7 pagi, semua orang sudah berkumpul di halaman rumah Alex. Jesika, sudah dibantu oleh beberapa maid mengangkat ujung gaun pengantinnya agar tidak kotor.
Sementara itu, Alex sudah gagah mengenakan setelan tuxedo. Di hari kedua, ia memang menggunakan tuxedo untuk acara resepsi.
Sedangkan Jesika, mengenakan gaun pengantin dengan model gaun pilihan suaminya. Keduanya sangat cantik dan tampan, Alex memegangi tangan istrinya, lalu menghalangi pintu agar kepala sang istri tak terpentok pintu mobil.
Pasutri itu sudah berada di dalam mobil pengantin. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, beriringan dengan mobil mewah lainnya serta bus besar yang mengangkut keluarga Alex dari berbagai daerah.
Kali ini, gedung yang digunakan berbeda dengan gedung saat acara resepsi pertama. Gedung ini lebih minimalis, sangat mendukung untuk acara resepsi bertema nasional.
****
Pengantin memasuki gedung, duduk santai dipelaminan. Kedua orang tua mereka masing-masing berada di samping pengantin.
Irma—Mama Jesika, memberikan dompet anaknya yang tertinggal di rumah. Kemarin, Jesika memang tak membawa apapun, hanya membawa dirinya saja.
"Jaga dompetmu baik-baik, jangan sampai hilang!" ujar Irma, menatap lekat anaknya yang duduk di pelaminan.
Jesika menitipkan dompet itu di kantong tuksedo suaminya. Alex pun mengiyakan saja, karena itu adalah milik istrinya.
Di dalam dompet Jesika, sangat lengkap berisi uang tunai serta ATM pemberian ayahnya. ATM itupun berisi uang yang banyak, bahkan tak akan habis meski digunakan bertahun-tahun oleh Jesika.
Beberapa jam berlalu, Alex dan Jesika sibuk bersalam-salaman dengan tamu yang datang menyapa. Tak sedikit kerabat jauh dari keluarga Jesika yang hadir pada resepsi kedua.
Tak hanya itu, Jesika juga bertemu teman-teman lamanya yang pernah mengemban pendidikan pada kampus yang sama.
Jesika juga mengenalkan seorang sahabat yang kerap menemaninya semasa kuliah. "Bang, kenalin ini, Rini sahabatku waktu kuliah. Sekarang kami terpisah karena Rini tinggal jauh di Jogja!" ungkap Jesika.
Rini mengulurkan tangan pada Alex, lalu tersenyum dengan ramah. Ia tak menyangka bisa menghadiri acara pernikahan teman kuliahnya dulu. Sudah dua tahun lamanya, mereka terpisah usai lulus dari kampus ternama di kota medan.
"Salam kenal saya, Alex!" ujar Alex, menjabat tangan Rini serta tersenyum dengan ramah.
"Saya, Rini, Bang!" tandas Rini.
Setelah itu, Rini pun memeluk sahabatnya. Bahkan, tak terasa buliran bening sudah membasahi pipi keduanya. Ada rasa rindu yang menggeluti hati keduanya.
Dulu, hari-hari semasa kuliah dimanfaatkan Rini dan Jesika untuk bermain dan membolos. Bahkan, Rini dan Jesika kerap menggoda para senior yang dirasa memiliki paras yang tampan.
Namun, karena wajah Jesika sangat cantik, semua senior yang digoda itu malah jatuh kepelukan Jesika. Tak ada satupun yang mau berpaling pada Rini.
Meski begitu, Rini tak kesal pada sahabatnya. Itu malah menjadi bahan ledekan dan kenangan yang tak terlupakan oleh keduanya.
"Selamat, ya, Jes! Sekarang kau sudah bahagia! Sudah punya suami, berbahagialah!" pesan Rini, menepuk punggung Jesika kerena pertemuan mereka sangat mengharukan.
"Iya, doakan aku bisa memiliki rumah tangga yang harmonis dan bahagia!" balas Jesika, saling mengelus punggung sahabatnya.
"Amin! Semoga!" ujar Rini, mengendurkan pelukan itu, lalu tersenyum penuh kehangatan.
"Makan dulu, Rin! Apa kau menginap di daerah sini? Atau ke rumahku saja! Kapan kau pulang?" tanya Jesika, masih berada di atas pelaminan.
"Aku menginap di sekitar sini. Besok baru pulang, pesawatku take off sekitar pukul 12 siang!" jawab Rini, lugas.
"Baiklah! Kabari aku kalau mau berangkat, siapa tahu aku bisa mengantarkanmu tapi tidak ke bandara karena butuh waktu lama ke sana, haha!" jelas Jesika.
"Siap, sobat!" ucap Rini, kemudian melambaikan tangan dan turun dari pelaminan.
Jesika menyeka air mata yang membasahi pipinya. Tak disangka, ia bisa bertemu lagi sahabatnya yang sudah dua tahun terpisah. Untung saja, ia masih memiliki nomor telepon Rini, sehingga bisa mengabari sahabatnya beberapa hari sebelum resepsi berlangsung.
Jesika dan Alex kembali sibuk menyambut tamu-tamu yang datang. Kali ini, teman-teman Alex dari ibu kota pun datang menghampiri.
"Bro!" Tiga orang laki-laki melambaikan tangan pada sepasang mempelai di pelaminan, Alex pun membalas lambaian tangan tersebut.
Ketiga orang itu masih mengantre di belakang, menunggu sampai tamu-tamu yang lain selesai bersalaman dengan pengantin.
Setelah mendekat, ketiga orang itu bernama Rinto, Rizky, dan Putra mulai bersalaman dengan mempelai di pelaminan.
"Selamat, ya, Bro! Kita jauh-jauh loh datang kesini!" ucap Rizky, memberikan pelukan persahabatan untuk Alex.
Rizky pun menatap pengantin wanita yang sangat cantik dan anggun. Ia juga memberikan selamat pada wanita itu.
Lalu, kini giliran Rinto, ia memberi ucapan dan doa untuk temannya di satu rumah sakit. Rinto sangat dekat dengan Alex, meskipun mereka tidak satu spesialis. Rinto adalah dokter kandungan lulusan dari universitas yang sama dengan Jesika.
"Selamat, Bro! Semoga kau bahagia dan memiliki anak yang banyak!" tutur Rinto, memberikan doa yang tulus.
Namun, langkah kakinya terhenti saat menatap wajah perempuan yang telah lama dikenalnya. Perempuan itu masih diingat jelas sebagai mantan terindah baginya.