Sinamotku

Sinamotku
meeting



"Jadi kau menganggap dia sudah tidak suci? Lalu, kau juga tadi menuduhku telah merenggut kehormatan Jesika?" seloroh Rinto, lantaran kesal, ia memaki-maki Alex walaupun hanya didalam batin.


"Sejak awal aku sudah menuduhnya tak lagi suci. Oleh karena itu aku memutuskan hubungan dengannya, aku mengatakan bahwa pernikahan itu dibatalkan atau kalau tidak bisa, perceraian lah yang akan menjadi akhir hubungan kami!" tukas Alex, meratapi kebodohannya.


Rinto hanya berdecak dengan kesal lantaran merasa Alex adalah pria yang bodoh. Bagaimana mungkin seorang dokter tidak mengetahui kondisi langka seperti yang dialami oleh istrinya.


****


Huek ... huek ...


Jesika merasakan mual saat bangun tidur, sudah seminggu ini, dia merasakan mual yang luar biasa di pangkal kerongkongan. Saat ia mencoba memuntahkan, tak ada satupun yang keluar dari mulutnya.


Setelah sebulan tinggal di Jogja, Jesika sudah merasa nyaman. Bahkan, ia memiliki tetangga yang baik. Tak hanya itu, dirinya juga sudah mendapatkan pekerjaan berbekal rekomendasi dari sahabatnya Rini.


Meski ijazah berada di rumah orang tuanya, berkat Rini yang merekomendasikan Jesika pada bosnya menjadi seorang sekretaris, ia pun diterima kerja di perusahaan yang sama.


Apalagi, Rini sudah mengetahui jejak Jesika dari lulusan dari kampus ternama yang sama dengan dirinya di kota Medan.


Penampilan cantik Jesika pun menunjang kinerjanya sebagai seorang sekretaris, ia berhasil menjadi sekretaris bagi CEO perusahaan besar dibidang kargo. Perusahaan utama yang menangani seluruh anak perusahaan kargo yang tergabung dalam proses pengiriman barang di seluruh negeri ini.


Karena bekerja di perusahaan yang sama, Jesika dan Rini pun bisa sering bersama.


Huek ... Huek ...


Teriakan suara muntahan dari mulut Jesika tak henti-henti. Ia terus mencoba memuntahkan sesuatu tapi tak ada satupun yang keluar.


Tak hanya mual, rasa pusing kerap menyergap kepala Jesika. Seperti sekarang, ia tengah memijit pelipis lantaran rasa pusing yang terus mendera. Sampai saat ini, Jesika belum mengetahui mengapa rasa mual dan pusing terus menyerang, terutama saat di pagi hari.


"Aduh, kenapa kepalaku terasa berat," lirih Jesika, hendak berangkat ke kantor, memang sesuai permintaan sang bos, pagi itu janjian berangkat jam 10 pagi karena ada jadwal meeting di luar kantor.


Bos Jesika sebagai seorang CEO akan menjemputnya, memang ada meeting yang akan dihadiri bersama Jesika. Ia selalu suka di dampingi oleh sekretarisnya ke mana pun pergi untuk kegiatan kantor.


Sebelum jemputannya datang, Jesika bolak-balik berlari ke wastafel karena ia tak kunjung mengeluarkan isi perut tapi rasa mual terus menyerang. Ia berkali-kali mengusap sudut bibirnya untuk menghilangkan bekas air liur yang berada di sana.


Pikiran Jesika masih positif, ia menganggap bahwa kemualannya hanyalah karena masuk angin.


Selama seminggu ini, Jesika terus merasa mual sampai ia tak fokus bekerja. Pagi itu, Rini juga sudah berangkat lebih dulu sehingga Jesika lebih leluasa untuk menunggu kedatangan bosnya.


Bosnya adalah CEO muda, bernama Fay Sipayung, ia sendiri datang untuk menjemput Jesika. Sejak sebulan penuh, Jesika memang merasa nyaman di dekat bosnya. Apalagi setelah diketahui kalau mereka sama-sama berasal dari keluarga batak.


Jesika yang memiliki paras sangat cantik, membuat Fay tertarik. Saat ini, setelah membersihkan diri di kamar mandi, ia susah payah mencoba memuntahkan isi perut yang mengganggu kerongkongannya.


Namun, tak ada hasil, hingga akhirnya Jesika pun berniat untuk memanggil seorang tukang pijat agar membantunya untuk menghilangkan rasa masuk angin tersebut, tentunya sepulang kerja nanti.


****


"Aku ini seorang dokter gigi, kenapa kau katakan bodoh!" hardik Alex, tak terima.


"Apalagi kalau bukan bodoh? Kenapa kau bisa berprasangka buruk hanya karena Jesika tidak mengeluarkan darah saat malam pertama. Pertanda seperti itu bukanlah menunjukkan keperawanan seseorang!" sesal Rinto, menatap sinis.


"Apa yang kau maksudmu?" sahut Alex, menggaruk tengkuknya meski tidak gatal.


"Iya, tidak semua perempuan bisa memiliki selaput darah, darah merah yang keluar saat malam pertama itu namanya selaput darah. Kondisi seperti itu memang langka tetapi ada saja perempuan yang mengalaminya. Dan itu adalah hal yang lumrah, tidak ada yang perlu dipeributkan!" tegas Rinto.


"Ck!" decak Alex, seraya masih tak mengerti penjelasan dari Rinto karena sangatlah membingungkan.


"Jujur saja aku tak mengerti!" lanjut Alex, sembari memicingkan matanya, menatap dengan sengit sahabatnya.


"Ini zaman sudah canggih tapi pikiranmu belum mengikuti zaman ini! Coba kau cari tahu saja tentang kondisi medis itu, gunakan ponselmu, manfaatkan untuk mencari pengetahuan yang umum seperti itu!" ungkap Rinto.


"Kau jelaskan sajalah daripada aku semakin pusing memikirkan harus karena membaca di ponsel. Sampaikan dengan jelas agar aku mengerti!" timpal Alex.


"Jadi Jesika itu termasuk perempuan yang langka. Kau seharusnya sudah tahu setelah menikmati malam pertama, bagaimana rasa saat menjelajah lembah perempuan itu? Enak bukan? Dan sesak di dalam sana? Apa sudah melonggar!" cecar Rinto dengan tatapan sinis.


"Sesak sekali!" jawab Alex, datar.


"Nah, berarti memang dia belum pernah disentuh oleh pria lain. Apakah dia merasakan kesakitan pada inti itu?" tambah Rinto.


"Yang aku lihat, dia sepertinya kesulitan berjalan. Saat malam itu, dia berjalan sangat lambat!" jelas Alex.


Alex tampak frustasi setelah mendengar pertanyaan Rinto, pria itu berkali-kali menyugar rambutnya seraya menatap Rinto dengan tatapan yang tajam. Pantas saja, ia selama ini dihantui oleh wajah Jesika lantaran memang Jesika tak pernah menghianatinya ataupun berbohong sejak awal padanya setelah pernikahan itu terjadi.


Alex pun membuka ponsel, ia melaksanakan perintah yang diberikan oleh Rinto, mencari tahu tentang persoalan kondisi yang menimpa istrinya.


Setelah merunut penjelasan dari goggle, di mana kondisi medis Jesika menyatakan kalau ia bagian dari perempuan yang tidak memiliki selaput darah. Hal itupun terjadi karena memang sudah bawaan lahir atau terkena kecelakaan pada intinya saat kecil sehingga selaput darah itu menghilang.


"Jadi selama ini, aku salah sangka?" gumam Alex, seraya merutuki kebodohannya.


"Bagaimana? Apakah kau sudah mencari tahu penjelasan kondisi itu?" serang Rinto, dan Alex pun mengangguk.


****


Jessica telah menanti kedatangan bosnya di depan kos-kosan. Pemuda yang stylis itu tampak gagah mengenakan setelan jas. Bos muda itu melambaikan tangan pada Jesika, setelah membuka jendela kaca mobil, lalu memberikan senyuman terbaiknya.


"Jes, masuklah!" tandas pria itu.


Jesika pun mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil, duduk di kursi di sebelah bosnya. Entah mengapa, semua hal baik datang pada Jesika setelah ia dibuang oleh suaminya sendiri.


Memiliki bos perhatian bukanlah keinginannya, tetapi semua terjadi begitu saja. Bahkan, bosnya itu hanya berbeda dua tahun saja darinya tapi memiliki sikap dewasa.