Sinamotku

Sinamotku
berprasangka buruk



Satu Bulan Kemudian ....


Alex sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia memiliki seorang pasien dengan keluhan kondisi gigi yang tonggos sehingga ingin mendapatkan perawatan pasang kawat gigi untuk merapihkan kondisi itu.


Alex tampak sibuk didampingi oleh asisten, ia harus cabut dua buah gigi, masing-masing pada bagian gigi atas dan bawah, sehingga bisa mengurangi tingkat kemajuan pada struktur giginya.


Setelah menyelesaikan penanganan pada seorang pasien, tiba-tiba sahabatnya—Rinto datang menghampiri. Sudah sebulan penuh, setelah kepulangan Alex ke Jakarta, ia tak sempat menemui Alex karena kesibukan masing-masing.


Meski mereka praktek di rumah sakit yang sama tapi karena jadwal mereka yang terkadang berbeda, membuat keduanya sulit bertemu. Barulah saat ini, ada kesempatan bagi mereka berdua untuk bertemu dengan waktu yang lama.


Saat itu, jadwal praktek Alex pun sudah berakhir. Hal yang sama juga terjadi pada Rinto, ia baru selesai mengontrol pasiennya, lalu ingin menemui Alex karena lama tidak berjumpa.


"Istrimu di mana, Lex?" ucap Rinto, setelah dia duduk dengan santai di sofa, ruang kerja Alex.


Selama sebulan penuh, Rinto mendengar rumor bahwa Alex tak lagi bersama dengan istrinya. Bahkan, rumor semakin kuat menyatakan kalau pernikahan telah berakhir. Dan baru kali ini, Rinto memiliki kesempatan untuk menanyakan langsung mengenai gosip yang menyebar diseluruh bagian rumah sakit.


"Entah sudah pergi ke mana, aku pun tidak tahu!" jawabnya asal.


"Loh, kenapa raut wajahmu tiba-tiba berubah saat aku menyinggung tentang istrimu?" Rinto menatapnya dengan serius, memastikan kembali kalau raut wajah Alex benar-benar berubah.


"Sudahlah, aku malas membahasnya. Intinya aku dan dia sudah berpisah!" desah Alex, dengan enteng.


"Segampang itu kau mengatakan berpisah?Padahal baru saja menikahi dirinya, emangnya kapan kau berpisah dengannya?" kelit Rinto, ia merasa kecewa, mantan terindahnya disakiti oleh sahabatnya sendiri.


Setelah mendengar pengakuan Alex, Rinto tampak berpikir, ia merasakan keanehan pada Alex. Raut wajahnya pun sangat aneh lantaran merasa jengah saat mendengar nama Jesika.


Namun, Alex tiba-tiba merasa ingin terbuka pada Rinto serta menanyakan tentang kondisi Jesika yang langka setelah menikmati tubuhnya disaat malam pertama.


"Saat kau berpacaran dengan Jessica, apa saja yang kalian lakukan?" tanya Alex, menatap penuh selidik, menunggu jawaban sahabatnya dengan degupan jantung yang kencang. Ia bahkan tak terima jika dugaannya benar terjadi.


"Ya, kami pacaran seperti pasangan pada umumnya, kencan, nongkrong sama teman kampus, lalu menonton bersama." Rinto mengerutkan kening, sembari mencerna pertanyaan Alex yang sangat aneh.


"Apakah kalian melakukan lebih dari itu?" tanya Alex, frontal tetapi Rinto tak menangkap maksud perkataan pria itu.


Rinto tampak kebingungan lantaran tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Alex. "Apa maksudmu, Lex?"


"Maksudku, apakah hubungan kalian pernah mengarah pada hubungan dewasa?" ungkap Alex, menatap lekat wajah Rinto dengan kemarahan tingkat dewa.


"Apa kau menuduhku sudah menodai istrimu? Begitu maksudmu, kan?" serang Rinto, karena mendapatkan tuduhan yang tak mengenakkan di telinga.


"Ya, begitu lah!" jawabnya cuek.


"Waduh, kau terlalu berpikiran negatif pada istrimu sendiri, padahal dia perempuan baik-baik. Jangankan berbuat hubungan yang dewasa, dipegang saja tangannya, sudah pasti dia menolak," ketus Rinto, nama baik mantan kekasihnya seakan tercemar dengan perkataan Alex.


"Setahuku ... aku pacar terakhirnya. Saat di tingkat akhir dia mengajakku berpisah, saat itu aku sedang melaksanakan koas dan dia sudah menyelesaikan skripsinya!" papar Rinto.


"Terus kenapa kalian bisa putus?" sahut Alex, memicingkan mata karena rasa penasaran terus menghampiri.


"Alasannya sih klasik, setelah lulus ingin pulang ke kampung dan dia tidak kuat untuk menjalin hubungan LDR. Oleh karena itu kami bersepakat memutuskan hubungan secara baik-baik," ungkap Rinto dengan jujur.


Seketika, Alex merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk pada istrinya. Ia kembali terbayang-bayang oleh wajah Jesika setelah dalam sebulan penuh berusaha melupakan wajah cantik itu.


Namun, nyatanya setelah sebulan berlalu, Alex masih belum bisa menerima keadaannya karena memutus hubungan dengan Jesika. Lantaran terus-menerus merasa dihantui Jesika, Alex tak bisa melanjutkan hubungan dengan wanita lain meski di rumah sakit tempatnya bekerja, masih banyak wanita yang mengejar-ngejar dirinya.


"Jadi kau adalah pacar terakhir istriku," tanya Alex seraya tak percaya.


Rinto pun mengangguk dengan mantap, sepengetahuannya memang Jesika adalah wanita baik-baik, dan ia satu-satunya orang terakhir yang menjalin hubungan dekat dengan Jesika. Setelah memutus hubungan, Jesika tak lagi terdengar menjalin hubungan dengan pria lain.


Saat tinggal di kampung, Jesika kerap dilarang oleh kedua orang tuanya untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain. Sebab, orang tuanya sudah bersepakat untuk menjodohkannya dengan Alexander Sidabutar.


Orang tuanya pun meyakini bahwa menantunya itu bisa menjaga hingga membahagiakan anak satu-satunya yang mereka miliki. Mereka juga tidak ingin, putrinya disentuh oleh pria lain sebelum dipinang secara resmi oleh suaminya.


Nyatanya yang terjadi saat ini, Jesika malah luntang-lantung, ia bahkan tak dianggap sebagai seorang istri oleh Alex.


"Aku ingin lebih terbuka padamu, Rinto tapi ini adalah hal yang sangat tabu!" tutur Alex, seraya menunduk lemah.


"Ada apa sebenarnya, Lex? Kenapa antara hubunganmu dengan Jesika, lalu di mana Jesika sekarang?" tanya Rinto, lantaran ia masih penasaran apa yang terjadi pada pernikahan itu.


"Jesika sudah pergi, entah ke mana, aku pun tidak mengetahui di mana keberadaannya."


"Hah ... kau sudah gila? Masa keadaan istrimu sendiri tidak tahu!" sesal Alex, seraya merasa menggila terhadap sikap sahabatnya.


"Ya, aku memang benar-benar gila, sejak awal aku sudah gelap mata dan menganggapnya tidak lagi sebagai istriku!" beber Alex.


Dengar perkataan itu, Rinto semakin yakin kalau memang hubungan sahabatnya dengan mantan kekasihnya itu telah berakhir. Namun bagaimana bisa terjadi dalam waktu secepat itu? Padahal pesta pernikahan mereka digelar sangat meriah bahkan hingga 3 hari berturut-turut lamanya.


Mulai acara martupol, pemberkatan, hingga resepsi, semua dilakukan secara mewah dan elegan. Membuat kawula muda merasa iri.


"Kau sudah gelap mata kenapa tadi?" cecar Rinto, mengembalikan topik pembicaraan mereka.


"Aku ingin menceritakan semuanya padamu tapi aku harap kau bisa lebih menjelaskan secara detail karena kau adalah seorang dokter kandungan," imbuh Alex, meminta pendapat sahabatnya.


"Baiklah ceritakan semua, aku akan mendengarkannya dan memberikan saranku untukmu!" sergah Rinto.


"Jadi begini saat malam pertama memang malam itu terasa nikmat. Bahkan, aku sudah meninggalkan benihku di dalam rahim Jesika. Namun ada keanehan yang terjadi setelah melakukan hubungan suami istri, aku tak menemukan setetes darah pun di pangkal pahanya," ungkap Alex, seraya penuh sesal jika mengingat kejadian itu.