Sinamotku

Sinamotku
takdir



"Baiklah, kalau begitu sudah dulu, Rin aku akan meminta izin pada bos dulu." Jesika menyudahi panggilan telepon tersebut.


Tok ... Tok ...


Lalu ia mengetuk pintu ruangan Fay. "Permisi, Pak maaf mengganggu, ada yang ingin saya katakan." Jesika berjalan mendekati Fay dengan rasa gugup yang terlihat diraut wajahnya.


"Masuklah, Jes!" titah Fay, kemudian ia masih sibuk mengurus berkas-berkas yang ada di atas meja.


Tak berselang lama, Jesika berjalan gontai mendekati Fay yang masih santai duduk di kursi kebesarannya.


"Maaf, Pak ... saya minta maaf sekali, untuk hari ini saya mau minta izin bisa segera pulang karena tiba-tiba ada urusan keluarga yang tidak bisa dibatalkan," terang Jesika.


"Urusan keluarga apa?" tanya Fay, menatap manik indah Jesika dengan tatapan elangnya.


"Tidak bisa saya ceritakan sekarang, Pak tolong bantu untuk izinkan saya hari ini agar tidak melanjutkan pekerjaan, saya mohon sekali ini," kata Jesika dengan wajah yang memelas, membuat Fay semakin luruh padanya.


Fay akhirnya terenyuh hingga ia mengangguk dengan mantap, menyetujui permintaan Jesika kalau hari ini absen dari pekerjaan kantor.


"Baiklah, kalau begitu untuk hari ini, kau diizinkan pergi," timpal Fay, dengan menyematkan senyum tipis di wajah


"Terima kasih, Pak saya izin pergi dulu, untuk pekerjaan selanjutnya Bapak tinggal koordinasi dengan pengganti saya nanti," pamit Jesika.


Sebelum meninggakan kantor besar tersebut, Jesika meminta bagian HRD agar menyiapkan penggantinya untuk mengurus segala jadwal yang dimiliki oleh Fay hari ini. Ia juga menyerahkan buku kecil yang berisi jadwal Fay untuk catatan bagi orang pengganti tersebut.


Setelah menyelesaikan urusannya di kantor, akhirnya Jesika pun pergi buru-buru menuju rumah sakit tempat anaknya diperiksa dan mendapat penanganan.


****


Gadis kecil itu terus menangis tanpa henti sambil mengerang kesakitan dan memegangi mulut yang dipenuhi dengan darah. Wajahnya tampak rusuh dan lesu karena merasakan kesakitan. Meski didampingi oleh guru paud, gadis kecil itu tetap mengharapkan kedatangan sang mama dengan segera.


Guru dan murid itu juga masih menunggu seorang dokter yang tengah praktek hari itu. Entah kebetulan atau memang takdir yang sudah menyurat pertemuan ini, yang terjadi pada gadis kecil itu akan ditangani oleh Alex sebagai dokter gigi.


Guru paud sengaja membawa ke rumah sakit ini karena mendengar bahwa di tempat ini baru saja memiliki poliklinik gigi baru dengan dokter yang berpengalaman.


Beruntung, gadis kecil itu berada di urutan paling pertama karena saat pagi ia sudah berada di rumah sakit. Semua pasien tampak menunggu dokter Alex. Sesuai dengan jadwal, Alex pun datang tepat pukul 8 pagi.


Selama berjalan menyusuri rumah sakit hingga menuju ruangan kerja, ia menyapa para perawat dan dokter yang sempat berpapasan. Tak lama, ia melihat seorang gadis kecil bersama pendamping yang sedang duduk sembari mengerang merasakan kesakitan. Bahkan, mulutnya ditutupi dengan sapu tangan milik sang guru.


"Permisi, Maaf ada apa dengan anak ini?" tanya Alex pada guru paud.


Alex tidak tega karena melihat anak kecil itu menangis tiada henti apalagi hingga merasakan kesakitan yang sangat dramatis.


Lalu, Alex mengangguk dengan cepat. "Ya, kenapa banyak sekali darah yang keluar dari mulutnya, Bu?" tanya Alex lagi.


"Dia baru saja terjatuh, Dok saat di sekolah, orang tuanya baru saja mau datang ke sini, apakah bisa dokter tangani dulu? Kasihan sudah dari tadi menangis kesakitan. Mungkin dibagian gigi ada yang luka atau robek," sahut guru paud, menerangkan.


"Ayo segera masuk, ini harus segera ditangani," ucap Alex seraya mendorong tubuh gadis kecil itu agar beranjak dari tempat duduk.


Termasuk sang guru juga mengekori sang dokter Alex. Sementara pasien yang lain pun sudah menunggu untuk mendapatkan penanganan dengan tidak sabar. Tetapi mereka lebih tidak tega lagi jika melihat nasib anak kecil harus merasakan kesakitan pagi itu.


Dokter Alex langsung memerintahkan perawat untuk melakukan pemeriksaan pada gusi anak kecil yang akan ditanganinya. Ternyata, setengah gigi anak tersebut patah dan gusinya memang benar-benar robek sehingga Alex harus memberikan jahitan pada gusinya.


"Bu, ini robeknya cukup dalam jadi harus dijahit. Apakah boleh?" celetuk dokter Alex, sebelum melakukan penanganan karena harus ada izin dari pihak keluarga ataupun orang yang mendampingi pasien.


"Lakukan saja yang terbaik, Dok orang tuanya pasti setuju dan sudah berpesan pada saya tadi," jawab guru paud dengan tegas.


Alex pun hanya mengangguk menyetujui, ia segera memerintah perawat untuk mengambilkan peralatan yang akan digunakan untuk menjahit gusi sang anak. Peralatan medis mulai dari gunting, kasa, benang, jarum dan suntik sudah berada di sekitar Alex.


Ia mulai mengusap darah yang terus bercucuran luruh dari gusi anak tersebut. Tak lupa, ia segera memberikan bius agar anak itu tidak merasakan kesakitan lagi.


Gadis kecil itu tampak tenang berada di sekitar Alex, ia membuka mulut dengan lebar saat Alex ingin memasukkan cheek retractor atau penyangga mulut supaya bisa segera mendapat penanganan dari Alex.


Tak berselamg lama, Alex mulai melakukan penjahitan saat anak itu tidak merasakan kesakitan lagi. Ia tampak menikmati penanganan dari seorang pria yang sepertinya tidak asing baginya. Naluri gadis kecil itu berkata kalau pria itu memiliki hubungan dengannya.


Entah mengapa gadis kecil itu tampak tenang dan merasa nyaman berada di sisi dokter Alex. Bahkan, perawat dan guru paud tampak bingung kenapa anak itu bisa terlihat sangat tenang. Padahal, beberapa menit yang lalu ia menangis tak henti-henti.


****


Jesika berlari dengan kencang menyusuri lorong rumah sakit, ia pun menanyakan kepada resepsionis di mana poliklinik gigi berada. Setelah mendapatkan jawaban, Jesika langsung berlari menuju ruangan dokter yang tengah praktek hari itu.


Sebelum memasuki ruangan, saat melintasi ruang tunggu ternyata ia melihat banyak sekali pasien yang sedang menunggu penanganan dari sang dokter, semuanya mengantri dengan tertib tanpa suara agar bisa mendapatkan giliran.


Rasa panik terus menyerang Jesika, ia berlari bahkan segera membuka pintu ruangan dokter dengan membantingnya lalu berteriak mencari anaknya.


"Aleandra, di mana kamu?" Jesika berada di ambang batas pintu, mengedarkan pandangan.


Orang yang pertama ia lihat adalah guru paud anaknya yang sedang menunggu saat anaknya telah mendapatkan penanganan dari sang dokter. Sementara dia lalu beralih menatap seorang perawat yang juga tengah menatap Jesika dengan pandangan datar.


Kemudian, seorang dokter tiba-tiba menoleh ke belakang setelah mendengar teriakan itu. Aneh, bibirnya terasa getir bahkan jantungnya berdegup kencang serasa ingin lepas saat ia menatap sosok seorang perempuan yang dikenal kini sudah ada dihadapannya.