
Fay hanya mengangguk dengan senyum tipis. Tak lama, ia memanggil seorang pelayan untuk memesankan makanan pada saat makan siang.
"Pesan dulu, Mut!" usul Fay, memberikan kesempatan untuk Mutia lebih dulu memesankan makanan.
Anehnya, saat Mutia memesankan makanan, ia justru sekaligus memesankan untuk Fay tanpa menanyakan pada orangnya, bahkan makanan yang dipesan pun sangat banyak.
"Saya pesan steak sirloin saja!" ucap Fay, saat pelayan itu hendak pergi.
"Loh kok dia mau pergi sih!" protes Fay, membuat pelayan itu langsung berhenti.
Namun, tiba-tiba Mutia menjawab pertanyaan Fay. "Tadi aku sudah pesankan untuk Bang Fay sekalian."
Akhirnya Fay memanggil pelayan yang tengah berhenti dan menatap penuh kebingungan. Fay juga meminta membatalkan makanan yang sudah dipesan oleh Mutia, karena makanan yang dipesan Mutia sangat tidak cocok untuk seleranya saat ini.
"Maaf, Mutia seharusnya kau tanyakan dulu padaku, jangan langsung pesan saja!" imbuh Fay, seraya menatap sinis perempuan itu.
"Maaf, Bang aku kira Abang nggak mau pesan sendiri. Makanya aku langsung pesankan!" sahut Mutia, lalu menyematkan senyum tipis.
Keduanya pun sibuk pada ponsel masing-masing. Tapi Mutia mengomeli Fay karena pria itu lebih sibuk dengan ponsel dari pada mengajaknya berbincang. Padahal dia sendiri juga sibuk bersenda gurau dengan sahabatnya yang tengah menghubungi melalui pesan di dalam ponsel.
"Ngobrol lah, Bang jangan main ponsel terus," ketus Mutia karena ia tak suka melihat Fay yang cuek, sebenarnya ia juga penasaran dengan pria itu, ingin mengenalnya lebih dalam lagi.
Fay hanya melirik sekilas, lalu meletakkan ponsel di atas meja makan. Tak berselang lama, beberapa pelayan datang mengantarkan makanan pesanan Mutia dan Fay.
Keduanya sibuk menyantap makanan mewah yang ada di restoran. Setelah menghabiskan santapan, kemudian barulah Fay mulai bertanya-tanta mengenai persoalan pribadi Mutia.
"Emangnya kau tidak masalah dijodohkan?" sambar Fay menatap lekat wanita itu, lalu dengan cepat Mutia menggelengkan kepala.
"Nggak papa kok, Bang aku memang belum punya pacar. Justru aku senang bisa memgenal calon suami seperti abang," sergah Mutia dengan kebohongan, sebenarnya Mutia sudah memiliki seorang pacar yang tampan tapi orang tuanya tidak setuju karena merasa lelaki itu tidak setara dengan keluarga mereka.
Bahkan, keluarganya sengaja menjodohkan Mutia karena lebih mementingkan kesenjangan sosial daripada membiarkan Mutia menikahi pria miskin pilihannya, sehingga kekayaan mereka tak jatuh dan direbut pria itu.
"Oh ... begitu, berarti kita kenalan saja dulu, saya minta agar kita membuat dua kali lagi pertemuan. Kalau cocok, mungkin kita bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan!" tandas Fay dengan lugas.
"Oke!" jawab Mutia, dengan tegas karena setuju dengan permintaan lelaki itu.
Mutia mengulum senyum tipis sembari larut dalam pikiran sendiri. Ia ingin menjalin hubungan dengan baik apalagi pria pilihan orang tuanya adalah seorang pemuda yang kaya raya.
Sangat berbeda jauh dengan pacarnya yang merupakan hanya seorang pria sederhana tanpa memiliki kekayaan fantastis ataupun keturunan dari kalangan konglomerat.
Sementara Fay adalah pria yang cocok untuk bersanding dengan Mutia. Apalagi, ketampanan Fay mampu membuat Mutia jatuh cinta seketika.
Mutia ingin agar perjodohan segera terlaksana, sebab calonnya kali ini adalah CEO muda yang tampan serta memiliki segalanya. Sebenarnya, Mutia sama seperti Fay, sudah berkali-kali menolak perjodohan dari kedua orang tuanya lantaran pria yang dijodohkan adalah pria yang sudah berumur 35 tahun ke atas dan parasnya pun tidak tampan, sehingga Mutia lebih memilih untuk melanjutkan hubungan dengan pacarnya.
****
Alex sudah memeriksa setengah pasien yang datang hari itu. Entah mengapa pasien yang berkunjung pada praktek pertamanya sangat membludak, ia sangat kewalahan pada hari pertama bekerja.
"Sus, kita istirahat dulu lah!" pinta Alex, meminta waktu agar ia bisa sedikit meregangkan tubuh dan mengisi waktu dengan makan siang yang sudah terlambat.
Sebenarnya, Alex sudah berlarut-larut bekerja, bahkan saat ini sudah memasuki jam 2 siang. Sudah beberapa jam, Alex melewatkan jam makan siang. Oleh karena itu, ia ingin sedikit meregangkan tubuh dan menyantap makan siangnya meskipun sudah terlambat.
"Baiklah, Dok. Saya akan bilang dulu kepada pasien bahwa dokter harus beristirahat!" timpal perawat tersebut.
Jadwal praktek Alex adalah setengah hari penuh dari jam 11 siang hingga jam 4 sore. Oleh karena itu, disaat hari pertama bekerja ia sangat lelah menunggu hingga selesai jadwal praktek.
Tak hanya itu, lantaran pasien yang datang sangat banyak sepertinya Alex memprediksi kalau khusus hari ini, dia tidak akan selesai tepat waktu sesuai jadwal praktek.
Alex meregangkan tubuh agar mendapatkan tubuh yang rileks, lalu sang perawat kembali masuk membawakan makan kotak untuk makan siang yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit.
"Ini, Dok dimakan dulu!" ucap Bulan, saat Alex tengah menyandarkan kepala di kursi kebesaran sembari memijit-mijit pelipisnya karena merasa lelah.
Saat Bulan menyodorkan makanan dan Alex pun meraihnya. Selain itu, perut Alex juga mengeluarkan bunyi yang aneh, lantaran ia merasa sangat lapar. Dengan cepat, Alex menyambar makanan itu, menyantapnya hingga tandas.
"Makasih, Sus silakan anda makan dulu!" titah Alex, memberikan waktu untuk perawat tersebut, sang perawat pun pergi dari ruangan dokter.
Bulan tak ingin mengganggu waktu luang Alex, hingga dia memilih berkumpul dengan perawat lain sekaligus bergosip tentang pria tampan tersebut.
"Eh ... gila, kalian harus tahu kalau dokter Alex itu baik banget loh, udah gitu dia benar-benar pekerja keras dari jam 11 siang sampai jam 2 siang, baru sekarang istirahatnya!" ungkap Bulan.
"Wah ... kau beruntung banget, lan bisa dapat jadwal praktek sama dokter Alex," tambah perawat lain.
"Iya dong, lumayan nih bisa bersanding sama dokter tampan," kekeh Bulan.
Bulan tengah sibuk menyantap makanan sembari mengoceh dengan teman sejawatnya.
"Bulan, coba kau tanya dokter Alex, apakah dia tinggal sama istrinya?" timpal perawat lain, merasa penasaran dengan kehidupan pribadi dokter Alex.
"Gila, itu sih udah menjurus ke persoalan kehidupan pribadi, nggak beranilah aku!" tampik Bulan seraya menepuk pundak temannya.
Namun, sebenarnya Bulan juga penasaran pada sosok dokter Alex yang tampan. Apalagi pria itu terang-terangan mengaku sudah memiliki istri tetapi tanda-tanda tidak menunjukkan ke arah sana. Pria itu tampak dingin seperti pria lajang pada umumnya.
"Coba aja sekalian bercanda," saran perawat lain sembari terkekeh.
"Nantilah, kalau sudah akrab dengan dokter Alex. Kan nggak mungkin kami belum terlalu kenal tiba-tiba sudah aku sudah sok akrab menanyakan persoalan pribadinya!" hardik Bulan, seraya mengerutkan keningnya.