
Semakin merasa yakinlah Jesika untuk menerima perhatian dari bosnya, apalagi pria itu masih masuk satu rumpun dengannya, yakni sama-sama orang batak.
"Bos, hari ini meeting di Hotel Anggrek selama satu hari penuh. Banyak pengusaha juga yang berkumpul di sana, peluang untuk kita menawarkan pembukaan bisnis kargo dibawah perusahaan lainnya."
"Oke!" jawab pria itu lugas, lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
****
"Aku jadi merasa bersalah padanya, Rinto. bagaimana ini?" ucap Alex, merenungi semua yang sudah terjadi.
"Kau harus mencarinya, Lex. Dimanapun dia berada , kau harus segera mendatanginya!" saran Rinto, menatap lekat sahabatnya.
"Tapi bagaimana caranya aku bisa mencarinya? Sementara keluargaku sudah kusuruh agar mereka tak lagi mencampuri urusan rumah tanggaku. Kemudian, orang tua Jesika juga tak tahu kalau anaknya pergi dan aku sama sekali tidak memiliki kontaknya sehingga tidak bisa menghubunginya!" timpal Alex, seraya menunduk dengan rasa sesak di dada.
"Lalu, kau pasrah saja menunggunya?" balas Rinto, menggelengkan kepala.
"Sepertinya sih harus begitu soalnya tidak ada yang bisa kuperbuat!" seloroh Alex.
Alex tampak memikirkan bagaimana caranya bisa menemukan keberadaan Jesika. Yang ia tahu, bahwa dirinya sama sekali tak memiliki kontak untuk menghubungi Jesika. Oleh karena itu, tak ada peluang bagi Alex untuk menemukan perempuan itu.
Namun, setelah mengetahui kebenaran di balik kondisi Jesika yang langka, membuat Alex berpikir apakah mungkin meski baru sekali melakukan hubungan suami istri akankah membuat istrinya hamil?
Pikiran itu kian melekat di dalam otaknya. Ia pun semakin curiga bahwa Jesika bisa saja hamil walau mereka hanya berbuat satu kali saja.
Karena rasa penasaran, Alex pun menanyakan langsung pada Rinto agar merasa lega dan kecurigaannya menghilang.
"Apakah Jesika bisa hamil walaupun kami hanya melakukannya satu malam saja?" tutur Alex, sembari larut dalam pikiran sendiri.
"Bisa saja!" jawab Rinto singkat.
"Lantas bagaimana kalau dia benar-benar hamil, sementara dia sudah hidup sendiri walaupun itu hanya prediksiku. Tapi ,aku tidak tahu kejelasannya seperti apa!" ungkap Alex, meratapi keterpurukannya sebagai seorang suami.
Rinto tampak mencebikkan bibirnya lantaran merasa kesal pada sahabatnya. Entah mengapa, ia bisa memiliki sahabat yang sangat bodoh. Hanya karena hal sepele, ia sampai melepas hubungan dengan istri yang baru dimiliki selama semalam.
Rinto menganggap kalau Alex hanya memiliki pikiran dengan sumbu yang sangat pendek. Hal-hal sepele itu pun bahkan seharusnya sudah diketahui oleh Alex karena ia menyandang status sebagai seorang dokter.
Apalagi persoalan selaput darah adalah pengetahuan umum mengenai tentang kehormatan seseorang perempuan. Itu bukanlah hal tabu lagi bagi seorang dokter.
Namun, sepertinya Alex enggan menerima kenyataan bahwa kondisi itu memang benar adanya. Oleh karena itu, ia tak terima saat mendapatkan hal yang tak sesuai dengan espektasinya bahwa setiap perempuan yang perawan harus memiliki cairan darah saat malam pertama terjadi.
"Kalau dia hamil, berarti dia akan mengurus anakku sendirian?" celetuk Alex seraya membayangkan kejadian itu, pikirannya pun semakin memburuk dan serasa dihantui oleh Jesika.
"Bisa saja, Lex. Itu semua berdasarkan keputusan Jesika, apapun yang dia buat maka harus kau terima! Karena kaulah yang membuangnya, aku tahu kenyataan itu sangat pahit!" tukas Rinto.
"Aku semakin pusing kalau memikirkan Jesika, aku benar-benar tidak mengetahui tentangnya. Seperti nomor teleponnya, nomor rekeningnya atau sahabat-sahabatnya. Yang aku tahu, hanya satu sahabat dia. Namanya Rini dan aku dikenalkan langsung oleh Jesika saat dipelaminan!" beber Alex.
"Kau benar-benar sial," ucap Rinto.
"Aku kenal Rini dan punya nomor teleponnya. Tapi aku tidak tahu, apakah nomor itu masih aktif atau tidak. Aku tidak pernah menghubunginya!" ungkap Rinto, membuka ponselnya, lalu mengecek nomor Rini di sana.
Dulu, ketika Rinto berpacaran dengan Jesika, Rini kerap menemani mereka berdua. Oleh karena itu, Rinto sering meledeki Rini karena dianggap sebagai nyamuk lantaran sering mengikuti Jesika kemanapun ia pergi. Salah satunya, yaitu faktanya Rini selalu menemani Jesika meski tengah berpacaran.
"Aku ada nomor Rini tetapi aku tidak tahu apakah nomor ini masih aktif atau tidak," jelas Rinto lagi, seraya menyodorkan layar ponselnya agar dilihat oleh Alex.
Alex menatap dengan tajam nomor itu, lalu ia mengambil ponsel di dalam saku dan mencatat nomor itu langsung di dalam ponsel. Dalam sekejap, ia pun menghubungi nomor yang diberikan Rinto.
Usaha Alex membuahkan hasil yang cukup patut diancungi jempol. Sebab, Rini menjawab panggilan telepon itu dalam waktu yang singkat.
"Halo ... selamat pagi," sapa Rini, melalui sambungan telepon.
"Selamat pagi, apakah ini dengan Rini?" tanya Alex.
"Iya, benar sekali, mohon maaf saya berbicara dengan siapa?" balas Rini, meskipun nomor tak dikenal yang menghubunginya, memang Rini kerap mengangkat telepon itu karena ia takut kalau yang menghubungi adalah klien untuk kepentingan perusahaan.
"Rini, apa kau ingat denganku? Aku Alex, suaminya Jesika!" ucap Alex.
Mendengar nama Alex, jantung Rini langsung berdegup kencang. Ia juga tak ingin membeberkan tentang kondisi Jesika yang saat ini sedang kabur ke Jogja bersama dirinya.
Sebelumnya, Rini juga harus menyampaikan dulu pada Jesika, jika harus mengungkapkan keberadaan istri Alex.
"Halo ... Rin, apa kau masih di sana?" tanya Alex lagi, karena tidak mendengar suara apapun, seketika suasana menjadi hening.
"Eh, iya, Alex ini suaminya Jesika yang waktu nikah sebulan lalu, ya?" sambung Rini, setelah terdiam lama, pura-pura mengingat tentang Alex.
"Iya, benar sekali, apa kau mengetahui keberadaan Jesika?" cecar Alex.
"Aku tidak mendengar kabarnya lagi setelah hari pernikahan kalian. Aku juga tidak tahu dia di mana. Apakah kalian ada masalah?" tanya Rini, pura-pura tak tahu.
"Aku pikir dia menghubungimu, mungkin perkiraanku saja yang salah tapi kalau aku ada perlu, apakah aku boleh menghubungimu lagi?" papar Alex.
"Tentu saja, kalau begitu sudah dulu, ya! Soalnya saya masih bekerja," pamit Rini seraya cepat-cepat mematikan telepon itu.
Alex merasa ada sesuatu yang aneh pada Rini. Sebab, saat mendengar nama Alex, nada suaranya tiba-tiba berubah, suara itu seperti bergetar dan tampak buru-buru ingin menghindarinya.
Rinto langsung menyergap, menanyakan apakah ada hasil setelah menghubungi Rini. "Bagaimana? Apa Jesika sama Rini?"
Alex hanya menggelengkan kepala dengan pasrah, raut wajahnya seketika menunjukkan rasa kecewa.
"Tidak, Rini bahkan tidak tahu soal perpisahan kami!" tandas Alex, dengan wajah yang sendu.
"Ya, mungkin saja Jesika mencoba pergi sendiri. Masa tidak ada yang tahu keberadaan Jesika, bagaimana dengan kedua orang tuanya? Mungkin saja dia pulang ke rumah!" ujar Rinto.
"Aku harus memastikan dulu dan menanyakan pada orang tuaku, apakah Jesika masih ada di kampung atau memang dia sudah kabur!" kilah Alex.