Sinamotku

Sinamotku
merenggang



Tak lama, Alex pun menjawab pertanyaan perawat tersebut. "Status saya sudah menikah!" ketus Alex dengan wajah yang dingin.


Entah mengapa, kata-kata itu terluapkan begitu saja secara spontan. Padahal tadi, ia tidak ingin menjawab pertanyaan yang menjurus kepada persoalan pribadi.


"Wah ... ada peluang dong, Dok," sambung perawat lain.


Alex hanya tersenyum tipis dengan raut wajah yang datar. Ia pun menjelma jadi pria dingin saat berada di sekitar perempuan yang ingin mendekatinya. Hal itu juga sudah terjadi sejak lima tahun belakangan, sebab setiap hari dirinya selalu terbayang-bayang oleh wajah Jesika.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai pekerjaan hari ini. Selamat bekerja semuanya!" sanggah Direktur Rumah Sakit, membubarkan seluruh karyawan agar mulai memberi pelayanan maksimal pada pasien yang datang berkunjung hingga pasien yang sudah mendapat pelayanan rawat inap.


Setelah semua karyawan bubar, Alex menunggu Direktur rumah sakit untuk memberitahukan keberadaan ruangannya. "Maaf, Pak ruangan saya di mana?"


Direktur rumah sakit langsung menoleh dan menatap Alex penuh senyuman.


"Baiklah, dokter Alex, saya akan mengantarkan anda ke ruangan!" jawab Direktur Rumah Sakit, seraya beranjak pergi dan Alex pun mengekori dari belakang.


Saat ini, dokter Alex memang sengaja diminta untuk mengisi kekosongan dokter gigi yang berada di rumah sakit itu. Sebab, beberapa dokter yang sudah memberikan lamaran belum sesuai kualifikasi rumah sakit. Minimal, rumah sakit hanya menerima dokter yang sudah berpengalaman sedikitnya selama tiga tahun terakhir.


"Memangnya tidak ada dokter yang mengajukan lamaran ke sini?" tanya Alex, saat berjalan gontai mengikuti sang direktur.


"Tidak ada, Dok! Jadi saya yang meminta agar pusat memberikan dokter gigi terbaik mereka. Tentunya yang berpengalaman karena kami ingin memberikan pelayanan yang maksimal, tahu sendiri kan rumah sakit ini baru berdiri dan baru sekali dibuka dalam 1 bulan yang lalu," balas Direktur Rumah Sakit.


"Ngerti kok, Pak!" tampik Alex, dengan jalan menunduk.


Alex sebenarnya enggan dipindahkan ke Jogja karena merasa nyaman berada di ibukota selama bertahun-tahun lamanya. Namun karena ingin mencari suasana yang baru di kota lain, akhirnya ia menyetujui tawaran yang diberikan oleh pihak rumah sakit pusat, tempat naungannya bekerja.


Oleh karena itu, dalam jeda satu hari, Alex pun langsung ditugaskan untuk bekerja di rumah sakit cabang milik mereka.


Kini, Direktur rumah sakit dan Alex sudah berada di salah satu ruangan yang cukup besar karena Alex adalah dokter terkenal di ibukota, sudah memiliki pengalaman yang sangat lama makanya pihak rumah sakit cabang memberikannya ruangan yang luas dan nyaman agar Alex merasa betah selama melakukan tugasnya di Jogja.


"Wah ... ini sih dua kali lipat dari ruangan saya di Jakarta, Pak!" puji Alex, mengedarkan pandangan menatap ruangan yang luas yang akan ditempatinya mulai hari ini.


"Iya, bagus dong, Dok kami ingin memberikan kenyamanan pada dokter supaya betah berada di sini!" sahut Direktur.


"Padahal saya nggak masalah disamakan dengan ruangan dokter-dokter lain, nanti mereka malah cemburu pada saya," kilah Alex.


"Enggak kok, Dok justru mereka yang rekomendasikan ruangan ini, malah senang ada seorang dokter baru yang mau pindah jauh-jauh ke kota yang kecil seperti ini. Jadi mereka juga ingin memberikan kenyamanan kepada dokter Alex," hardik Direktur.


"Ah ... Pak direktur bisa aja!" canda Alex, berjalan menuju meja kerja, lalu meletakkan tas di atas meja kerja.


Tak lupa, Direktur Rumah Sakit juga memberikan jubah kebesaran Alex sesuai dengan nama rumah sakit tempat ia bekerja.


"Ini jasnya, Dok. Kalau begitu saya pamit dulu. Selamat bekerja!" tandas Direktur, mengulurkan jas yang akan digunakan Alex selama masa praktek.


"Makasih, Pak!" sahut Alex.


Setelah merapikan meja kerja dengan pelengkap papan nama dokter Alex di atas meja kerja itu, tiba-tiba seorang perawat yang Alex sempat tatap wajahnya saat perkenalan tadi, masuk ke dalam ruangan.


Tok ... Tok ...


"Permisi, Dok saya adalah perawat yang akan membantu dokter untuk memberikan penanganan pada pasien!" ucap Perawat—Rembulan.


"Oh ... iya, anda yang tadi bertanya tentang status saya, kan?" cecar Alex, menatap penuh selidik.


"Benar sekali, Dok. Nama saya Rembulan, panggil saja Bulan!" jawab perempuan itu dengan santun.


"Oke, silakan masuk, kita mulai praktek pagi menjelang siang ini!" ujar Alex, memakai jas kebesaran, sebelum pasien pertama masuk ke dalam ruangan.


Bulan yang tengah berdiri di ambang batas pintu langsung masuk sesuai dengan perintah dokter Alex, tak lupa ia menyematkan senyuman terbaik yang dimilikinya. Lalu, ia menatap lembaran kertas yang diberikan oleh resepsionis rumah sakit sebelum datang ke ruangan Alex, ada nama-nama pasien tertera di sana.


Mereka telah menunggu jadwal praktek sejak pagi, banyak lasien yang sudah mempersiapkan diri untuk penanganan. Perawat pun mulai mempersiapkan diri dan akan memanggil salah satu pasien yang paling pertama mendaftarkan diri untuk mendapat penanganan.


****


Keluarga Jesika menyambangi keluarga Alex di kediamannya. Bernard tampak kesal lantaran tidak ada niatan baik dari keluarga Alex mengenai permintaan untuk mencari tahu tentang keberadaan Jesika.


Sebenarnya bukan karena tidak ada niat baik dari keluarga Alex, tetapi karena memang mereka tak kunjung menemukan keberadaan Jesika bak hilang ditelan bumi.


Meskipun Bernard dan Maruli sudah bersahabat sejak lama. Namun karena adanya persoalan rumah tangga yang menimpa Jesika dan Alex terjadilah keretakan diantara kedua keluarga tersebut.


Persahabatan mereka bahkan merenggang lantaran boru sasada milik Bernard menghilang. Bernard tak kehabisan akal untuk terus menagih pada keluarga Alex agar mencarikan lokasi tempat tinggal anaknya.


Tok ... tok ...


Suara ketukan pintu membuat beberapa maid bergegas membukakan pintu. Namun langkah kaki seorang maid terhenti saat mengintip dari balik jendela bahwa yang datang adalah kedua orang tua Jesika.


Apalagi, sejak beberapa waktu lalu, semua maid mendapatkan pesan dari tuan rumah yang meminta bahwa tak boleh membukakan pintu untuk kedua orang tua Jesika bila mereka datang ke rumah ini.


"Siapa yang datang?" Maruli menatap maidnya yang masih berdiri mematung di depan ambang batas pintu.


"Ada orang tua non Jesika, Tuan!" jawab Maid tersebut.


"Bukakan saja!" titah Maruli pasrah karena tak ingin menghindari besannya.


Maid membukakan pintu dengan lebar dan mempersilakan agar kedua orang tua Jesika masuk ke dalam rumah.


"Maruli di mana kau?" teriak Bernard dengan lantang, mengedarkan pandangan untuk mencari besannya hingga teriakannya sampai ke gendang telinga Maruli.