
Alex menghempaskan tubuh di atas ranjang menatap langit-langit kamar. Ia pun merutuki seluruh keluarga lantaran sibuk mengurus kondisi rumah tangganya.
"Kenapa sih mereka heboh sekali!"
Tak berselang lama, Alex menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelumnya ia sudah merapikan semua baju yang dikemas ke dalam koper.
*****
Jesika dan Rini sudah berada di perjalanan menuju bandara. Jesika sepakat kalau ia akan mengikuti Rini untuk pergi ke Jogja.
Saat dini hari, tepatnya pukul 5 pagi, Jesika terbangun karena mendapati Rini sudah sadar lebih dulu. Jesika mengatakan akan mengikuti Rini kemanapun ia pergi.
"Rin, apakah aku boleh ikut dengamu?" ujar Jesika, menatap lekat sahabatnya.
"Loh, kenapa kau nggak pulang ke rumah orang tuamu?" balas Rini, sembari membenahi koper, sebab jemputan travel pun akan segera datang.
"Aku ingin menghindari semuanya, aku malu kalau harus pulang ke rumah orang tuaku," ungkap Jesika dengan lirih.
"Yasudah, kalau itu keputusanmu, kau ikut saja denganku dan kita ngekos bersama di Jogja. Nanti kau tinggal cari pekerjaan aja di dekat tempat tinggal kita," papar Rini.
"Baiklah." Jesika bersiap-siap mandi, meski tak membawa bekal apapun, hanya membawa dompet dan ponselnya saja. Ia tetap optimis untuk meninggalkan desa yang dianggapnya sebagai tempat kenangan kelam.
Rini dan Jesika harus segera berangkat pukul 6 pagi, keduanya harus segera pergi ke bandara lantaran pesawat akan take off tepat pada pukul 12.00 siang nanti.
Sebelumnya, Rini sudah memesankan tiket untuk sahabatnya karena keputusan telah dibuat. Perjalanan dari desa membutuhkan waktu sekitar 4 jam, sehingga keduanya bergegas untuk bersiap-siap.
"Ayo, Jes! Buruan," ajak Rini, mendorong koper kecilnya keluar kamar hotel.
Rini dan Jessica berjalan beriringan. Jesika sudah meminjam baju sahabatnya—Rini.
Di perjalanan, wanita cantik itu larut dalam pikirannya sendiri. Ia merasa khawatir jika tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya. Bahkan ia ketakutan kalau orang tua Alex akan mencarinya kemana pun ia pergi.
Tak hanya itu, kepergian Jesika tak diketahui oleh siapapun, hanya antara Alex dan dirinya saja. Ia juga enggan mengabari kedua orang tuanya karena sudah renta, bahkan Jesika takut kalau sang bapak bisa terkena serangan jantung.
Namun pikiran Jesika lagi-lagi berkecamuk lantaran mengingat tindakan Alex yang semena-mena.
"Rin, apakah keputusanku sudah tepat?" tanya Jesika, menarik perhatian Rini yang baru saja memejamkan kedua bola matanya saat duduk santai di bus travel.
"Aku nggak tahu sih tapi mungkin saat ini kau lebih baik pergi jauh, menghindari semuanya. Sampai semuanya benar-benar mereda!" cetus Rini.
"Baiklah, Rin memang ini menurutku keputusan yang tepat tapi aku tidak tega meninggalkan kedua orang tuaku yang sudah menua," sanggah Jesika.
"Tidak perlu khawatir, orang tuamu adalah orang kaya raya, banyak yang akan menjaga mereka termasuk pembantumu yang banyak di rumah itu," sahut Rini.
****
Alex bersantai menyantap makan siang. Pria itu sudah berpakaian kasual, membawa sebuah koper kecil untuk pergi ke bandara. Bahkan ia tak khawatir karena sudah menggunakan tiket elektronik pesawat yang dikirimkan pada emailnya.
Namun entah mengapa pikiran Alex terus saja dihantui oleh wajah Jesika yang cantik jelita. Padahal baru beberapa jam mereka berpisah tapi wajah Jesika selalu terbayang-bayang di benaknya. Apalagi malam penyatuan yang mereka lalui bersama.
"Mikir apa sih aku! Kok terus-terusan terbayang-bayang wajah dia," gumam Alex, seraya menyantap makan siangnya.
"Ya-iyalah, Pak aku mau pulang ke Jakarta. Lagian untuk apa aku di sini berlama-lama, masih banyak pekerjaan yang menantiku," jawab Alex, dengan gayanya yang santai.
"Astaga terbuat dari apa hatimu itu, dari batu, ya!" umpat Maruli, entah sifat siapa yang diwarisi oleh anak siapudannya, mengapa bisa memiliki sifat arogan seperti itu.
"Sudahlah, Bapak nggak usah terlalu memikirkan soal perempuan itu. Biarkan dia pergi kemanapun yang ia mau dan jangan pernah mengusik orang tuanya," kecam Alex, memperingati kedua orang tuanya yang berdiri mematung di hadapannya.
"Anakmu memang gila!" sesal Maruli pada istrinya—Ima.
"Kau sudah gila, mana mungkin orang tuanya merelakan anak satu-satunya milik mereka," cibir Ima, meninggalkan meja makan agar tak lagi menatap putranya.
"Ah, aku pusing, terus-terusan yang dibahas di rumah ini adalah Jesika," berang Alex.
Alex beranjak dari kursi makannya, ia memboyong koper yang tadinya disimpan di sebelah. Mendorong koper itu keluar menuju halaman rumah dengan rasa kesal.
Saat di halaman rumah, seluruh keluarga sudah berkumpul terutama kakak dan iparnya Alex. Mereka masih resah mencari keberadaan Jesika.
"Lex, kau mau ke mana?" cecar Juli, menatap penuh selidik.
"Aku mau pulang," ketus pria itu.
"Kau benar laki-laki gila. Entah gimana perasaanmu sampai istrimu hilang saja kau tidak peduli, mencarinya saja tidak!" sungut Beta.
Alex tak memperdulikan amukan kedua kakak kandungnya. Ia semakin merasa sesak berada di rumah ini, sehingga ingin segera angkat kaki dari kediaman orang tuanya.
"Mak, Pak, aku berangkat dulu. Kalau ada kabar apa-apa tentang Jesika, jangan lupa hubungi aku," teriak Alex, tanpa mencari kedua orang tuanya untuk berpamitan dengan sopan, sebelum berangkat pergi.
Alex diantarkan oleh supir mereka lantaran perjalanan sangat panjang. Tentu saja, Alex beristirahat saat berada di dalam mobil, sebab perjalanan sangat jauh, pasti akan membuatnya lelah selama masa perjalanan tersebut.
Dari desanya menuju kota Medan, di mana tempat bandara berada, ia harus menempuh jarak sepanjang entah berapa kilometer. Yang pasti, waktu tempuh itu akan menghabiskan selama 4 jam perjalanan bahkan lebih.
****
Jesika menatap jendela pesawat. Lagi-lagi ia merasa ragu untuk meninggalkan kampung halaman. Namun Rini, menggenggam tangannya erat, menguatkan kembali keputusan itu.
"Mulailah hidup baru, Jes! Bersama orang-orang baru yang tidak mengenalmu," tandas Rini.
Jesika hanya mengangguk, dalam dua jam perjalanan, pesawat telah landing, mereka akhirnya tiba di Jogja. Rini langsung memboyong Jesika ke kos-kosan.
"Jes, tinggal di sini dulu saja untuk sementara waktu, sebelum kau bisa mencari kosan untuk tempatmu tinggal," imbuh Rini.
"Baiklah, terima kasih banyak, aku jadi merasa tidak enak karena selalu mengandalkanmu," sambung Jesika.
"Oke, kita berdua sejak dulu sudah selalu tinggal bersama dan kau sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri." Rini membongkar kopernya, mengeluarkan semua barang yang ada di dalam sana.
***
Di bandara, Alex Tengah menunggu keberangkatannya. Pesawatnya akan berangkat jam 7 malam. Namun dia baru saja tiba di bandara jam 5 sore. Ia pun langsung melakukan check in dan boarding sebelum keberangkatan pesawat serta duduk di ruang tunggu.