
"Jesika? Bro, istrimu Jesika?" tanya Rinto, merasa tak percaya dengan penglihatannya saat ini.
"Iya, Bro, emangnya kau kenal?" tanya Alex, menoleh kepada Jesika dan Rinto bergantian.
"Bang Rinto?" tanya Jesika, memastikan kalau tebakannya benar.
"Iya, aku Rinto!" balasnya sembari terkekeh.
Jesika dan Rinto pun tertawa-tawa, sedangkan Alex kebingungan tak mengerti maksud istri dan sahabatnya.
"Astaga, dia istrimu?" Rinto masih tak percaya dengan kejadian tak terduga ini.
"Emang kenapa sih?" tanya Alex, menggaruk tengkuknya meski tidak gatal.
"Dia mantanku!"
"Dia seniorku!"
Keduanya menjawab dengan serentak. Jawaban dua orang itu berbeda, membuat Alex semakin kebingungan dan penasaran dengan istri dan sahabatnya.
"Apa maksud kalian?" tanya Alex, menatap dengan curiga.
Rinto tiba-tiba mendadak kikuk, ia khawatir kalau Jesika akan mendapatkan amarah dari sahabatnya. Rinto tahu kalau sikap Alex suka berubah-ubah, terkadang baik tetapi terkadang juga bisa mendadak marah dan bersikap dingin.
"Dia juniorku!" ucap Rinto, meralat kata-kata yang baru diucapkan.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ucapan pertama yang diteriakkan Rinto dengan lantang sudah didengar oleh Alex.
"Jadi kalian pernah berpacaran?" tanya Alex, mengedarkan pandangan, menatap kedua orang itu bergantian.
Jesika mengangguk dengan ragu-ragu. Namun, ia sudah tak bisa mengelak lagi. Sebab, mantan kekasihnya sudah membeberkan kisah masa lalu mereka.
"Yaampun, dunia ini sangat sempit. Ternyata sahabatku sendiri adalah mantannya istriku!" ucap Alex terkekeh, lantaran mendapatkan kisah bak sinetron.
"Sumpah emang sempit, Bro!" tandas Rinto.
"Yaudah, selamat untuk kalian, Alex dan Jesika! Semoga langgeng sampai maut memisahkan!" tambah Rinto, memberi doa dan harapan pada pernikahan sahabatnya.
"Iya, Bro. Sana, makan dulu!" titah Alex.
Rinto hanya melirik sekilas pada Jesika. Ia berharap bisa mengobrol lebih lama tapi Alex sudah menyuruhnya untuk pergi.
Sepanjang ia berjalan keluar dari area pelaminan, Rinto terus memikirkan Jesika yang sangat cantik dibalut gaun pengantin. Beruntung, Rinto bisa merasakan pernah menjadi pacar seorang kembang desa yang menjadi idola pria di kampusnya.
Kemudian, Alex pun bersalaman dengan Putra. Mendengar doa yang disampaikan sahabatnya yang berharap pernikahan itu akan berjalan sempurna sesuai harapan.
"Pokoknya selamat dari hati gue yang paling dalam, Bro! Langgeng sampai kakek, nenek!" tandasnya penuh harap.
"Iya, Bro! Makasih lo udah sempat-sempatin datang ke sini! Gue dalam waktu dekat langsung balik ke Jakarta kok. Waktu cuti gue juga hampir habis," terang Alex, Putra pun hanya mengangguk.
Selama sehari penuh, resepsi kedua digelar. Alex dan Jesika lagi-lagi merasakan capek yang luar biasa. Kaki keram karena berdiri seharian, bahkan tubuh serasa remuk.
Namun, Alex dengan harap-harap cemas tetap antusias menginginkan malam pertama saat dihari kedua pernikahan mereka tepatnya sih saat 24 jam benar-benar bersama berdua diluar dari kegiatan acara resepsi. Ia menatap istrinya yang tengah duduk di kursi pelaminan yang menyandarkan tubuhnya karena kelelahan.
Bahkan, karena sibuk menerima tamu, keduanya tak sempat makan siang. Hari pun sudah malam, acara akan segera ditutup tepat pukul 9 malam. Alex dan Jesika rasanya ingin pulang ke rumah, merebahkan tubuh letih itu di atas ranjang.
"Capek?" tanya Alex, mengusap kepala Jesika dengan raut wajah yang sangat letih.
"Iya, Bang!" jawab Jesika singkat.
Meski sudah menjadi suami istri, rasa canggung tetap ada diantara keduanya. Apalagi Jesika, walau ia menyukai suaminya yang gagah tapi belum sepenuhnya mengenal sikap Alex.
Mereka saling bersalam-salaman karena tamu undangan itu yang paling terakhir. Saat sepasang pengantin masih duduk di pelaminan tapi masing-masing kedua orang tua mereka sudah bersantai ria duduk diantara para tamu yang menyantap makanan.
"Lapar nggak?" tanya Alex lagi, sebab mereka tak kunjung bisa mendapatkan makanan saat berada di atas pelaminan.
"Sudah pasti, seharian belum makan apapun!" keluh Jesika, menatap lekat suaminya.
"Sabar, ya! Aku panggilkan, edakmu!" ujar Alex.
Alex turun dari atas pelaminan, meminta Juli mendekat padanya. "Apa, Lex?" tanya Juli, saat ia melihat Alex menganggilnya dengan menganggukan tangan.
"Ito, tolong bawakan kami makanan! Seharian kami belum makan apapun!" pinta Alex dengan sopan.
"Oke, nanti aku suruh pelayan membawakannya!" Juli pun pergi kembali, mendekati seorang pelayan dan memerintahkan sesuai keinginan Alex.
Tak berselang lama, sepasang pengantin itu mendapatkan dua piring nasi beserta minumannya.
"Bang, suapin aku!" ucap Jesika, bernada manja.
Alex hanya menoleh dan terdiam, lalu dengan cepat menyambar piring Jesika, menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya. Entah mengapa, ia tak bisa menolak permintaan wanita yang sudah menyandang status sebagai istrinya.
Dalam lima menit, makanan di dalam piring sudah tandas. Jesika pun bergantian menyuapi suaminya. Alex hanya menurut.
"Padahal makan masing-masing lebih cepat selesai!" batin Alex, menatap istrinya dengan rasa kebingungan.
"Biar romantis!" celetuk Jesika, seakan-akan bisa membaca isi pikiran Alex yang mencibirnya.
"Apa kau bisa mendengar isi hatiku?" tanya Alex, memicingkan mata.
"Maksudnya?" jawab Jesika, mengerutkan alisnya.
"Oh ... tidak! Aku hanya asal bicara," paparnya seraya membuka mulutnya lebar agar makanan masuk dengan sempurna.
****
Satu jam kemudian ...
Jesika dan Alex sudah berada di ranjang, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Beruntung tidak ada lagi embel-embel adat pada hari kedua.
Keduanya tengah bersiap-siap malam pertama dihari kedua pernikahan. Alex mematikan lampu utama dengan pencahayaan yang terang. Hanya menyala lampu tidur, alhasil ruangan hanya cukup redup dengan pencahayaan temaram.
Keduanya sudah membersihkan diri, bersiap-siap untuk memulai rutinitas malam yang terlewatkan kemarin.
Meski ada rasa malu, Jesika tetap memberanikan diri. Memakai lingerie di depan suaminya. Lingerie itu memang dipinta oleh Alex, sehingga dibelikan oleh mamanya.
"Cantik!" singgung Alex, saat netranya menangkap body yang mulus dan seksi, matanya tak mau menoleh ke arah manapun kecuali pada istrinya.
Ia menatap tubuh seksi yang mulus, body yang ramping, rambut yang terurai bergelombang, manik yang indah, tanpa riasan pun, Jesika tetap cantik.
"Makasih!" jawab Jesika malu-malu.
Sebenarnya, ia tak percaya diri mengenakan lingerie berwarna putih berbahan satin bahkan terlihat area-area tertentu sehingga mengekspose tubuh indahnya.
"Sudah siap?" tanya Alex, memastikan kesiapan Jesika untuk malam pertama mereka.
Jesika pun mengangguk dengan mantap. Wajahnya begitu sumringah saat suaminya akan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Keduanya masih berdiri di sekitar ranjang karena masih bersiap-siap untuk malam ini.
Tiba-tiba, Alex mendorong tubuh Jesika dengan lembut. Perempuan itu hanya tersenyum menatap suaminya. Dalam penyatuan itu, membuat Alex terkejut bukan kepalang.
Meski berkali-kali ia memasukkan benda miliknya, hingga akhirnya lolos dengan sempurna. Namun, rasa kecewa tersirat pada wajah Alex. Ia tak melihat setetes pun cairan darah yang mengucur dipangkal paha istrinya.