
Di sisi lain, Rini langsung menghubungi Jesika saat itu juga, setelah memutuskan sambungan telepon dengan Alex. Rini langsung mencari kontak Jesika dan menghubunginya.
"Halo, Rin?" sapa Jesika, melalui sambungan telepon.
"Halo, Jes kau di mana?" tanya Rini, merasakan kepanikan padahal bukan dia yang terjebak dalam masalah.
"Aku lagi jalan sama bos nih, mau ke Hotel Anggrek. Soalnya ada meeting di sana," terang Jesika.
"Oh ... ada yang perlu aku katakan, Jes. Ini sangat penting," ucap Rini masih dengan keadaan panik.
"Apa? Katakanlah sekarang juga," sahut Jesika.
"Tapi kau jangan bilang-bilang sama Pak Fay, soalnya ini tentang suamimu," jelas Rini.
"Ada apa dengan dia?" Jesika mulai panik, bahkan enggan menyebut namanya.
"Baiklah aku akan menceritakannya, jangan sekali-kali kau menyebutkan nama Alex di depan Pak Fay, ya!" pinta Rini.
"Iya, jangan khawatir, aku juga tidak sebodoh itu!" Saat dia melontarkan kata-kata itu, malah mendapatkan tatapan tajam dari Fay.
"Ada apa, Jes?" bisik Fay penasaran.
Jesika hanya menggeleng, lalu menunjukkan ponsel. Ia kembali berbicara dengan Rini.
"Jes, si Alex baru saja menghubungiku. Aku sendiri tidak tahu dia mendapatkan kontakku dari mana. Lalu, dia menanyakan tentang keberadaanmu tapi aku tidak mengungkapkan yang sebenarnya karena aku perlu mendapatkan izin darimu," lontar Rini, panjang lebar.
"Apa?" seru Jesika, semakin syok dan panik saat mendengar sebutan nama suaminya.
"Iya, Alex baru saja menghubungiku. Kau yang tenang karena sedang berada di samping pak Fay, nanti dia malah curiga dan semakin khawatir!" papar Rini.
"Iya, coba teruskan ceritamu?" sosor Jesika, melanjutkan permintaan itu agar Rini membeberkan persoalan tentang Alex.
"Sepertinya Alex benar-benar mencarimu atau mungkin dia ingin meminta maaf padamu. Terdengar dari suaranya seperti dia berharap kau sedang bersamaku. Aku juga tidak mengerti tapi aku menanyakan padanya ada masalah apa antara antara kau dan dia. Tapi dia malah tidak menjawabnya dengan jujur," keluh Rini, sembari sibuk menyelesaikan pekerjaan.
"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi, Rin. Soalnya kami hampir tiba di hotel!" desah Jesika, mengeluarkan nafas kasar, ia juga tak mau pembicaraan itu didengar oleh bosnya.
"Baiklah, yang penting aku sudah sampaikan sekilas padamu!" tambah Rini.
"Iya, terima kasih, Rin!" kata Jesika, lalu mematikan sambungan telepon itu dengan cepat. Ia pun terdiam dan termenung setelah memikirkan perkataan sahabatnya tadi.
"Ada apa, Jes?" tanya Fay, membuyarkan lamunan Jesika.
"Nggak ada apa-apa kok, Bos. Hanya masalah sepele di kos-kosan," kilah Jesika, menghindari pertanyaan Fay.
"Oh ... aku kira ada yang genting. Kalau ada yang penting katakan saja padaku supaya aku mengantarkanmu pulang atau ke kantor lagi," sela Fay, memberi perhatian penuh pada sekretarisnya.
"Nggak ada yang penting, Pak kita lanjutkan saja perjalanan," tandas Jesika.
Fay melajukan mobil dengan kecepatan sedang agar bergegas tiba di tempat tujuan mereka yakni di mana meeting digelar. Hotel Anggrek yang menjadi tempat pertemuan itu sudah sangat ramai dengan kehadiran seluruh para pengusaha dalam berbagai bidang bisnis.
Saat Fay dan Jesika berjalan beriringan, keduanya mendapatkan tatapan yang aneh dari orang-orang yang mereka lintasi. Mereka dianggap sangat serasi seperti pasangan kekasih.
"Pak, mereka kenapa sih natap kita kayak gitu?" keluh Jesika, merasa risih.
"Saya juga tidak tahu!" ucap Fay, dengan formal karena mereka tengah berada di keramaian.
Fay juga tidak mau membuat Jesika merasa tidak nyaman. Tak sedikit yang mengira kalau Fay dan Jesika memiliki hubungan lebih dari seorang rekan kerja. Oleh karena itu, Fay harus menggunakan kata-kata yang formal untuk membedakan posisi mereka jika sedang intens berada di tempat pekerjaan.
Sebenarnya, Fay sendiri masih berusaha untuk mendekati Jesika agar bisa meraih hati sekretarisnya itu. Fay juga berniat menjadikan Jesika sebagai kekasih. Kecantikan Jesika memang patut membius orang-orang disekitar terutama kaum pria.
"Tapi tatapan mereka aneh sekali!" sungut Jesika, merasa tidak nyaman dengan kondisi itu.
"Sudahlah, jangan dipikirkan!" ucap Fay, segera melangkah dengan lebar agar segera memasuki ruang meeting yang sebentar lagi akan dimulai.
Didampingi oleh Jesika, keduanya masuk ke dalam ruangan. Mereka sudah disambut oleh berbagai para pengusaha yang tergabung dalam meeting besar-besaran, pengusaha itu berasal dari seluruh penjuru negeri ini.
Saat berjalan menyusuri ruangan, Fay juga menyapa para kolega serta pengusaha yang ia kenal. Namun, ia juga melakukan perkenalan dengan pengusaha-pengusaha yang baru, setelah meminta rekomendasi dari pengusaha yang dikenalnya.
Dalam kesempatan itu, Fay juga ingin menambah kolega yang akan bergabung dengan perusahaan miliknya. Fay sangat memiliki keinginan untuk mengembangkan perusahaan kargo dalam memberikan pelayanan pengiriman di seluruh negeri maupun hingga ke luar negeri.
Jesika yang cekatan terus saja mengekori bosnya dari belakang. Ia juga berkenalan dengan beberapa pengusaha bahkan ada juga pengusaha yang kepincut dengan kecantikannya.
Dengan polesan yang sederhana, Jesika bak magnet, memiliki aura yang luar biasa, mampu menarik perhatian lelaki disekitar.
Bahkan, tak sedikit dari pengusaha itu yang menanyakan langsung pada Fay serta minta dikenalkan pada mereka tentang siapa perempuan yang berada di sampingnya.
"Fay, siapa itu perempuan yang di sampingmu?" celetuk seorang pengusaha.
"Oh ... kenalin dia sekretarisku!" sahut Fay, lalu Jesika pun mengulurkan tangan sebagai niatan baik meskipun sebenarnya ia merasa risih karena banyak yang penasaran dengannya.
"Waw ... sekretarismu boleh juga!" timpal pengusaha yang lainnya.
****
Alex menghubungi keluarga di kampung. Namun, ia tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir sehingga dia menghubungi kakak tertuanya—Juli.
"Halo, Ito bagaimana kabarmu?" sapa Alex, setelah jawaban telepon diterima.
"Kabar baik, Ito. Apakah kau sudah menemukan Jesika?" tanya Juli, to the point lantaran masih penasaran dengan keberadaan iparnya itu.
Bahkan, kondisi di kediaman Maruli masih gempar meski sudah sebulan berlalu. Maruli dan istrinya masih berusaha mencari jejak parmaennya.
"Justru aku ingin menanyakan itu padamu. Barangkali dia kembali kepada kedua orang tuanya!" hardik Alex, memastikan.
"Tidak! Kami sudah mengecek ke rumahnya, dia memang tidak ada dia di sana. Bahkan, kedua orang tuanya juga belum tahu kalau Jesika sudah kabur! Kami juga tidak berani memberitahukan keadaan itu!" tutur Juli.
Huft ...
Alex menghala nafas kasar, seketika kepalanya merasa semakin pusing saat mendengar kabar seperti itu. Rupanya, Jesika memang benar-benar melarikan diri, menghindari seluruh pihak keluarga padahal dirinyalah yang menjadi penyebab utama kepergian wanita itu.