Sinamotku

Sinamotku
bayang-bayang



"Bagaimana ini!" lirih Alex pada Rinto, memberikan tatapan tajam pada sahabatnya.


Lalu, ia kembali membalas kata-kata sang kakak. "Yasudahlah, nanti aku kabari lagi kalau ada kabar baik!" ucap Alex, saat ingin mematikan sambungan telepon, nyatanya sambungan sudah terputus karena Juli yang mematikan lebih dahulu.


Juli masih kesal pada adik lelakinya, karena memang tidak tahu diri sebagai seorang suami. Alex berhasil membuat kedua orang tuanya kecewa termasuk orang tua Jesika sendiri.


"Apa hasilnya, Lex?" tanya Rinto, penasaran. Namun, Alex mengangkat kedua tangannya, dan menengadahkan ke atas, dengan kedua bahu yang tersentak.


****


Selama satu hari penuh, Jesika sibuk menemani bosnya dalam acara perhelatan perkumpulan para pengusaha. Bahkan, Fay berhasil mengajak beberapa pengusaha yang bergabung dalam perusahaannya untuk menginvestasikan pengembangan bisnis kargo yang dikelolanya.


Tak hanya itu, Fay juga berhasil mendapatkan rekan bisnis yang ingin membuka cabang kargo di daerah lain. Hingga meeting yang digelar selesai, sedikitnya Fay sudah berhasil mengajak puluhan pengusaha yang akan mengembangkan usahanya.


Setelah menyelesaikan meeting, tampak saat itu sudah malam hari. Fay juga menyarankan pada Jesika agar lebih baik menginap di Hotel Anggrek, dengan memesankan dua kamar berbeda. Namun Jesika menolak, tak setuju dengan pendapat Fay lantaran ia mendapatkan pikiran buruk mengenai niatan bosnya tersebut.


"Apa kita menginap di sini saja? Sudah malam dan terlalu lelah untuk pulang!" usul Fay, memang tampaknya Fay tidak ingin pulang ke rumah karena kerap dicecar oleh kedua orang tuanya mengenai pernikahan yang tak kunjung dilakukan karena jodohnya yang belum muncul.


"Kalau, Bos mau menginap di sini silakan saja, saya lebih baik pulang!" sahut Jesika.


Karena tawaran Fay ditolak oleh Jesika, akhirnya dia juga memilih pulang sekaligus mengantarkan sekretarisnya itu ke kos-kosan, tempatnya tinggal.


"Baiklah, kalau begitu saya antarkan kamu pulang!" imbuh Fay, kemudian mereka berlalu pergi.


Setelah tiba di rumah, ternyata rasa mual kembali muncul di pangkal kerongkongan Jesika, ia ingin memuntahkan semua isi perut. Padahal, baru tadi sore ia menyantap makanan hotel yang enak dan mewah.


Huek ... Huek ...


Suara muntahan Jesika ternyata cukup keras. Bolak-balik ia berlari ke wastafel agar membuang seluruh makanan yang mengganggu di pangkal kerongkongan.


Semua makanan yang mengisi perutnya ternyata tumpah ruah ke dalam wastafel. Entah mengapa perutnya merasa lega dan kosong setelah menghabiskan isi perut yang sempat diisi tadi sore.


Suara muntahan itu rupanya terdengar hingga ke dalam kamar Rini. Ia berlari menuju kamar Jesika dengan kondisi pintu yang sedikit terbuka, Jesika buru-buru berlari ke wastafel sehingga tidak sempat mengunci pintunya.


"Kenapa, Jes?" tanya Rini, panik.


"Aku tidak mengerti, Rin. Sudah seminggu ini aku merasakan mual yang sangat menyesakkan, begitu juga dengan kepalaku sering terasa pusing," beber Jesika.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Agar kau diperiksa, takutnya ada suatu penyakit yang mengerubung di dalam tubuhmu!" ucap Rini.


"Nggak usalahlah, Rin mungkin ini hanya sekedar masuk angin biasa. Aku juga sudah memanggil tukang pijat untuk datang ke sini," jelas Jesika.


"Baiklah, kalau begitu!" Rini pun duduk di tepian ranjang Jesika, ia menunggu sampai Jesika merasa tenang untuk melanjutkan kembali pembicaraan mengenai Alex.


Tak berselang lama, Jesika kembali dari wastafel. Ia juga duduk di tepi ranjang, menatap Rini seraya menghela nafas kasar.


"Bagaimana tuh si Alex? Kalau dia benar-benar mencarimu, apa tidak sebaiknya kau menghubungi dia lagi? Aku punya nomornya nih," celetuk Rini, menatap manik indah Jesika.



...Jesika yang cantik...


"Sudahlah, Rin biarkan saja. Lagian aku tidak mau ambil pusing tentang dia. Lagipula dia yang mengusirku bukan aku yang pergi dari rumah itu!" erang Jesika.


"Aku mengerti perasaanmu, Jes tapi mungkin ada hal yang harus kalian selesaikan tentang pernikahan. Apakah kalian sudah benar-benar bercerai? Bukannya proses perceraian itu belum terjadi?" sergah Rini, menatap lekat sahabatnya yang cantik.


"Memang aku belum mengurusnya tapi biarkan sajalah itu menjadi urusannya. Lagian aku tidak memusingkan hal itu, aku sudah hidup tenang di sini selama 1 bulan dan aku menikmatinya," racau Jesika.


"Yasudahlah, kalau itu memang keputusanmu. Aku hanya bisa mengikuti dan memberi saran karena kau yang menjalani kehidupanmu. Yang terpenting aku sudah menyampaikan semua yang terjadi hari ini," papar Rini.


Kemudian, Rini berpamitan untuk kembali ke kamar, setelah memastikan kondisi Jesika yang baik-baik saja. Kemudian, Jesika mulai beranjak, lalu membasuh wajah.


Ia juga menunggu kedatangan tukang pijit yang memang bisa dipanggil untuk datang ke rumah, siapa tahu bisa mengobati masuk angin yang dideritanya sejak seminggu lalu.


Hampir setengah jam Jesika menunggu kedatangan tukang pijat tapi rasa mual terus saja menyerangnya.


"Kenapa sih tadi saat kerja tidak ada rasa mual tapi pas udah pulang ke rumah malah mual-mual lagi," keluh Jesika dengan rasa kesal.


****


Alex baru saja merebahkan diri di atas ranjang, sejak beberapa jam yang lalu ia sudah berpisah dengan Rinto. Memang saat itu juga, Alex mengatakan pada Rinto bahwa dirinya tak mendapatkan hasil yang maksimal setelah mencari tahu keberadaan Jesika.


Sampai detik ini, Alex tak mengetahui jejak keberadaan Jesika. Ia juga merasakan hal yang membuatnya terus saja larut dalam pikiran, yakni memikirkan bagaimana nasib Jesika yang hidup berjuang seorang diri.


"Bagaimana ini, apakah dia memang bisa hidup dengan nyaman? Aku jadi merasa bersalah," gumam Alex.


Alex seakan-akan larut dalam pikirannya, meratapi keterpurukan yang terus dihantui oleh sang istri. Hingga akhirnya, ia terlelap dalam tidur. Di dalam dunia alam bawah sadar, lagi-lagi Alex didatangi oleh sosok Jesika, yang sepertinya meronta-ronta meminta pertolongan.


Mimpi itulah yang membangunkan Alex dari tidur lelapnya. Dengan nafas yang terenggal-unggal, Alex mendudukkan tubuhnya, lalu menenangkan diri karena terbangun secara tiba-tiba.


"Aish!" decak Alex, mimpi ini membuatnya semakin tak bisa lepas dari bayang-bayang Jesika.


Dengan rasa sesal, Alex mengusap wajah agar tersadar secara penuh. Kemudian, ia beranjak dari kasur, lalu membasuh wajah agar merasakan kesegaran.


Untuk saat ini, Alex tinggal di apartemennya yang luas dan megah berada di pusat kota. Namun, entah mengapa ia merasakan kesepian tinggal di apartemen itu karena Jesika kerap selalu membayangi pikiran. Ia bahkan tak bisa lepas walaupun kini Jesika sudah tidak berada di sekitarnya.


***


Keluarga Jesika merasakan adanya kejanggalan, sebab sudah sebulan lamanya Jesika tak pernah mampir ke rumah ataupun hanya sekedar berpamitan pada kedua orang tuanya jika benar harus berangkat ke ibu kota bersama sang suami.


Irma sampai menyambangi kediaman Maruli untuk mempertanyakan di mana keberadaan boru sasadanya itu.