Sinamotku

Sinamotku
menggilaiku



"Yaudahlah kalau begitu, Lae nanti kabari aku saja, kalau benar si Alex pulang ke desa ini untuk proses perjodohan. Kami siap kapan pun akan digelar perjodohan," ungkap tulang Yongki, kemudian berpamit pergi meninggalkan kediaman Maruli.


Ima pun menghampiri suaminya setelah melihat abang kandungnya pergi dari rumah itu. Ia penasaran apa yang tengah dibicarakan oleh suaminya bersama sama abang kandungnya, sebab dirinya tidak dilibatkan dalam pembicaraan. Oleh karena itu, Maruli membuat keputusan secara sepihak tanpa mengkompromikan dengan sang istri.


"Pak, ada apa tadi tulang si Alex datang ke sini?" cecar Ima, duduk disamping sang suami yang berada diruang tamu.


"Biasalah, nanti saja kubicarakan, aku mau istirahat dulu capek selesai mengobrol beberapa lama dengan Abangmu," tandas Maruli, segera meninggalkan istrinya.


Ima hanya terdiam kaku melihat kepergian suaminya, sepertinya pria itu sengaja menyembunyikan apapun yang ia lakukan. Tak ada Jawaban yang pasti dari Maruli, bahkan pria itu pergi begitu saja tanpa berpamitan pada sang istri.


Ima khawatir bahwa suaminya akan bertindak sesuai keinginannya sendiri. Bahkan ia curiga kalau Maruli tetap bersikukuh ingin menjodohkan Alex dengan wanita pilihannya. Apalagi, Ima mengkhawatirkan perjodohan itu akan berlangsung melinatkan keluarga Abang kandungnya yaitu pariban Alex.


"Masa iya sih, si Alex mau dijodohkan sama si Marta. Udah terlalu jauh latar belakang mereka," ujar Ima, tak setuju jika Alex memiliki istri yang tidak sepadan dengan anak lelakinya.


Alex adalah pria tampan. Bahkan ia memiliki kekayaan dengan kehidupan yang mapan. Tak hanya itu, Alex juga pria berpendidikan tinggi dengan pekerjaannya yang mumpuni, sehingga menurut Ima justru Martha tidak layak berada di samping Alex.


"Perempuan kampungan kayak gitu mau dijodohkan sama anakku. Aku tidak setuju!" tegas Ima dalam batin, sembari bergeleng-geleng kepala.


Ia memang tidak setuju jika Martha adalah perempuan yang dipilih oleh suaminya untuk menjadi pendamping Alex.


"Walaupun si Marta itu adalah anak Abangku sendiri tapi aku tidak setuju. Dia sangat tidak layak untuk dijadikan seorang Istri, pendidikannya saja hanya sampai SMA. Parasnya pun tidak cantik," gumam Ima, merutuki kehidupan pribadi pariban Alex.


Untuk kali ini, Ima tak satu suara dengan suaminya, walaupun itu masih ada keterikatan tentang hubungan keluarga.


****


Setelah memasuki petang hari, Fay baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan ia merasa lelah hingga segera pulang ke rumah. Namun, orang tuanya menanyakan soal hubungan dengan perjodohan yang terakhir kali dilakukannya dengan Mutia.


"Fay, tunggu dulu, kau mau ke mana?" Betharia mencegah kepergian anak satu-satunya yang menyelonong masuk begitu saja tanpa pamit.


"Apalagi sih,Ma aku ini sangat capek setelah bekerja seharian, aku ingin istirahat dulu," jawab Fay, dengan malas hingga memutar bola matanya defan sinis.


Walaupun Fay tetap menjawab pertanyaan sang mama dengan lirih dan lembut. Ia tetap menunjukkan kesopanan sebagai seorang anak.


"Mama, mau menanyakan soal perjodohanmu yang terakhir kali, jadi apa kau berminat dengan dia?" tanya Betharia.


"Belum pasti. Soalnya kami masih bikin perjanjian untuk dua kali lagi pertemuan karena kami sama-sama belum saling menyukai kalau misalnya merasa cocok bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan," tandas Fay dengan gamang.


"Yang benar?" Betharia pun terperanjat berdiri mendengar perkataan Fay, ia terkejut mendengar penuturan sang anak.


Sepertinya, ia merasa ada peluang untuk anaknya agar bisa segera melangsungkan pernikahan sesuai dengan adat batak yang mereka anut.


"Wah ... berarti ada peluang juga aku menjodohkan dia sama perempuan itu, mungkin dia memang calon parmaen yang tepat," batin Betharia, sembari menatap ponsel, di sana ia melihat satu grup watsapp khusus untuk emak-emak sosialitas, dikhususkan untuk menjodohkan anak-anak mereka dari kalangan konglomerat.


Perkumpulan para emak-emak yang tergabung saat mencari jodoh untuk anak-anak mereka namanya sosialita jodoh. Oleh karena itu, Betharia mendapatkan jodoh untuk Fay yang terakhir kali dari grup tersebut. Dia berharap bahwa perempuan itu adalah orang terakhir yang dipilihnya sebagai calon untuk sang anak.


***


Sementara, pikiran Fay masih melayang-layang, dia khawatir bahwa terjadi sesuatu pada Jesika. Namun, untuk menghubungi Jesika, justru Fay merasa malu apalagi mereka tidak memiliki hubungan sama sekali hanya sebatas bos dan karyawan.


Fay kemudian mengingat kembali tentang perjodohan yang diungkit oleh sang Mama. Ia pun merasa jengah ketika didesak harus segera menikah, berkali-kali ia mengacak rambut hingga menyugarnya dengan rapi meskipun Fay tengah terbaring di atas ranjang. Rasa frustasi tak kunjung hilang dari pikirannya.


****


Jesika dan Alex tampak senang mendampingi putrinya, sesekali ia hanya memantau dari kejauhan saat Alea asik bermain perosotan hingga bermain bola-bola. Tak hanya itu, Aleandra juga mencoba berbagai permainan lain yang bisa mengedukasi anak-anak seusianya.


"Jes, apakah kita bisa bersatu kembali?" tanya Alex, menarik tangan Jesika dan menggenggamnya dengan erat.


Mereka duduk berdua di tepi tempat permainan dengan keadaan yang cukup sunyi agar tidak ada orang yang melihat kedekatan mereka berdua.


"Aku yakin bisa, Bang tapi sejujurnya aku masih merasa sakit hati pada Abang, aku belum sepenuhnya bisa cinta lagi, padahal saat baru menikah, aku sangat mencintai Abang dan sudah sangat menerima perjodohan itu," ungkap Jesika, menatap manik indah Alex .


"Jadi sekarang kau sudah tidak mencintaiku lagi?" seru Alex seraya membalas tatapan lekat istrinya yang tengah termenung dan larut dalam pikirannya sendiri.


"Entahlah, rasa itu mungkin masih ada tapi tidak sepenuhnya perasaanku ada padamu. Aku ingin kau benar-benar membuatku luluh dan benar-benar mencintaimu kembali," beber Jesika.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk meraih kembali hatimu, termasuk meraih hati anak kita, aku juga tidak ingin dipanggil dengan sebutan Om. Padahal aku bukan om-om loh," canda Alex sembari terkekeh.


"Kau memang om-om kok, Bang buktinya kau sudah tua," seloroh Jesika, ikut tertawa dengan suaminya.


"Aku belum tua loh, usiaku masih kepala tiga kok, parasku sangat tampan, masih banyak perempuan yang menggilaiku," tutur Alex tanpa pikir panjang.


Perkataan Alex membuat Jesika seketika cemburu, ia merasa kesal mendengar penuturan suaminya yang sengaja membuatnya semakin panas.


"Yaudah, Abang pergi sana sama perempuan-perempuan yang menggilai Abang," sergah Jesika, dengan nada yang ketus.


"Ih ... gitu aja merajuk. Abang bercanda kok tapi memang serius masih banyak perempuan yang mendekatiku, cuma aku selalu menolak mereka, bersikap dingin dan ketus," tambah Alex.


"Sudah seharusnya lah Abang bersikap begitu karena kita masih terikat dalam pernikahan. Waktu itu belum ada kejelasan dari Bang Alex, makanya aku tidak pernah mau mengajukan gugatan cerai," kecam Jesika.


Alex hanya terkaku diam, ia dulunya sempat memikirkan untuk mengajukan gugatan cerai sebelum ada penjelasan dari sahabatnya seorang dokter kandungan—Rinto yang juga mantan Jesika. Tetapi pada akhirnya, Alex mengurungkan niat itu bahkan dengan serius mencari keberadaan Jesika yang tidak kunjung ditemukan.