Sinamotku

Sinamotku
sosok ayah



"Ya, saat itu kan situasinya berbeda, Bang kita sama-sama belum bisa saling menerima satu sama lain. Jadi aku berpikir lebih baik memang aku memilih untuk hidup sendiri dibandingkan harus menahan malu jika kau tidak bisa menerima aku."


Keduanya terus berbincang-bincang hingga tak terasa 1 jam berlalu. Bahkan, praktek Alex tertunda, para pasien mulai protes dan mengeluh karena sang dokter berkunjung menerima antrian pasien.


Akhirnya perawat—Bulan memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan Alex tapi pintunitu tak kunjung dibuka karena keduanya masih sibuk mengobrol sehingga Jesika akhirnya tersadar bahwa ada orang yang dari tadi sengaja mengetuk pintu untuk menghentikan pembicaraan mereka.


Tok ... Tok ...


"Bang, bukakan dulu pintu itu, sepertinya dari tadi perawat mengetuknya, mungkin Abang harus melanjutkan praktek kerja ini, biarkan aku pulang karena kasihan anakku sudah menunggu selama 1 jam," pinta Jesika, menghentikan cerocosan Alex.


Alex mengambil ponsel Jesika yang berada di dalam tas. Ia memasukkan nomor ponsel dan meminta alamat Jesika saat itu juga. Karena ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Kemudian, keduanya berpamitan. Saat pintu terbuka, perawat langsung menyampaikan keluhan yang diberikan oleh para pasien sejak dari tadi.


"Permisi, Dok dari tadi para pasien sudah menunggu. Apakah bisa dilanjutkan prakteknya? Soalnya sudah banyak yang marah-marah," jelas Bulan.


"Baiklah, lanjutkan untuk antrian kedua," kata Alex, kemudian melambaikan tangan pada Jesika yang sudah berjalan mulai meninggalkan rumah sakit.


Entah mengapa Alex merasa bahagia semenjak dipertemukan kembali dengan istrinya. Ia mulai menyiapkan siasat untuk mendekati putri mereka yang saat ini belum mengenalnya.


Kemudian, Alex melanjutkan kembali proses penanganan pada pasien yang ingin mendapatkan perawatan selama seharian penuh hingga seluruh pasien merasa puas dengan hasil kinerjanya.


***


Jesika dan Alea baru saja tiba di rumah karena gadis kecil itu penasaran dengan sang dokter ia langsung menanyakan pada sang mama.


"Ma, apakah dokter tadi adalah papaku?" celetuk Alea, yang menangkap momen tadi dan menganggap bahwa pria itu sepertinya seseorang yang sangat berharga bagi Jesika.


Jesika pun langsung mengangguk dengan mantap, ia menjelaskan pada putri semata wayangnya bahwa Alex adalah pria yang selama ini dicari oleh anaknya.


"Iya, Sayang dia papamu yang kamu rindukan dan cari selama ini," beber Jesika.


"Loh, papa ada di sini juga tapi kenapa dia tidak pernah mau menemuiku. Sejak aku kecil kita hanya bertiga saja sama mama Rini," tandas Alea, dengan bijak, gadis itu sangat berpikiran dewasa walaupun usianya masih 4 tahun.


Padahal, terlalu dini untuk anak seusia itu sudah mengerti dengan perkataan orang dewasa. "Papa baru datang kok, Sayang baru ditugaskan di kota yang sama dengan kita jadi selama ini papa sibuk bekerja di tempat yang jauh sekali," ungkap JesikaZ


"Lalu kenapa papa tidak pernah mau menghubungiku? Kenapa papa sejahat itu sih," racau gadis kecil itu.


"Kan papanya sibuk sayang untuk mencari uang agar kehidupan kita di sini nyaman, jadi Mama juga tidak berani menghubunginya," sahut Jesika, dengan nada yang sangat lembut.


"Tidak, pasti lapa tidak menyayangiku makanya dia tidak mencariku, kan?" sesal Alea


"Nggak, Sayang mulai nanti papa pasti akan mencari kamu. Karena dia sudah berada di sini bersama kita, dia akan terus berada didekatmu," seloroh Jesika.


"Apakah kita akan tinggal bersama papa mulai saat ini?"


"Belum, Sayang tapi seiring waktu berlalu kita akan bisa berkumpul bersama," jawab Jesika dengan lugas.


"Nggak mau, Alea pengen tinggal sama papa bareng-bareng. Tolong mah kita harus tinggal sama papa, Alea rindu sama papa, ingin seperti anak-anak lain," ketus Alea seraya memalingkan wajah dari tatapan sang mama.


Alea pun hanya mengangguk, ia merasa bersemangat setelah mengetahui keberadaan oapanya apalagi pria itu sangat tampan seperti impian anak-anak pada umumnya yang memiliki seorang papa yang sangat tampan dan muda.


Bahkan, tak sabar rasanya untuk bertemu dengan sang pala setelah tadi melakukan pertemuan secara tidak sengaja saat berada di rumah sakit, apalagi sang Mama mengatakan bahwa hari ini papanya akan datang ke rumah.


Alea beristirahat sejenak setelah meminum obat yang diresepkan oleh Alex, lalu ia diminta untuk tidur siang oleh Jesika. Sedangkan, Jesika tengah sibuk di dalam kamar, kejadian hari ini ia tak pernah sangka bisa bertemu dengan suaminya di kota yang menjadi tempat pelariannya.


Jesika ingin mengabari Rini tetapi ia khawatir kalau Rini akan marah padanya apalagi tahu bahwa Jesika memberi kesempatan pada Alex untuk memperbaiki hubungan mereka.


Niat Jesika kembali menguat, ia tetap menghubungi Rini dan memberi kabar agar nantinya saat bertemu dengan Alex, sahabatnya itu tidak terkejut.


"Halo, Rin kau di mana?" ucap Jesika melalui sambungan telepon.


"Ya, masih di kantor, Jes ada apa tumben siang-siang begini menghubungiku?" tanya Rini penasaran.


"Aku ada kabar yang harus kuceritakan padamu. Entahlah ini antara kabar buruk atau kabar baik, aku sendiri tidak tahu! Sebenarnya tadi aku bertemu dengan bang Alex," ujar Jesika, tanpa basa-basi.


"Apa? Alex? Suami yang mencampakkanmu itu?" sosor Rini dengan ketus.


"Iya, suamiku ternyata ada di kota ini, Rin dia tadi yang menangani anakku saat harus mendapat pengobatan."


"Jadi dia dokter gigi yang menangani luka Alea?" sahut Rini, sembari mondar mandir tak karuan di sekitar meja kerjanya.


"Iya, dia mendapat luka di gusi yang robek sehingga harus dijahit. Bang Alex saat itu dokter gigi yang menanganinya," jawab Jesika.


"Lalu dia menanyakan tentang ayah anak itu?" timpal Rini semakin penasaran.


"Iya aku sudah berkata jujur padanya kalau Alea itu adalah anaknya dan dia bisa menerima itu. Aku tidak menyangka, bahkan dia berkali-kali memohon dan bertekuk lutut di hadapanku untuk meminta maaf akibat kesalahannya di masa lampau," beber Jesika.


"Hah ... Alex meminta maaf hingga bertekuk lutut padamu. Apakah itu benar-benar terjadi?" Rini masih tak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini.


"Rin, aku sendiri tidak percaya dengan kejadian itu. Bang Alex benar-benar berubah, dia benar-benar ingin memperbaiki hubungan hubungan antara suami istri diantara kami. Bahkan dia berjanji akan mendekati Alea untuk menjadi seorang papa yang baik," tandas Jesika dengan jelas.


"Lalu kau menerimanya begitu saja?"


"Iya, ku sebenarnya masih mencintai Bang Alex hanya saja sejak dalam 5 tahun kemarin aku merasa minder kalau harus menghampiri Bang Alex lebih dulu," papar Jesika, seraya menatap langit-langit kamar.


"Aku khawatir Bang Alex masih tidak bisa menerima aku sehingga dalam 5 tahun ini, aku bersusah payah untuk hidup sendiri bersama anakku," lanjut Jesika lagi.


"Lalu, apa kau tidak berniat memberikan dia pelajaran?" ketus Rini.


"Sudahlah, lupakan saja masa lalu, kita harus melalui masa depan, Rin. Aku ingin memperbaiki semuanya dan tidak ingin membiarkan anakku hidup tanpa seorang ayah," tukas Jesika.


Rini pun akhirnya luluh mendengar perkataan Jesika, ia sebenarnya tidak tega melihat kehidupan Jesika yang hanya merawat anaknya seorang diri, walaupun ia ikut terlibat membantu untuk merawat Alea dan selalu berada di sisinya tetapi Alea tetap butuh sosok seorang ayah.


"Yasudahlah, kalau itu memang keputusanmy. Aku akan mendukungmu, Jes. Kau harus memperbaiki hubunganmu dan kembalilah pada suamimu dengan baik-baik," saran Rini.


"Iya, Rin ... aku memberi kabar ini karena kaulah orang yang pertama selalu berada di sisiku. Aku tidak ingin kau terkejut saat Bang Alex datang ke rumah ini," sambung Jesika.