
Jesika menghubungi Rini lagi, saat ia sudah berada di lobby hotel. Ia meminta Rini turun untuk menghampiri.
"Halo, Rin, aku sudah di lobby hotel. Tolong kau segera ke sini!" ucap Jesika, setelah Rini menjawab panggilan itu.
"Iya, Jes! Tunggu sebentar, aku ke bawah dulu." Rini pun bersiap-siap turun keluar dari kamar. Tak berselang lama, ia sudah berada di dekat Jesika, menatap wajah Jesika yang terlihat sendu dari kejauhan.
"Ada apa, Jes? Ini masih subuh loh. Bukannya kau baru menikah, kenapa malah di sini bukan tidur bersama suamimu?" tanya Rini setelah berada di sebelah Jesika.
Jesika dan Rini segera menuju kamar tanpa mengatakan apapun. Jesika hanya terdiam tak berani mengucap apa-apa. Bahkan, ia tak menjawab pertanyaan dari Rini.
"Jes, kenapa kau diam aja dari tadi. Bicaralah apa yang terjadi hari ini," sambung Rini, berjalan beriringan dengan Jesika, menatap dengan rasa penasaran.
"Tunggu kita sampai di kamar ya, Rin," jawab Jesika, butuh ketenangan untuk mengungkap semua yang dialami malam ini.
Rini mengangguk, lalu menunjuk arah di mana kamarnya berada. Keduanya masuk ke dalam sebuah kamar dilengkapi ranjang Queen size. Keduanya duduk di tepian ranjang.
Kemudian Rini memberikan sebotol air mineral pada Jesika, bermaksud menenangkan sahabatnya.
Huft ...
Jesika menarik, lalu mengeluarkan nafas kasar setelah ia meneguk sebotol air mineral itu. Setidaknya, dirinya bisa berpikiran lebih jernih dan bercerita tentang apa yang terjadi tengang apa yang dialami hari ini.
Mengapa ia sampai harus menemui Rini malam-malam begini?
Ia menatap lekat wajah Rini, terlihat raut wajah yang merasakan kantuk. Rini memang sudah sempat tertidur dan harus terbangun saat Jesika menghubunginya.
"Aku hanya berani bercerita padamu. Kejadian ini benar-benar di luar nalarku. Aku tidak menyangka suamiku menuduhku yang tidak pernah kulakukan sebelumnya," ungkap Jesika.
"Menuduh apa?" tanya Rini.
"Saat tadi kami melakukan malam pertama, tidak ada setetes darah pun yang keluar dari intiku. Melihat hal itu, dia marah bahkan meluapkan kekesalannya langsung padaku. Dia menuduhku, kalau aku tak bisa menjaga kehormatanku."
"Apa? Dia berani berkata seperti itu?" tanya Rini.
"Iya, Rin." Jesika tertunduk dengan lesu.
"Astaga, apakah dia tidak tahu kalau tidak keluar darah itu bukanlah satu-satunya yang menunjukkan kita sudah tak suci lagi? Tidak keluar darah dari punyamu itu bukan berarti kau tidak perawan tetapi mungkin sebagian dari 100% wanita yang ada di dunia ini, tidak semuanya bisa mendapatkan darah saat melakukan malam pertama," ucap Rini panjang lebar.
"Maksudmu bagaimana, Rin? Aku sendiri terus bertanya-tanya mengapa tidak ada setetes darah pun yang keluar saat kami melakukannya. Setahuku, untuk malam pertama yang terjadi pada perempuan memang harus keluar darah tapi kenapa tidak terjadi padaku?" Jessica terus bertanya-tanya, menatap wajah sahabatnya dengan sendu.
Rini menggenggam tangan Jesika, menatapnya dengan lekat. "Jadi gini, Jes tidak semua perempuan dianugerahi selaput darah, memang ada yang bawaan lahir atau rusak saat kita kecil karena terjatuh atau apapunlah. Jadi darah itu bukan menentukan keperawanan seseorang," tegas Rini, semakin sewot pada suami Jesika yang tak mengetahui hal sekecil itu.
Jesika hanya terdiam, larut dalam pikirannya. Mungkin dia adalah satu dari beberapa persen wanita yang tidak memiliki selaput darah seperti yang dikatakan sahabatnya.
"Tidak perlu khawatir tapi bagaimana rasa saat malam pertama. Apa punyamu sakit?" tanya Rini, memastikan kondisi sahabatnya, dan Jesika mengangguk.
"Sakit sekali, Rin. Aku bahkan susah untuk berjalan. Hanya bisa berjalan dengan lambat sekali, kau lihat sendiri tadi," ujar Jesika.
"Lantas aku benar masih suci kan, Rin?" tanya Jesika lagi, berusaha menyakinkan dirinya.
Rini mengangguk dengan mantap, yang ia tahu walaupun Jesika suka menggoda lelaki karena kecantikannya tetapi Jesika adalah perempuan baik-baik yang selalu menjaga kehormatannya.
"Kau bisa mendatangi dokter kandungan, untuk mempertanyakan kondisi medis yang kau alami saat ini. Jadi kau nggak perlu khawatir, tenang saja!" imbuh Rini.
"Suamiku seorang dokter, mengapa ia tidak mengetahui kondisi ini? Bahkan sampai menuduhku tak suci lagi," sungut Jesika, merasa kesal pada pria itu.
"Mungkin saja memang dia tidak tahu. Persoalan itu juga masih tabu, tidak semua lelaki bisa menerima penjelasan tentang selaput darah perempuan. Mereka menganggap semua perempuan sama," seloroh Rini.
Rini memang mengetahui tentang persoalan perempuan lantaran pacarnya adalah seorang dokter kandungan. Tak sedikit perempuan yang bertanya pada pacarnya tentang kondisi seperti yang Jesika alami. Dan persoalan itu kerap diceritakan oleh sang pacar padanya.
"Kenapa ada dokter sebodoh itu?Apakah dia tidak tahu kondisi medis yang menyatakan kalau tidak semua perempuan harus merasakan darah saat melakukan hubungan intim pertama kali?" gerutu Jesika, merutuki kebodohan suaminya.
*****
Pagi itu, di rumah Alex sudah gempar karena Jesika tak berada di rumah. Semua keluarga mencari jejak perempuan itu. Namun tak ditemukan sama sekali, hanya Alex lah yang terdiam, tidak ikut mencari keberadaan istrinya.
Karena memang dialah yang mengusir sang istri dari rumah itu.
"Lex, kenapa kau tidak mencari istrimu? Apa yang harus bapak bilang pada kedua orang tuanya, kalau istrimu menghilang seperti ini," cerocos Maruli.
Alex memang tidak mengungkapkan tentang kejadian yang sangat tabu di antara dirinya dan Jesika. Ia ingin melupakan kejadian ini dan menganggap pernikahan itu tidak pernah terjadi.
Bahkan, ia mengatakan Jesika pergi sendiri begitu saja tanpa alasan yang jelas. Hari ini, Alex pulang ke Jakarta. Ia memprediksi keluarganya akan melupakan kejadian ini secara perlahan.
"Lex, coba hubungi Jesika dan keluarganya. Atau kau datangi saja ke rumahnya," tandas Ima, semakin merasa resah saat parmaennya menghilang.
Alex yang hanya duduk santai di ruang tamu, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tak berniat sama sekali untuk berusaha mencari jejak Jesika.
"Biarkan saja dia pergi, dia yang ingin menyudahi pernikahan ini. Anggap saja pernikahan ini tidak pernah terjadi," ketus Alex.
"Kau jangan segampang itu bicara, Nak," cecar Ima.
"Kalian sudah menikah adat secara resmi, mana mungkin pernikahan bisa hilang begitu saja. Semua sudah terikat," hardik Maruli.
"Ah ... lagipula, aku akan segera pulang ke Jakarta. Aku sudah memesan tiket pesawatku dan sekarang aku akan bersiap-siap untuk ke bandara." Alex bergegas meninggalkan ruang tamu.
Penerbangannya akan berangkat saat malam hari. Dan butuh waktu beberapa jam untuk menempuh perjalanan sampai ke bandara dari desanya.
"Hah ... apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin kau meninggalkan istrimu dan menganggap semua yang terjadi dengan enteng!" seru Juli, tak suka melihat sikap adik bungsunya.
Langkah Alex berhenti saat kakak pertamanya ikut berkomentar dan mencampuri persoalan rumah tangganya. "Sudahlah aku malas membicarakan tentang Jesika, jangan pernah menemui keluarga mereka ataupun mencari Jesika!" pesan Alex, kemudian berlalu pergi.
"Cih ... benar-benar gila," decit Kakak Kedua Alex—Beta, meski ia suka iri pada Jesika tapi dia lebih tak suka lagi dengan adik laki-lakinya yang berbuat seenaknya pada perempuan.