Sinamotku

Sinamotku
janji pernikahan



Namun, usahanya sia-sia. Percuma saja ia mengelap dengan tisu ataupun hanya sedekar mengipas saja, noda itu tak akan menghilang.


"Maaf, tuan muda, saya tidak sengaja. Biar saya bersihkan kemejanya," pinta Maid, berkali-kali menunduk meminta maaf.


"Argh!!!" pekik Alex, membuka baju di depan maid, melemparkan baju tersebut pada maid yang tak sengaja menumpahkan kopi.


"Bersihkan sekarang juga! Saya kasih waktu 10 menit. Kalau tidak, kamu akan dipecat!" tegas Alex, berdiri mondar-mandir, merasa khawatir kalau baju itu tidak akan selesai tepat waktu.


*****


Di kediaman Jesika, seluruh keluarga sudah berkumpul. Sanak saudara diperintahkan untuk mendatangi rumah Jesika, sebelum pemberkatan berlangsung.


Keluarga Jesika sudah menyiapkan mini bus mewah untuk mengangkut seluruh keluarga. Sejak jam 3 pagi, Jesika sudah didandani oleh MUA yang datang ke rumah, memakaian kebaya untuk pemberkatan.


Kebaya cantik yang membalut di tubuh ramping, sangat seksi tapi menawan dan anggun. Tak hanya itu, Jesika juga dipoles dengan riasan make up yang natural ala pengantin internasional.


Meski terlihat natural tetapi membuat orang-orang pangling tak mengenali. Namun, wajah khas Jesika masih terihat jelas. Konsep elegant look juga sangat cocok di wajahnya.


Pagi ini, ia sudah terlihat cantik dan menawan. Bersiap-siap hendak menuju gereja tempat pemberkatan berlangsung.


****


Di kediaman Alex, pria itu menggerutu lantaran maid tak kunjung mengantarkan bajunya. Entah mengapa, banyak sekali kejadian sebelum pernikahan digelar.


Pertanda apa sebenarnya ini? Kenapa banyak hal tidak terduga yang terjadi? Saat martupol, tiba-tiba macet dan hampir terlambat sampai. Sekarang, kemejaku kotor karena kopi! Sial, pertanda buruk!


Alex mengumpati semua kejadian yang menimpa dirinya. Ia semakin khawatir kalau kejadian yang telah terjadi adalah pertanda buruk yang akan menghampiri masa pernikahannya.


Setelah 10 menit berlalu, seorang maid tergopoh-gopoh datang menemui Alex. Pria itu menatapnya sangat sengit, waktu yang pas saat seluruh keluarga sudah melengkapi penampilan dan dandanannya.


Alex merampas kemeja putih yang ada di tangan maid, mengecek kondisi baju yang tak ada lagi sedikit pun noda. Ia segera memakai kemeja, lalu membalutkan jas yang hampir terlupakan.


"Ayo, Lex!" tutur Ima, setelah didandani menjadi cantik dipoles dengan make up serta rambut yang tersanggul dengan rapih.


Begitupula kedua kakak Alex, dengan seragam kebaya yang sama dengan sang mama, keduanya mengekori mamanya. Dengan perasaan kesal, Alex juga ikut mengekori kepergian sang mama.


Flashback!


Peralatan rumah tangga di rumah Alex tak bisa dipungkiri kecanggihannya. Beruntung, mesin cuci yang digunakan menggunakan produk hasil import dari luar negeri. Alhasil, dalam 10 menit, baju sudah tercuci bersih dari noda, bahkan mengering tanpa perlu dijemur.


Setelah baju tercuci, maid yang mengerjakan tugasnya, lanjut menyetrika kemeja yang masih kusut karena putaran mesin cuci.


Dengan buru-buru, maid menyetrika kemeja putih agar segera licin dan siap dipakai. Keahlian maid adalah nomor satu, pekerjaan rumah seperti menjentikkan jari bagi mereka.


Untuk sekedar menyetrika, dibantu dengan alat setrika yang canggih memudahkan pekerjaan para maid. Tak sampai satu menit, kemeja itu kembali licin.


Flashback Off!


"Ayo, cepat naik!" teriak Maruli dari dalam mobil.


Lelaki tua itu sudah masuk lebih dulu, ia tak mau keterlambatan terjadi lagi seperti saat acara martuppol digelar. Kali ini, keluarga Alex berangkat lebih cepat, agar tiba di gereja tepat waktu.


****


10 menit di perjalanan, keluarga Alex dan keluarga Jesika datang bersamaan. Alex didampingi oleh kedua keluarga, untuk duduk di kursi jemaat.


Sama halnya dengan Jesika, ia diantarkan duduk di kursi yang berbeda dengan Alex. Keluarga Alex duduk pada satu baris kursi yang berderet, begitu pula dengan keluarga Jesika.


Acara dimulai, pendeta membuka acara sesuai warta yang telah disediakan. Acara pembuka diiringi musik sakral sebagai pujian untuk menyelenggarakan kegiatan ibadah pemberkatan.


Lalu, masuk kepada acara inti, di mana masing-masing keluarga menggiring kedua calon pengantin menuju altar. Diiringi musik khas pernikahan dengan lantunan piano, Alex diantarkan oleh kedua orangtuanya dari sisi yang berseberangan dengan keluarga Jesika.


Acara itu berlangsung sangat formal. Jesika dan Alex saling menatap saat keduanya saling dihadapkan satu sama lain. Lalu, pendeta meminta agar dua insan itu menatapnya.


Pendeta mulai mengucapkan sumpah janji di hadapan tuhan, mengikrarkan pemberkatan pernikahan sebagai bentuk pengesahan agar pria dan wanita itu terikat menjadi satu.


"Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus yang telah memanggil dan mempersatukan kamu dalam perkawinan ini, akan memberkati kamu dan memenuhi rumah tanggamu dengan kasih karunia Roh Kudus, supaya dalam iman, pengharapan dan kasih, kamu hidup suci dan bahagia selama-Iamanya.”


Mempelai pria pun menjawab pemberkatan yang dilakukan oleh pendeta. Mengucapkan kata-kata sesuai dengan penghafalannya.


"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”


Lalu, pendeta melayangkan pertanyaan pada mempelai wanita. "Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya. Maukah saudara menikah dengan Alexander Sidabutar yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"


Jesika menjawab dengan singkat dan lugas seraya mengangguk. "Ya! Saya mau!"


Pertanyaan yang sama juga diungkapkan pada Alex, ia langsung menjawab penuh keyakinan. "Ya, saya mau!"


Seorang jemaat menyerahkan pada pendeta, sepasang cincin yang berada di dalam kotak berwarna merah darah. Kotak itu dibuka agar semua jemaat bisa menyaksikan penyematannya.


"Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih Kristus, yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi saudara berdua, untuk meniru kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga, dengan mengasihi pasangan tanpa awal, juga tanpa akhir."


Alex mengambil cincin yang disodorkan oleh pendeta. Ia mengucapkan ikrar penyematan cincin. "Jesika Pandiangan, cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku.”


Hal yang sama juga dilakukan oleh Jesika, lalu mereka menyematkan cincin secara bergantian. Semua jemaat bertepuk tangan memeriahkan pemberkatan tersebut. Keduanya telah sah terikat janji pernikahan yang sakral setelah menandatangani surat pemberkatan.


Alex mencium kening sang istri di depan seluruh jemaat. Riuh tepuk tangan semakin meriah, kala satu kecupan mendarat di dahi Jesika.