
Membawa cangkul berat di pundak, ia berjalan menyusuri jalanan yang masih sepi. Hanya satu-satu kendaraan yang melintas di jalan raya.
"Hati-hati, Jo!" pesan Jesika, lalu melambaikan tangan pada Jo.
Jo yang melihat, lalu tersenyum sumringah saat Jesika menunduk. Ia semakin sedih saat wanita yang disukai selama bertahun-tahun akan menyandang status baru yaitu istri orang.
****
Jam 8 pagi, Alex sudah berada di depan halaman rumah Jesika. Sesuai rencana, mereka akan ke tempat fitting baju untuk martupol. Rencana lain, membeli sepatu, serta atribut lainnya yang diperlukan.
"Pagi, bang!" sapa Jesika, dengan ceria.
Ia sempat dikabari oleh para maid di rumah, ada seorang tamu yang menunggu. Sebab, Alex dan Jesika belum bertukar nomor ponsel untuk saling mengabari.
"Pagi!" balas Alex, menyematkan senyuman terbaiknya.
"Sudah sarapan?" tanya Jesika, basa-basi.
Namun, Alex menggeleng, nyatanya ia buru-buru ke rumah Jesika sesuai janji temu dengan Bridal Tailor yang berada di perkotaan. Memerlukan waktu hampir sejam untuk tiba di sana.
"Yaudah, masuk dulu, bang! Sarapan di rumah!" ajak Jesika tetapi Alex menggeleng lagi.
"Kenapa? Atau mau aku bekalin sarapan? Nanti bisa makan saat di mobil sembari nyetir," tawar Jesika, memberi opsi pilihan lain.
"Boleh!" Alex manggut-manggut dengan pilihan tersebut.
"Tunggu, ya!" Jesika menutup kembali pintu mobil Alex, lalu berlari masuk ke dalam rumah. Ia meminta pelayan untuk menyiapkan bekal sarapan.
"Bu, siapkan sarapan di bontot ya! Untuk calon suamiku!" titah Jesika pada seorang pelayan di rumah.
Pelayan itu berjalan tergopoh-gopoh, menuruti majikan mudanya. Dengan cekatan dan waktu cepat, ia sudah menenteng satu tempat bekal untuk Jesika sesuai pesanan.
"Isinya apa ini, bu?" tanyanya pada Bu Juminten—Kepala maid di rumah Jesika, ia sudah bekerja lama sejak Jesika lahir. Tubuhnya kini masih bugar walaupun sudah memasuki usia paruh baya.
Sejak kecil, Juminten yang orang jawa mengadu nasib ke pedesaan di mana Jesika tinggal. Usianya dulu masih kecil, sekitar 13 tahun, harus dituntut oleh kedua orangtuanya untuk memberi nafkah, mengirim duit hasil kerjanya ke Jawa.
Beruntung, saudara Jesika, dulunya yang tinggal di Jawa, menawarkan pada Juminten untuk bekerja pada saudagarnya yang kaya raya di desa, tak lain adalah keluarga Jesika.
"Isinya roti, non! Untuk sarapan di mobil, lebih gampang makannya," jawab Juminten sopan, ia sangat hormat pada Jesika dan keluarganya.
"Makasih, bu!" ucap Jesika, berlalu pergi dengan riang seraya melompat-lompat.
"Sama-sama, non!" balasnya cepat agar Jesika mendengar sebelum pergi dari rumah.
***
Jesika menarik handel pintu mobil, dengan cepat ia duduk di samping Alex. Memindahkan kotak bekal ke kursi belakang dari tentengan lengannya.
Tanpa basa-basi, Alex memutar kemudi stir, memutar mobilnya agar keluar dari halaman rumah Jesika.
Di perjalanan, Jesika menawari Alex untuk menyantap rotinya. Alex yang fokus menatap jalanan, tangannya juga fokus memegang kemudi dan gigi mobil, sulit rasanya untuk menyantap roti yang Jesika siapkan.
"Hm ... lagi buru-buru, Jes, sulit abang untuk memakannya," ungkap Alex, dengan cepat menerjal jalanan pedesaan agar segera tiba di kota.
"Mau aku bantu?" tawar Jesika, seraya menunduk, sebenarnya ia malu tetapi kasihan pada calon suaminya yang tidak sempat sarapan hanya untuk memenuhi janji fitting baju.
"Boleh," jawabnya singkat, tanpa menoleh.
Jesika mengambil bekal yang tadi disimpan di kursi belakang. Membuka bekal tersebut. Di sana ada roti berselai coklat serta satu kotak susu uht dan air mineral gelas.
Alex menurut saja, ia membuka mulutnya lebar, hanya melirik sekilas apa yang akan dimasukkan oleh Jesika ke dalam mulutnya.
Untungnya, pelayan Jesika sudah memotong kecil-kecil roti tersebut. Sehingga tak terlalu besar untuk masuk ke mulut Alex. "Roti yang enak," puji Alex setelah menelan satu potongan roti.
"Yang bikin pelayan di rumah, bang. Bukan aku," ungkapnya jujur.
"Ohhh." Alex hanya berdecak saja, lalu membuka lagi mulutnya sebelum diperintahkan oleh Jesika.
"Eh, bentar, bang!" ucap Jesika, lalu mengambil potongan lain, memindahkan ke mulut Alex.
Dengan cepat Alex mengunyah dan menelannya. Roti itu tandas setelah disuapi oleh Jesika. "Mau susu atau air mineral?" tawar Jesika, sebelum menyodorkan susu kotak yang ada di dalam bekal.
"Susu?" beo Alex, lalu menatap sebentar ke arah dada Jesika yang sangat montok.
"Eh!" Alex membuyarkan pikiran kotornya, lalu cepat menjawab pilihannya adalah susu agar Jesika tak sadar kalau ia memikirkan hal lain.
"Susu saja," pungkasnya.
Jesika memasukkan sedotan ke kotak susu, memberikan pada Alex, masih di pegang oleh Jesika, susu itu disesap oleh Alex hingga tandas.
Seketika ia bersendawa lantaran sudah kenyang setelah disuapi oleh calon istri sendiri. "Maaf," lirihnya, merasa tak enak harus mendengarkan sendawanya yang kencang, Jesika hanya manggut-manggut mendengar permintaan maaf tersebut.
****
Tiba di Bridal Tailor, dua pelayan sudah menyambut kedatangan Jesika dan Alex.
"Tuan Alex?" tanya seorang pelayan, Alex pun mengangguk dengan cepat.
"Silahkan masuk, tuan, nona!" tambah pelayan lain, mereka menunduk, mempersilahkan Alex dan Jesika masuk ke dalam.
Di dalam Bridal Tailor, banyak terpajang baju pengantin. Khususnya, gaun pengantin perempuan yang cantik, mewah dan elegan.
"Silahkan ditunggu tuan, nona!" ucap pelayan tersebut.
Dua pelayan sigap, membawakan beberapa kebaya untuk Jesika, serta pasangan jas untuk Alex. Tidak hanya baju untuk martupol, tetapi keluarga Alex juga sekaligus memesankan untuk fitting baju pengantin.
Namun, yang pertama kali di bawa adalah baju untuk martupol. Karena acaranya esok sudah digelar.
Kebaya brukat berwarna putih dengan manik-manik cantik menjadi salah satu pilihan, ada pula kebaya berwarna cream, maroon, serta putih tulang.
Untuk bawahannya, seperti biasa rok songket dengan warna yang dipadukan bersama warna atasannya.
"Silahkan dicoba, nona," tutur pelayan tersebut.
Memberikan beberapa pasang kebaya untuk dicoba oleh Jesika. Sedangkan Alex, dilayani oleh pelayan lain. Beberapa jas dan tuxedo juga menjadi pilihan yang diberikan pelayan.
"Keluarga tuan adalah langganan kami. Setelah kami mendengar tuan mau menikah, kami cepat-cepat mempersiapkan pilihan baju yang sudah jadi untuk acara sakral martupol besok," ucap pelayan, seraya tersenyum ramah.
"Saya mau lihat calon istri saya dulu!" kata Alex, menunggu Jesika memperlihatkan kebaya yang ia coba.
"Baik, tuan!" Pelayan menyingkir, menghampiri pelayan yang membantu Jesika untuk mencoba fitting kebaya.
"Tuan ingin melihat nona saat mencoba kebayanya," bisik pelayan pada temannya.
Pelayan lain yang melayani Jesika hanya mengangguk. Ia mencocokkan baju pada tubuh Jesika. Tidak hanya itu, ukuran baju Jesika disesuaikan dengan lekuk tubuhnya.
"Pas sekali, nona!" puji pelayan, sebab tidak ada yang perlu dipermak karena kebaya sangat pas ditubuh Jesika.