Sinamotku

Sinamotku
papa baru



Alex kembali melanjutkan praktek setelah menikmati makan siangnya dalam waktu singkat. Tubuhnya sudah kembali rileks berkat waktu istirahat yang hanya diberikan selama 10menit saja.


Perawat Bulan juga sudah memasuki ruangan, di mana dokter Alex berada. Ia memanggil pasien berikutnya untuk masuk ke dalam ruangan. Alex sudah duduk di kursi kebesaran sedang mengintrogasi pasien yang satu ini.


Kasusnya tidak terlalu sulit, Alex harus mencabut dua gigi geraham yang telah busuk. Sebab, kerusakan gigi itu menyebabkan linu pada gusi hingga membuat pasien tidak nyaman dengan bau gigi busuk yang kerap tercium oleh lawan bicaranya.


"Dok, apa harus dilakukan pembedahan hari ini juga?" tanya pasien itu pada Alex.


Alex hanya mengangguk kecil, memerintahkan bulan untuk menyiapkan berbagai peralatan yang akan digunakan untuk pembedahan satu gigi geraham yang membusuk. Sebab, pencabutan itu memakan waktu yang cukup lama, apalagi harus mencabutnya hingga ke akar.


*****


"Jes, kenapa diam?" tanya Fay, sembari menelisik setiap tubuh Jesika dari atas ke bawah.


"Ehm ... aku nggak papa, Bos!" jawab Jesika, masih merasa kebingungan melihat tingkah Fay yang panik.


"Bos, hari ini kita ada meeting!" lanjut Jesika, mengalihkan pembicaraan agar Fay segera melupakan persoalan yang ia buat sendiri.


"Meeting apa? Saya nggak ingat hari ini ada meeting!" balas Fay, menatap penuh selidik.


Namun, ia tampak sedang memikirkan sesuatu, yakni pekerjaan apalagi yang akan merunut kegiatannya hari ini.


"Meeting sama karyawan, bos! Masa lupa? Hari ini, kita juga ada tanda tangan MoU dengan investor dari luar negeri, sekaligus untuk memantau progres kinerja karyawan selama triwulan," ungkap Jesika, menjelaskan secara detail agar bosnya tak lagi bertanya.


"Oh, jam berapa?" sahut Fay, kembali lagi duduk di kursi kebesarannya.


"Ini sudah mau mulai, Bos! Tandatangan MoU dulu dengan investor asing, lanjut meeting dengan karyawan. Jam 1 akan mulai," terang Jesika, kemudian berlalu pergi setelah berpamitan.


Karena ia harus bersiap-siap untuk mengikuti Fay. Ia juga menyiapkan notulen serta laporan yang dibutuhkan Fay saat nanti menggelar meeting dalam rapat bersama beberapa karyawan.


Fay dengan gagah berjalan gontai keluar ruang kerja. Tak lama, Jesika mengekori dari belakang. Lalu, keduanya berjalan bersama tetapi dengan jarak yang cukup berbeda.


Jesika tak ingin karyawan lain melihatnya jika beriringan dengan sang bos. Karena tak sedikit karyawan yang tidak suka pada Jesika, banyak cemburu dan iri melihat kedekatan Jesika dengan Fay.


Bahkan, Jesika juga kerap digosipi oleh para karyawan lain dan dirumorkan bahwa dia memiliki hubungan dengan Fay. Apalagi dia sengaja menggoda Fay demi melancarkan pekerjaannya sebagai seorang sekretaris.


Selama ini, Jesika dipandang sebelah mata semenjak ia menjadi sekretaris Fay. Tapi Jesika tetap saja mengabaikan orang-orang yang iri padanya. Apalagi yang dia lakukan tetap lurus-lurus saja, tidak pernah berbelok seperti yang dituduhkan orang-orang padanya.


*****


Seorang gadis kecil tengah menikmati cemilan usai menyantap makan siangnya.


"Non, pelan-pelan makannya!" ujar Mbok Darti.


Gadis kecil itu hanya terkekeh kecil tetapi tiba-tiba ia mempertanyakan sesuatu yang juga tidak diketahui oleh pembantunya.


"Mbok, sebenarnya papa aku itu ke mana sih?" sambar gadis kecil itu, pertanyaan itu sudah berulang kali dia lontarkan.


Tapi, ia hanya berani menayakan langsung pada pembantu maupun Rini—Sahabat Jesika. Namun, gadis itu tidak berani kalau menanyakan langsung pada Jesika, ia takut kalau sang mama merasa sedih jika terlontar pertanyaan seperti itu.


Ada kok, Non! Nanti juga ketemu sama papanya," ujar Mbok Darti, melayangkan senyuman lebar pada gadis kecil itu.


"Papa nggak sayang sama aku ya, Mbok! Soalnya papa nggak pernah cari aku," lirih gadis kecil itu.


"Eh, kok gitu ngomongnya, Non! Mana mungkin papa nggak sayang, mungkin papanya, Non lagi sibuk kerua jauh, cari duit yang banyak supaya bisa ketemu sama non!" ucap Mbok Darti dengan bijak.


"Aku ingin lihat wajah papa, Mbok!" jelas gadis itu, menunjukkan wajah sendunya.


"Sabar ya, Non! Mudah-mudahan secepatnya ketemu sama papa. Non harus sabar," beber Mbok Darti, gadis kecil itupun hanya manggut-manggut menuruti.


Sejak pulang ke rumah, Mbok Darti lah orang yang mengurus anak Jesika. Menjaga hingga menemani gadis itu agar tetap mendapat pengawasan. Tak lupa, Mbok Darti juga selalu membuat masakan yang sehat untuk anak Jesika sesuai dengan pesannya.


*****


Irma tengah termenung menatap halaman rumah yang luas. Sudah lima tahun belakangan, ia merasa hampa semenjak kepergian boru sasadanya.


Meski masih sering berhubungan melalui sambungan telepon tapi tak dipungkiri kalau Irma merasa kecewa lantaran tak ada niatan untuk mengunjungi kedua orang tuanya.


Apalagi, Bernard sudah mulai sakit-sakitan, Irma semakin merasa takut jika akan ditinggalkan oleh suaminya saat Jesika tak berada di sampingnya.


"Ngapain, Mak?" tanya Bernard, membuyarkan lamunan Irma, dengan tatapan yang datar.


"Eh, bapak ... aku sedang memikirkan boru kita, kenapa dia tidak berani pulang ke desa ini. Masa dia tidak rindu sama kita sih," keluh Ima, dengan tatapan yang datar.


"Sabarlah, mungkin saja sebentar lagi dia akan pulang, membawa kabar baik untuk keluarga kita. Atau dia akan pulang sekaligus bersama suaminya?" celetuk Bernard, membuat istrinya seketika menoleh.


"Janganlah, laki-laki seperti itu tidak pantas bersanding dengan boru kita! Dia tidak bertanggung jawab, lebih baik lupakan saja dia," ketus Irma, semakin berang jika mengingat menantunya yang menyebabkan kepergian Jesika.


"Yah, kan seharusnya mereka bersama. Apalagi sudah ada pahopu kita yang cantik. Dia juga butuh sosok papanya," terang Bernard, dengan ketenangannya.


"Tidak! Aku tidak setuju kalau Alex kembali dengan Jesika. Lebih baik kita mencari menantu baru," erang Irma.


"Janganlah, kasian pahopu kita itu. Kenapa harus mencari papa baru kalau papa kandungnya masih hidup?" sela Bernard.


Keduanya terus berdebat tiada henti, masing-masing tetap mempertahankan argumennya. Tidak ada yang mau mengalah.


*****


Alex sibuk melakukan pembedahan untuk mencabut satu gigi geraham. Berdasarkan pengamatannya, pencabutan gigi tidak bisa dilakukan dua sekaligus karena akan menyebabkan pembengkakan gusi.


Alex juga akan menjadwalkan untuk pencabutan gigi geraham yang kedua. Setelah menyelesaikan tugasnya, Alex juga meresepkan obat pereda nyeri agar pasiennya tidak terlalu merasakan sakit setelah pencabutan giginya.


Sebelum mencabut gigi itu, pasien sudah mendapatkan suntikan anastesi atau bius agar tidak merasakan nyeri saat pencabutan giginya.


"Dok, kapan saya akan ke sini lagi?" tanya pasien paruh baya itu.


"Dua minggu lagi, bapak sudah bisa ke sini!" ujar Alex, menyodorkan selembar kertas untuk resep pereda nyeri gigi itu.