
Hingga hari itu, Jesika sudah melalui hari-hari yang cukup menyibukkan dengan berbagai jadwal yang sudah ia selesaikan. Dan kini, ia tengah mencatat jadwal untuk kegiatan CEO, Fay untuk keesokan hari.
Memasuki sore hari, akhirnya Jesika memilih pulang bersama Rini. Keduanya berpamitan pada Fay yang masih berada di ruang kerja. Pria itu enggan pulang di sore hari, ia lebih memilih pulang dimalam hari dan menyelesaikan beberapa berkas yang harus ditandatangani.
Tok ... tok ...
Jesika menarik handle pintu untuk berpamitan pada sang bos yang masih tampak sangat sibuk. Sebenarnya Fai memang sangat suka lembur tapi dia tidak pernah memaksa Jesika untuk mengikuti jejaknya dan mengurus masa lemburnya. Oleh karena itu, Jesika selalu pulang tepat waktu karena ada seorang anak yang menunggunya di rumah.
"Pemisi, bos saya mau pamit pulang, kalau begitu saya pergi dulu," ucap Jesika seraya menggulum senyum di kedua sudut bibir.
"Oke, Jes terima kasih untuk hari ini, hati-hati di jalan!" pesan Fay, kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena harus menatap wajah sekretarisnya yang cantik itu.
Jesika mengangguk, lalu keluar dari ruangan CEO. Ia langsung menuju ruangan Rini yang berada di lantai bawah, mereka memang sudah janjian untuk pulang bersama, seperti biasa Rini dan Jesika kerap pulang bersama untuk menghemat biaya ongkos pulang dan mempercepat agar mereka bisa sampai di rumah bersama-sama.
Setelah menemui Rini, keduanya berjalan sembari berbincang. "Jes, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Rini, sebab hari ini dia terlalu sibuk, banyak pekerjaan yang harus dihandle apalagi ada seorang karyawan yang tidak masuk sehingga membuat dia lebih sibuk dari biasanya.
"Seperti biasa lah, Rin kerjaan sesuai jadwal padat Bos. Seharian aku capek luar biasa tapi sebanding sih dengan gajinya," ungkap Jesika.
Jesika memang memiliki gaji yang cukup fantastis, tidak hanya UMR tetapi gajinya sangat besar, selaras dengan kinerjanya yang sangat sibuk.
Dia juga sering mendapatkan bonus dari Fay apabila jika harus terpaksa lembur dan memiliki jadwal di luar jam kerja kantor. Oleh karena itu, Jesika sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan tanpa embel-embel ijazah meski hanya melalui koneksi dari sahabatnya—Rini.
****
Alex baru saja menghempaskan tubuh di ranjang, yang baru ditempatinya hari ini. Pasien yang banyak membuat tubuhnya benar-benar merasakan kelelahan.
Padahal, biasanya jadwal praktek pertama, saat dulu mulai bekerja di rumah sakit pusat, ia hanya mendapatkan beberapa pasien saja. Tapi khusus hari ini, ia memiliki banyak pasien yang harus ditangani. Oleh karena itu, Alex pun langsung merebahkan diri dan beristirahat sejenak setelah sampai di apartemen studio miliknya.
Alex berpikir, bagaimana jika suatu saat ia bertemu dengan Jesika tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi karena kini ia tengah berada di sebuah kota kecil. Bahkan, rasanya tak mungkin sekali jika Jesika berada di tempat yang sama dengannya saat ini.
Hingga sekarang, Alex tak pernah bisa melupakan Jesika lantaran perempuan itu selalu saja menghampiri dalam pikirannya. Alex semakin merasa ada sesuatu yang membuat pikirannya terus saja berada dalam bayang-bayang Jesika tapi sampai saat ini Alex tidak mengetahui apa yang menjadi kendala hingga ia tak bisa melupakan istrinya.
Tak hanya dirinya, kedua orang tuanya pun tak pernah tahu bagaimana keberadaan Jesika. Bagaimana tentang kehidupannya kini. Keluarga Alex sampai saat ini tak pernah mendengar kabar menantunya.
Lain hal dengan mertuanya Alex, mereka bahkan selalu berhubungan dengan Jesika sehingga mereka tidak perlu khawatir dengan kondisi anaknya. Yang disayangkan oleh orang tua Jesika adalah keberadaan Jesika yang tidak diketahui hingga saat ini. Oleh karena itu, kedua orang tua Jesika sangat menyesali keputusan anak perempuannya yang tidak mau memberitahukan tempat tinggalnya.
Saat memikirkan bayang-bayang Jesika, tanpa disadari akhirnya Alex tiba-tiba terlelap dalam tidurnya. Itu juga terjadi karena efek sangat lelah selama bekerja seharian.
Bahkan Alex tak bangun-bangun, ia asik berada di dunia mimpi yang tengah membayangkan sebuah keluarga kecil bahagia bersama istrinya—Jesika hingga memiliki seorang anak. Entah mengapa mimpi itu bisa memasuki alam bawah sadarnya.
****
Anak itu tidak ingin membedakan panggilan pada mama kandung dan sahabat mamanya. Ia sengaja memanggil Rini dengan sebutan Mama agar Rini merasa benar-benar tidak dibedakan bahkan sangat disayangi oleh anak kecil itu.
"Mama Rini!" teriak gadis kecil itu, lalu berlari mendatangi Rini yang tengah membentangkan kedua tangan untuk memeluk gadis itu.
Perempuan kecil itu berlari, lalu memeluk Rini dengan erat dan mencium kedua pipi Rini dengan lembut. Namun tiba-tiba ada seseorang yang protes karena bukan dia yang disapa lebih dulu. Dia adalah mama kandung anak kecil itu—Jesika dengan menyematkan senyum kecil di wajah lalu ia mengatakan sesuatu.
"Kok mama nggak di sapa sih, malah Mama Rini duluan yang dicium dan dipeluk." Jesika lalu terkekeh sendiri saat kedua perempuan itu menatapnya.
"Tadi kan, aku sudah ketemu sama mama di sekolah. Kalau satu hari ini, aku belum bertemu Mama Rini. Jadi aku memeluk Mama Rini duluan," jawab gadis kecil itu dengan bijak dan rewel.
"Oh, gitu ... jadi pelukan buat Mama mana?" Jesika ikut berjongkok untuk meraih tubuh anaknya, lalu membentangkan kedua tangan agar gadis kecil berlari ke dalam dekapan.
Gadis kecil itu langsung meregangkan pelukan pada Rini, lalu ia berlari kecil mendekati sang mama dan memeluknya dengan erat. Tak lupa ia memberikan ciuman di kedua pipi Jesika dengan hangat.
"Ma, ayo main!" ajak gadis kecil itu, padahal sang mama masih merasakan kelelahan yang luar biasa, ia juga ingin beristirahat sejenak.
"Sebentar ya, Sayang Mama ganti baju dulu!" kilah Jesika, berjalan masuk ke dalam rumah.
Di sana sudah ada Mbok Darti yang menyambut kedatangannya, semua makanan pun sudah tersaji hanya tinggal keluarga kecil itu menyantapnya.
Lain hal dengan Rini, ia juga merasa lelah karena bekerja seharian tetapi menyempatkan waktu untuk bergurau dengan gadis kecil itu. Sembari berjalan Rini menggenggam tangan gadis kecil itu dan mengajaknya berbincang.
"Bagaimana sekolahnya hari ini, Sayang?" tanya Rini pada gadis kecil itu.
"Iya, seru-seru aja sih, Mama Rini!" ucap gadis kecil itu.
"Apakah kamu sudah banyak teman?" sahut Rini, menatap lekat gadis kecil itu.
"Banyak sekali, Ma semua teman satu kelas aku sangat baik-baik," jawabnya dengan lugas.
"Gurunya baik-baik juga gak?" lanjut Rini.
Sementara Jesika sibuk saja berjalan menuju kamar sembari melihat dan mendengar obrolan kedua orang itu.