
Alex buru-buru menyelesaikan prakteknya karena ia ingin segera bertemu dengan istri serta putri kandungnya. Ia sudah tak sabar ingin bergabung dengan keluarga itu membentuk keluarga yang harmonis.
Sementara, bulan langsung memanggil pasien untuk segera masuk ke dalam ruang perawatan sehingga Alex bisa memberikan penanganan kepada mereka. Untung saja, beberapa pasien itu datang hanya untuk konsultasi semata, meski sementara beberapa pasien ada yang perlu mendapatkan penindakan yang cukup berat sehingga memakan waktu yang sangat lama bagi Alex untuk menyelesaikan prakteknya.
Karena tadi waktu tersita selama 1 jam terakhir saat di jam jadwal praktek karena dirinya dan Jesika harus berbicara empat mata.
Drt ... drt ...
Tak lama ponsel Alex berdering, ua mendapatkan telepon dari sahabatnya—Rinto. Pria itu hanya sekedar menanyakan bagaimana keadaan Alex disana.
Namun, Alex tak bisa berbicara lama karena ia harus menyelesaikan prakteknya terlebih dahulu. Dia memberi pesan agar nanti Rinto menghubungi kembali.
****
Hari ini, pekerjaan Fay sangat menumpuk, ia didampingi oleh seorang sekretaris pengganti yang membantu untuk mengatur jadwal. Khusus hari ini, ia melakukan berbagai meeting di tempat-tempat yang berbeda, tidak hanya di kantor saja.
Kemudian Fay juga menyelesaikan beberapa berkas yang harus ditandatangani. Tak hanya itu, Fay juga pergi berkunjung kebeberapa cabang kargo yang baru saja diresmikan oleh perusahaan mereka.
Namun, pikiran Fay tersita kepada Jesika, ia merasa khawatir ada sesuatu yang sangat memprihatinkan terjadi pada keluarga Jesika tapi Fay merasa segan untuk menghubungi perempuan itu. Ia khawatir dianggap ikut campur karena tidak ada ikatan di antara mereka hanya hubungan sekedar rekan kerja di kantor.
Siang itu, Fay tengah berjalan beriringan bersama sekretaris penggantinya untuk mengunjungi 3 cabang kargo sekaligus, mereka datang ke berbagai kota yang menjadi tempat khusus pengiriman barang yang baru saja dibuka. Perusahaan Fay memang setiap bulannya pasti selalu saja menargetkan untuk membuka cabang baru, tak heran jika dia terus berusaha untuk mencari investor serta kolega untuk meningkatkan perusahaannya sehingga bisa menambahkan setiap cabang kargo yang ada di setiap titik kota.
"Bagaimana kabar, Jesika? Apakah dia benar-benar tertimpa masalah yang memberatkan soalnya tadi terlihat wajahnya sangat panik," Fay menatap jalanan saat hendak balik ke kantor, ia sedang berkendara dan menyetir mobil di dampingi oleh sekretaris pengganti.
Sekretaris penggantinya adalah perempuan yang cukup cantik dan memikat tetapi Fay sama sekali tidak tertarik dengan perempuan pengganti Jesika.
***
Jesika baru mengecek keadaan putri semata wayangnya yang tengah tertidur pulas di kamar. Lalu, dia pun duduk di tepian ranjang seraya mengelus-elus pucuk kepala anaknya tersebut. Sementara ia menatap wajah anaknya dengan tatapan nanar karena merasa yakin bahwa sang anak tengah merasa kesakitan lantaran bibirnya membentkak. Bibir itu terlihat jontor akibat jatuh yang menderanya saat di sekolah tadi.
Jesika merasa khawatir, ia takut kalau mulut anaknya itu akan lama sembuhnya. Namun setelah mengingat kembali kalau suaminya adalah seorang dokter gigi yang bisa menangani anaknya, dia pun merasa lega kembali serta tidak perlu khawatir. Tentu saja, Alex pasti akan sigap untuk mengurus anaknya sendiri.
Tak terasa sudah pukul 5 sore, Jesika bergegas memandikan anaknya. Berhubung dia tengah mengambil izin cuti sehingga dirinya langsung turun tangan untuk mengurus dan merawat putri semata wayangnya. Ia memandikan Alea dengan penuh kasih sayang, kemudian ia juga memberikan makan sore untuk putrinya karena memang sudah terbiasa setiap hari pembantunya memberikan makanan tepat pada pukul 5 sore.
Drt ... drt ...
Ponsel Jesika baru saja berdering, ia segera berlari menuju nakas karena meletakkan ponsel itu di atas nakas di ruang keluarga saat menyuapi anaknya untuk makan.
****
"Halo, Jes kau di mana? Aku ingin segera datang ke rumahmu," ucap Alex seraya menunggu jawaban istrinya.
Ia pun tengah bersiap-siap untuk membenahi barang-barang agar tidak ada yang tertinggal.
"Dok, saya pamit pulang duluan!" tutur Bulan, Alex pun hanya mengangguk seraya mengangkat tangan agar Bulan segera pergi.
Sementara Bulan, hanya menunduk patuh, segera meninggalkan ruangan Alex. Kemudian, Bulan berlalu pergi setelah mendapat persetujuan Alex.
Perawat itu merasa kebingungan dengan sang dokter yang tiba-tiba berubah sikap setelah dua hari bekerja di rumah sakit itu. Padahal, kemarin pada hari pertamanya bekerja, Alex terlihat sangat ketus, dingin serta acuh.
Tak hanya pada Bulan tapi juga seluruh perempuan yang ada di rumah sakit. Namun tatapan Alex sangat berbeda saat ia melihat kedatangan Jesika dan membuat perubahan nyata sikap sang dokter.
Hal itulah yang tak disangka oleh Bulan, perempuan tadi seperti mampu menyihir Alex. Membuat Alex bisa bersikap rendah diri dihadapannya.
Sebelum pulang, Bulan pun berbincang-bincang dengan perawat lain yang berada di resepsionis. Mulutnya sudah tak sabar ingin menceritakan kisah dokter Alex yang sangat mengharukan saat tadi pagi.
"Eh, tahu nggak tadi pagi ada kejadian yang sangat seru, bahkan kalian pasti tidak percaya ucap Bulan seraya menceritakan semua kisah Alex yang dilihat dengan mata kepala sendiri.
Namun, beberapa perawat justru tak percaya dengan cerita Bulan, rasanya sangat aneh jika melihat Alex benar-benar menangis di dalam dekapan seorang wanita.
"Beneran aku tadi menyaksikan sendiri. Kalau dokter Alex menangis dalam pelukan orang tua pasien, aku sendiri tidak percaya tapi memang itulah kenyataannya, aku menyaksikan sendiri loh," papar Bulan, dengan cerita yang semakin menggebu-gebu.
"Nggak mungkinlah kayak gitu. Sedangkan sama kita-kita aja dia sinis sekali, tatapannya aja datar kayak gitu, apalagi sikapnya dingin kayak es batu, jadi nggak mungkin dia bisa sampai nangis apalagi di dalam pelukan wanita," hardik salah satu teman Bulan yang merupakan teman sejawatnya.
"Serius loh, aku beneran menyaksikan sendiri kalau dia menangis tapi entah apa hubungan mereka, aku sendiri tidak tahu. Yang pasti, dokter alex meminta waktu untuk bicara berdua dengan wanita itu, bahkan sampai sej lamanya!" cerita Bulan dengan sangat antusias.
Seluruh perawat bahkan tak percaya dengan cerita Bulan, ia dianggap mengada-ngada apalagi melihat sikap Alex yang jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia nyata.
"Ah, rasaku tidak mungkin kalau dokter Alex berperilaku seperti itu," tampik salah satu perawat.
"Kalau kalian tidak percaya yasudah! Aku mau pulang saja!" desah Bulan seraya berlalu pergi dari resepsionis.
Ia pun semakin lelah untuk membicarakan tentang apa yang dilihatnya saat berada di ruangan Alex.