
"Baik banget, gurunya sangat perhatian. Kita semua diberikan pelajaran yang menyenangkan," balas gadis kecil itu.
"Asik dong, kamu bisa mengikuti pelajaran di sana, kan?" tanya Rini penasaran.
"Iya, Mama aku udah mulai mahir membaca dan belajar berhitung," kata gadis kecil itu.
Gadis cilik itu memang sangat pintar bak menuruni kepintaran Alexander Sidabutar. Bahkan, dia sangat cepat menangkap semua pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Andai saja, Alex tahu kalau ia memiliki anak yang sangat cerdas, pintar dan mandiri pasti Alex tidak akan pernah menyia-nyiakan istri dan anaknya begitu saja. Namun sayang, Alex tidak pernah mengetahui keberadaan Jesika hingga sudah memiliki anak dan penerus dari perempuan itu.
"Yaudah kamu main dulu sama Mbok Darti. Mama Rini dan Mama Jesika mau berganti baju dulu," ucap Rini, membiarkan anak kecil itu berlari lagi ke ruangan keluarga.
Sementara Rini dan Jesika berpisah memasuki kamar masing-masing. Rasa lega menghampiri setelah ia memberikan perhatian kecil untuk anak sahabatnya. Meskipun ia merasakan kelelahan tapi Rini meluangkan waktu untuk mengajak dan mengobrol dengan gadis kecil itu.
Sehingga dia tak merasa khawatir kalau anak itu akan merasa kesepian. Di sisi lain, setelah memasuki kamar, Jesika langsung merebahkan diri di atas ranjang, ia menatap langit-langit kamar sembari memikirkan bagaimana masa depan dirinya dan sang anak
Rasanya tidak mungkin, jika selamanya ia akan menyembunyikan keberadaan anak itu dari Alex beserta keluarga suaminya.
Jesika mulai memikirkan matang-matang bahwa ia ingin segera pulang mengenalkan anaknya. Kalaupun, Alex tidak menerima anak itu dan tidak percaya kalau anak itu adalah hasil darah dagingnya sendiri, tentu saja Jesika akan membawa kembali gadis kecil itu dan akan berusaha sendiri untuk membesarkan anak mereka.
"Apakah Bang Alex percaya kalau ternyata anak ini adalah darah dagingnya?" tanya Jesika menatap langit-langit kamar.
Sebenarnya, ia masih menginginkan kebersamaan antara Alex dan dirinya, hanya saja dia masih ragu dan khawatir bahwa Alex akan mengusirnya jika sewaktu-waktu kembali dan menunjukkan diri di depan wajah Alex apalagi membawa seorang gadis kecil bersamanya.
Selama 5 tahun terakhir, dia tidak pernah berniat untuk menghubungi Alex. Jesika benar-benar menjadi perempuan mandiri yang mampu menghidupi diri dan anaknya sendiri dari hasil kerja kerasnya.
Tak lupa, berbekal keterlibatan uang pemberian orang tuanya yang mampu membuat ia bertahan hidup sendiri memperjuangkan kehamilan hingga anak itu tumbuh sehat dan sangat cantik seperti sekarang. Uang dari kedua orang tuanya, sangat membantu kehidupan Jesika selama berada di Jogja.
Akhirnya, Jesika kembali membuyarkan lamunan tentang Alex. Ia tak mau berpikir panjang tentang pria itu apalagi jika mengingat kejadian tempo dulu yang sangat menyakiti hatinya.
Terkadang, Jesika merasa dendam dan kecewa tapi di sisi lain ia masih merasakan cinta pada pria itu karena sudah berhasil memberikannya sebuah gadis mungil yang mampu menemani kehidupannya selama berada di Yogyakarta.
****
Keluarga Alex sudah pasrah bahwa Jesika tidak akan pernah kembali lagi ke desa ini. Sepertinya Jesika benar-benar ingin melupakan keluarga suaminya. Bahkan ikatan yang pernah terjalin diantara mereka.
Maruli dan Ima tengah menatap kosong ruangan yang mereka tempati, kedua orang tua itu merasa khawatir dengan kondisi Alex yang terus menyendiri dan tak pernah mau menyetujui adanya perjodohan dengan perempuan lain karena tidak ada kejelasan tentang pernikahannya hingga saat ini.
Mereka khawatir tidak akan pernah memiliki cucu sebagai penerusnya marga Sidabutar. Bahkan, Maruli sudah pesimis bawa Alex tidak akan pernah mau menikah setelah pernikahannya gagal bersama Jesika.
Padahal, sudah sering Maruli dan Ima mendesak agar Alex menikahi wanita lain dengan diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua Jesika tapi Alex menolak dengan tegas permintaan kedua orang tuanya.
*****
Pagi itu, Jessica bersama Rini, berangkat bersama lalu mengantarkan anak gadis kecilnya ke sekolah. Setelah tiba di kantor, baru setengah jam berlalu mengantarkan anak tersebut, dalam waktu setengah jam Jesika sudah mendapat panggilan dari pihak sekolah.
Ternyata, sang guru mengabarkan kalau anaknya Jesika terjatuh saat berlari-lari dan menaiki meja yang ada di sekolah paud. Oleh sebab itu, gadis kecil itu mengalami luka dalam pada area mulut dan giginya bahkan satu gigi depannya patah dan harus segera dibawa ke dokter gigi.
"Selamat pagi, Bu! Maaf, saya menghubungi Ibu karena terjadi kecelakaan di sekolah kami," terang guru paud, lalu Jesika pun menjawab cepat dan mulai terserang rasa panik kalau terjadi sesuatu menyangkut anaknya.
"Iya, pagi bu, kecelakaan di sekolah apa terjadi pada anak saya? Lalu, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Jesika, seraya mondar-mandir di depan ruangan CEO.
"Kami mau membawanya ke dokter gigi dulu karena giginya patah dan terjadi pendarahan pada gusinya, nanti Ibu langsung menyusul saja ke rumah sakit yang kami datangi," jawab guru paud.
"Baik, Bu ... tolong segera kirimkan melalui pesan untuk alamat Rumah Sakitnya," tandas Jesika, sambungan telepon itu pun terputus karena guru paudnya sudah mematikan sambungan dari kejauhan.
Saat itu, Jesika mulai panik, di sisi lain ia bingung ingin beralasan apalagi pada Fay untuk meminta izin hari ini. Sepertinya dia tidak bisa melanjutkan pekerjaan karena anaknya yang tiba-tiba terkena masalah.
Jesika menghubungi Rini, lalu ia mengabarkan pada Rini kalau anaknya baru saja terkena masalah di sekolah dan terjatuh hingga harus segera dibawa ke rumah sakit.
Apalagi, ia memang tak bisa seenaknya meninggalkan ruangan utama Bos, sebab khawatir akan ada tamu yang datang ke ruangan tersebut. Oleh karena itu, ia hanya bisa menghubungi Rini melalui telepon saja untuk memberi kabar.
"Halo, Rin," sapa Jesika.
"Ada apa, Jes masih pagi-pagi loh Ini," sahut Rini, ia tahu jika Jesika menghubungi pasti ada sesuatu yang genting.
"Anakku ternyata jatuh di sekolah, katanya harus segera dibawa ke rumah sakit. Aku bingung harus beralasan apa pada bos. Apa kau bisa menggantikan aku?" tanya Jesika, lagi-lagi ia ingin sahabatnya itu yang berada di sisi anaknya.
"Waduh, maaf, Jes aku kayaknya nggak bisa, soalnya kerjaanku masih menumpuk, tahu sendiri lah kalau pagi-pagi begini banyak sekali pekerjaan dari atasan yang baru diserahkan kepadaku," balas Rini.
"Lalu aku harus mengatakan apa ini pada pak bos?" tanya Jesika kebingungan.
"Sudah katakanlah sejujurnya kalau kau ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan," sambung Rini.
Sebenarnya itu bisa saja dimaklumi oleh CEO mereka karena urusan keluarga yang mendadak tidak bisa dikendalikan.