Sinamotku

Sinamotku
martupol



"Kita adakan lusa saja? Bagaimana, Lae?" tawar Bernard.


"Lusa, ya? Berarti hari Jumat? tanya Maruli.


Bernard mengangguk, lalu ia menjelaskan rincian acara tersebut. "Bagus acara martupol kita laksanakan dihari kerja. Jadi untuk resepsi kita bisa selenggarakan saat weekend! Tamu undangan pun tidak ada alasan untuk tidak hadir."


Maruli berpikir sejenak, lalu menyetujui usulan Bernard. Menurutnya, pelaksanaan pernikahan harus berlangsung secepatnya.


"Okelah, berarti kita laksanakan untuk acara pernikahan resepsi dua hari pada Sabtu dan Minggu. Jadi jumlah acaranya tepat tiga hari berturut-turut. Sanggup kau, Lex? Kalau kau kayak mana, Jesika?" cecar Maruli, pada dua calon pengantin.


Jesika menangguk cepat, sama halnya dengan Alex ia juga mengangguk. Mereka setuju untuk acara pernikahan yang diadakan selama tiga hari berturut-turut tanpa memikirkan efek samping acara tersebut.


"Oke, Lae! Sudah setuju mereka berdua, jadi sepakat kita mengadakan acara martupol dalam dua hari ini. Lusa, mereka akan terikat pada pertunangan secara adat batak," lanjut Maruli.


Bernard tersenyum bangga, boru sasadanya akan segera dipinang oleh pria yang tepat, menurutnya.


Bernard mendekati Maruli, lalu mereka bersalaman lagi sebagai tanda sah dan jadinya penggelaran acara yang telah di nanti-nanti.


"Kalau begitu, kita akan berjumpa dua hari lagi. Semua acara akan kita siapkan, untuk besok Jesika dan Alex harus bertemu, fitting baju martupol," ucap Maruli, memberikan arahan.


"Okelah, Lae! Bisa diatur itu semua. Alex, besok kau jemput Jesika di rumah ini, pagi-pagi! Biar cepat kalian tuntaskan persiapannya." Bernard menatap tajam calon helanya.


"Iya, Tulang! Tenanglah tulang," jawab Alex singkat.


"Untuk acara, biar kami yang siapkan!" sambung Maruli.


Beruntung, gereja yang sering digunakan sebagai tempat peribadatan keluarga Alex dan keluarga Jesika adalah gereja yang sama. Sehingga tidak ada perdebatan mengenai tempat untuk melaksanakan kegiatan martupol.


"Aman, Lae! Aku akan mengabarkan kepada seluruh keluarga kalau boruku akan mertupol dua hari lagi," sahut Bernard, sangat semangat menanti acara putrinya.


"Yaudahlah, Lae ... kita lanjut pulang. Mulai bersiap-siap acara martupol. Untuk seragam keluarga kita siapkan di acara resepsi saja. Acara martupol, bebaslah berkebaya dan jas," cetus Maruli.


"Oke, Lae, hati-hatilah kalian di jalan. Terima kasih sudah mempersiapkan semuanya dengan baik," tutur Bernard.


Keluarga Alex beranjak, mereka pulang dengan semangat karena penentuan hari pernikahan yang dilaksanakan dalam minggu ini. Maruli meminta pada istrinya agar segera bergerak cepat mempersiapkan prosesi pernikahan.


"Telepon nanti WO langganan yang kita gunakan saat pernikahan Juli dan Beta, ya, mak!" pesan Maruli pada istrinya—Ima.


"Iya, pak!" jawab Ima, cepat.


Rombongan keluarga meninggalkan halaman rumah Jesika. Rombongan itu menggunakan mobil alpard dan pajero karena satu mobil saja tidak cukup untuk menampung banyaknya keluarga Alex yang ikut serta memeriahkan prosesi adat persiapan pernikahan.


Alex sudah membayangkan ketika saat berduaan dengan calon istrinya. Ia bahkan sudah tak sabar untuk mengenal dekat Jesika. Penasaran dengan watak dan sikapnya.


****


Jesika melompat-lompat kegirangan di dalam kamar. Sebab, keputusan keluarga yang meminta langsung untuk fitting baju dilakukan berdua antara dirinya dengan Alex.


Wanita muda berusia 25 Tahun itu semakin tidak sabar untuk menunggu hari esok. Ia ingin segera bertemu pujaan hati yang berhasil menyita perhatiannya pada pandangan pertama.


"Mudah-mudahan bang alex orangnya baik, ramah, romantis! Seperti cita-cita yang kuidamkan. Suami romantis dan perhatian," gumam Jesika, melompat-lompat hingga menimbulkan kegaduhan di dalam kamar.


Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan Jesika yang sedang bergembira. "Siapa sih!" sungut Jesika, dalam batin.


Ia berjalan gontai, menarik daun pintu. Ternyata, sang mama merasa terganggu lantara Jesika sangat berisik.


"Kenapa kau, boru? Dari tadi kudengar ribut kali dari dalam kamar ini," keluh Irma, mengedarkan pandangan, melihat-lihat isi dalam kamar Jesika.


"Ehm ... nggak apa-apa, mak! Cuman lagi girang aja. Udah sanalah, mamak! Ganggu kali," gerutu Jesika, berlalu meninggalkan sang mama yang masih berdiri di ambang batas pintu.


"Oalaah! Inilah kalau cuma anak satu-satunya, kebiasaan dimanjakan jadi melawan sama orang tua!" protes Irma, segera meninggalkan kamar Jesika.


****


Tidak biasanya, Jesika bangun saat pukul 5 pagi. Masih terlalu dini untuk beraktivitas. Entah mengapa, Jesika tidak bisa tertidur lagi setelah terbangun dari tidur malamnya.


"Kok cepat kali sih aku bangun? Apa gara-gara bang alex?" tanyanya dalam hati.


Jesika menyibakkan selimut yang membalut di tubuh. Dengan kesal, ia mondar-mandir di kamar, berharap waktu segera berlalu.


Jam berputar, menandakan pukul 6 pagi, seluruh maid sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang bersih-bersih, masak, nyapu halaman, nyuci, menjemur, dan lainnya.


Jesika yang merasa penat di dalam kamar selama satu jam, berpindah tempat. Menatap para pelayan yang sedang bekerja di halaman teras.


Bahkan, Jesika meluangkan waktu untuk sekedar lari pagi demi mendapatkan kebugaran tubuhnya. Menggunakan celana trainning dan hoodie, Jesika berkeliling di sekitar rumah.


Berlari-lari hingga berkeringat yang membasahi sekujur tubuh. Ia menyapa orang-orang yang dilintasi. Jesika sangat terkenal di kampung, tidak ada yang belum mengenali dirinya.


"Jes, kau mau kawin, ya? Kapan?" celetuk Jo—laki-laki muda yang menyukai Jesika, meski umur mereka terpaut 5 tahun, Jesika lebih tua daripada Jo.


Jesika yang berlari, nafasnya terengah-engah, kakinya langsung terhenti saat mendengar pertanyaan pria yang sangat akrab dengannya. Ia menganggap Jo hanya sebagai seorang adik.


"Iya, Jo! Datang nanti kau ke acara pernikahanku! Besok aku sudah martupol, sabtunya acara resepsi!" beber Jesika, jujur.


Seketika Jo mengerucutkan bibirnya, ia merasa kecewa, wanita yang ia sukai selama ini akan menjadi istri orang lain.


"Yah, hari patah hati sekampung dong!" desis Jo, menghela nafas dalam-dalam.


"Hehe! Apanya kau, memangnya aku cintanya orang-orang sekampung?" desah Jesika, menatap lekat mata elang Jo.


"Iyalah, siapa coba yang nggak suka sama Jesika? Aku aja suka kali!" sosor Jo, seraya menunjukkan cengiran kuda.


"Ah, masa sih?" Jesika seolah-olah tak percaya, padahal ia menyadari kalau Jo memang menyukai dirinya sejak lama.


"Iyalah, kalau aku nggak suka samamu, sudah kupanggil kau dengan sebutan kakak! Karena aku suka makanya lancang manggil namamu. Padahal kau lebih tua!" kilah Jo, menatap lekat lawan bicaranya.


"Iya, iya, aku tahu kok. Pokoknya kau udah kukasih tahu, ya! Kalau tempatnya nanti kau ikut rombongan tetangga kita aja. Aku sendiri belum tahu tempat resepsiku. Kalau martupol ya, di gereja kita," pungkas Jesika, panjang lebar.


"Iya, Jes, semoga lancar acaramu! Yaudah aku mau lanjut lagi, mau kerja aku di ladang." Jo akhirnya meninggalkan Jesika.