Sexy Maid And The King Devil Of MAFIA

Sexy Maid And The King Devil Of MAFIA
#68



"Apa Clara akan memukulnya?" Tanya Arthur kepada Beatrice.


"Maybe.." Jawab Beatrice tersenyum sembari mengangkat bahunya.


Arthur pun langsung berjalan dengan cepat menyusul anak dan wanita nya ke atas untuk melihat apa yang terjadi. "Kau sungguh kekanakan." Ucap Bastian.


"Whatever!" Jawab Beatrice acuh.


"Sepertinya kau sudah sering melakukan cara itu." Ucap Bastian.


"Yup, saat setiap kali bocah itu bertingkah." Jawab Beatrice.


"Dia hanya anak kecil." Ujar Bastian.


"Dia bukan anak kecil sembarangan." Jawab Beatrice menatap Bastian serius.


"Heh, sepertinya aku tahu alasan kenapa bos kecil sudah mengerti dunia programmer." Ucap Bastian menyeringai.


Beatrice langsung membuang mukanya kearah lain saat Bastian menatapnya. "Berapa usiamu?" tanya Bastian tiba-tiba.


"Yang jelas jauh lebih muda darimu." Jawab Beatrice cuek.


"Apa aku terlihat tua?" Tanya Bastian.


"Ckk apa kau tidak pernah berkaca." Jawab Beatrice yang membuat Bastian sedikit kesal.


"Apa mulutmu sudah setajam itu dari dulu?" Ucap Bastian.


"Kenapa? Apa kau tersinggung?" Ucap Beatrice tersenyum meledek Bastian.


Bastian menarik tangan Beatrice sehingga jarak mereka menjadi dekat, sangat dekat. Deru nafas mereka dapat dirasakan satu sama lain. Detak jantung Beatrice tiba-tiba berdegup kencang saat berdekatan dengan Bastian. Lalu Bastian memegang kedua pipi Beatrice dan menatapnya dengan serius. "Kau lihat dengan jelas wajahku," Ucap Bastian serius.


"Ke kenapa aku harus melihat wajahmu," Ucap Beatrice gugup dan ingin memalingkan wajahnya karena wajahnya sudah memerah, namun Bastian menahannya.


"Aku ingin kau melihat jika aku tidak setua yang kau maksud." Ucap Bastian mendekatkan wajahnya lebih dekat sehingga hanya berjarak satu jari saja.


Beatrice pun menatap wajah Bastian sampai pandangan nya terhenti di bibir milik pria itu. Bastian melihat arah pandang Beatrice lalu ia menempelkan bibirnya ke bibir milik Beatrice sehingga keduanya bersentuhan, dan Beatrice langsung reflek menutup matanya sehingga Bastian menabrakkan bibir nya ke bibir Beatrice, lalu mereka tanpa sadar saling membalas ciuman hingga suara anak buah the devil's menghentikan kegiatan mereka. "Ekhem.." Suara anak buah the devil's.


Mereka pun saling mendorong satu sama lain karena terkejut. Beatrice berdiri dan langsung berlari menuju kamarnya sedangkan Bastian tampak memegang bibirnya dan menyunggingkan senyum nya.


"Maaf Tuan Bastian menganggu anda tapi ada telepon dari tuan besar." Ucapnya.


"Sudah saatnya memberitahu tuan besar," Ucap Bastian berdiri dan berjalan untuk menghubungi tuan Lantunio.


Beatrice berlari masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya. "Apa yang aku lakukan barusan." Gumam Beatrice memegang dadanya yang berdegup dengan kencang.


Di dalam kamar Clara tampak memberikan hukuman kepada putra nya dengan cara menghadap ke dinding kamar supaya Aarav merenungkan kesalahannya, sedangkan di sela-sela pintu Arthur tampak mengintip apa yang sedang dilakukan calon istri nya kepada putranya. "Kau tahu apa kesalahan mu?" Tanya Clara.


"Yes, mom." jawabnya pelan.


"Tapi kenapa kau selalu mengulangi nya, meminta aunty mu untuk bermain video game?" tanya Clara tegas.


"Aarav hanya bermain sebentar kok, mom." jawabnya pelan.


"Walaupun sebentar mommy tidak mengizinkan, kau tahu video game itu tidak baik apalagi untuk anak se usia mu." ujar Clara.


"Sekarang kau renungan kesalahanmu." Tegas Clara.


"Dan kau darling, jika kau terus mengintip disana, malam ini kau tidur diluar." Ucap Clara yang menyadari jika pria itu tengah mengintip.


"Eh.. Maaf darling aku hanya takut terjadi apa-apa saja." Ucap Arthur langsung keluar dari persembunyian nya.


"Maksudmu apa? Kau pikir aku akan menyakiti putraku begitu?" Ucap Clara kesal.


"Ti ti tidak darling... " Ucap Arthur takut lantaran Clara marah.


"Sekarang kau gabung dengannya dan renungan kesalahan mu juga." Ucap Clara marah dan keluar dari kamar.


Arthur pun akhirnya pasrah dan berdiri menghadap dinding Kamar bersama dengan putranya. "Daddy, kau seharusnya tidak mendekat saat mommy marah." Ucap Aarav.


"Kenapa emangnya?" tanya Arthur.


"Yah akibatnya seperti yang daddy rasakan sekarang." Jawab Aarav.


"Huffftt... Daddy tidak tahu akan jadi seperti ini." Keluh Arthur sang suami takut istri, eh maksud author calon istri hehehe.


"Daddy.. Bagaimana jika mommy nanti tahu jika Aarav bermain senjata?" Ucap Aarav.


"Kau tenang saja boy, mommy tidak akan tahu hal itu," Jawab Arthur.


BERSAMBUNG.