
Clara mencari tempat berlian itu di setiap sudut ruangan disana, sampai akhirnya dia melihat sebuah brankas besar di ujung ruangan tersebut. Lalu ia menghampiri nya. "Pasti berlian itu di dalam brankas ini," gumam Clara.
Clara terus berusaha mencoba untuk membuka brankas tersebut yang dikunci sangat kuat oleh Arthur. "Sial, brankas ini terkunci dengan sangat kuat," ucap Clara sedikit kesal.
'Coba kau lihat apa ada lubang kecil di pinggiran kunci itu,' ucap Beatrice.
Clara pun mencari lubang yang dikatakan oleh Beatrice di pinggiran kunci itu. "Sepertinya tidak ada be, dan sepertinya brankas ini hanya bisa di buka dengan memasukkan kodenya," ucap Clara.
'Apa kau tidak mengetahui hari-hari yang penting bagi Arthur?' ucap Beatrice.
"Aku tidak tahu tapi aku akan mencobanya lagi," ucap Clara kembali mengutak-atik brankas tersebut.
Entah kenapa di otak Clara tiba-tiba terlintas tanggal jadiannya dengan Arthur dan dengan iseng Clara pun mencobanya.
Ckleek!!
Clara terkejut melihat pintu brankas itu terbuka setelah dia memasukkan tanggal jadiannya dengan Arthur. "Terbuka," ucap Clara terkejut.
'Good Clara, kalau begitu kau harus cepat keluar, aku sudah memesan taksi untukmu mungkin sekarang ini dia sudah sampai di lokasi yang kau berikan,' seru Beatrice senang.
"Hmmm," jawab Clara lalu ia memutuskan panggilan nya dengan Beatrice.
"Impossible," ucap Clara dan tanpa sadar air matanya menetes.
"Bagaimana mungkin," ucap Clara dengan suara yang bergetar.
"Hiks, hiks, hiks maafkan aku Arthur, maafkan aku hiks," isak Clara.
Tapi tidak lama kemudian alarm di mansion Arthur berbunyi sehingga dia harus dengan terburu-buru keluar dari sana dengan membawa berlian tersebut. Clara pun berlari dengan cepat menuju halaman belakang karena para anak buah Arthur yang masih sadar telah bergerak dengan cepat memasuki mansion.
"Nona anda mau kemana?" teriak salah satu pelayan wanita di halaman belakang.
Tapi Clara tidak menghiraukan nya, ia justru semakin berlari dengan cepat karena takut anak buah Arthur yang lain menangkap nya. Seorang wanita pelayan yang memanggil Clara tadi pun akhirnya mengikuti langkah Clara.
Happ!! Clara melompati pagar belakang dan berjalan ke jalan raya. "Nonaaa," panggil pelayan wanita tadi yang melihat Clara melompati pagar.
Sampai di jalan raya Clara langsung masuk kedalam taksi yang sudah dipesan oleh Beatrice tadi. "Jalan cepat," ucap Clara kepada sopir taksi itu.
Supir taksi itu akhirnya melajukan mobilnya dengan cepat. "Anda mau kemana nona?" tanya supir tersebut.
"Jalan xx," ucap Clara dengan suara yang bergetar.
Clara mengigit bibir bawahnya ia mencoba menahan tangisnya tapi ternyata ia tidak mampu melakukan nya karena tangis langsung pecah. "Hiks, hiks maafkan aku," isak Clara.
"Hiks,... Kumohon maafkan aku, hiks....hiks... " Isaknya yang sudah tidak tertahankan lagi.
Beberapa jam kemudian Clara sampai di tempat tinggalnya yang bersama dengan Beatrice. "Nona kita sudah sampai," ucap sang supir taksi.
Clara pun mengangguk kan kepalanya lalu ia membayar ongkos taksi tersebut, setelah itu ia keluar dari mobil taksi. Sebelum masuk kedalam rumah Clara menenangkan dirinya dan ia menghapus air matanya yang tidak berhenti berjatuhan sedari tadi.
Hufftt!! Clara menghembuskan nafasnya lalu ia memegang ganggang pintu dan membukanya dengan cepat. "Bee, aku berhasil," teriak Clara dengan gembira dan menutupi kesedihannya.
Beatrice langsung memeluk sahabatnya itu. "Kita berhasil Clar," ucap Beatrice dengan derai air mata.
Clara menganggukkan kepalanya tapi tidak lama air matanya pun juga menetes. *Arthur,* batin Clara yang tiba-tiba memanggil nama pria itu.
Kliiingg!!! Bunyi suara komputer milik Beatrice berbunyi sehingga Beatrice langsung berlari melihatnya.
"Oh, God," ucap Beatrice terkejut dan memegang kepalanya dengan kedua tangan nya.
"Ada apa be?" tanya Clara.
"Kita harus segera memberikan berlian itu kepada Daniello," ucap Beatrice sembari memasukkan beberapa barang kedalam ransel dengan sangat terburu-buru.
"Iya, tapi ada apa be?" tanya Clara yang sangat penasaran.
"Mereka telah berhasil mengetahui identitas kita Clar, dan kita harus dengan secepatnya pergi dari sini sebelum mereka menemukan kita," ucap Beatrice dengan panik.
"Oh, No." Ucap Clara terkejut.
"Sudah, ayo cepat kita pergi dari sini," ucap Beatrice dengan menarik tangan Clara untuk keluar dari sana.
Beatrice masuk kedalam mobil, ia duduk di belakang setir kemudi sedangkan Clara duduk disampingnya dengan memegang kotak yang berisi berlian.
Beatrice membawa mobil itu dengan sangat cepat. "Kita akan kemana?" tanya Clara.
"Menemui Daniello dan menyerahkan barang sialan itu kepadanya," ucap Beatrice yang selalu kesal jika menyebutkan nama pria itu.
"Apa kau sudah menghubungi nya?" tanya Clara.
Beatrice mengangguk kan kepalanya. "Hmm, dia telah mengirimkan lokasinya," jawab Beatrice.
"Berpegangan lah dengan kuat karena aku akan menaikkan kecepatan," ucap Beatrice.
Clara mengangguk, dia berpegang erat dengan pegangan mobil karena Beatrice benar-benar membawa mobil dengan sangat cepat bahkan tubuhnya beberapa kali terbentur dengan mobil.
BERSAMBUNG.