
"Bibi Brenda coba kau cicipi apa sudah pas rasanya," ucap Clara setelah selesai mengaduk minuman itu.
"Baik nona," jawab Brenda mengambil segelas air kopi untuk diminum.
Clara memperhatikan Brenda yang sedang meminum kopi tersebut. *Maafkan aku bibi Brenda,* batin Clara yang merasa bersalah terhadap Brenda.
"Rasanya sudah pas nona," ucap Brenda setelah selesai mencoba kopi tersebut.
Clara tersenyum mendengarnya. Lalu ia melihat Brenda yang memegang kepalanya yang sepertinya sedikit pusing. *Efek obatnya sudah mulai bekerja,* batin Clara.
"Kalau begitu aku akan memanggil beberapa penjaga kemari untuk membawakan minuman ini," ucap Brenda.
"Tunggu bibi Brenda," panggil Clara.
"Ada apa nona?" tanya Brenda.
"Bibi, bisa tolong ambilkan handphone ku di dalam kamar ku sebentar karena aku ingin menghubungi Arthur," pinta Clara dengan senyuman manisnya.
"Baik nona, nona tunggu disini sebentar," ucap Brenda berjalan kearah paviliun untuk menuju kamar Clara.
"Dimana nona Clara meletakkan handphone nya," gumam Brenda di dalam kamar Clara.
Brenda memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, lalu dia menyandarkan tubuhnya ke dinding tapi tidak lama kemudian dia pingsan dan jatuh ke lantai. Clara ternyata diam-diam mengikuti Brenda ke kamarnya. Setelah sampai di depan kamarnya, ia melihat Brenda sudah terkapar di lantai. Lalu ia menutup pintu dan menguncinya.
•
•
•
Setelah mengunci pintu kamarnya ia berjalan kembali ke mansion. Clara mengeluarkan earphone di sakunya lalu ia memakai nya dan kemudian dia menghubungi sahabatnya. "Be, aku sudah bergerak," ucap Clara.
'Bagus, disini aku sudah mengalihkan perhatian keamanan disana jadi kau tidak perlu khawatir,' ucap Beatrice.
"Okay be," jawab Clara.
'Clara kau jangan matikan telepon ini,' ucap Beatrice.
"Hmmm, iya be," jawab Clara yang sudah kembali ke dapur tempat minuman yang dibuatnya tadi.
Sampai nya disana Clara tidak sengaja berpapasan dengan Lisa yang juga sedang membersihkan tempat disana. Clara pun akhirnya memanggilnya. "Lisa," panggil Clara.
"Iya nona," jawab Lisa mendekati Clara.
"Bisakah kau memanggil beberapa penjaga untuk membawa kopi ini untuk mereka karena tadi kata bibi Brenda, mereka memesan kopi kepadanya karena malam ini mereka semua akan berjaga," ucap Clara.
"Ohh baik nona, aku akan memanggil mereka sekarang," jawab Lisa segera pergi.
Berapa menit kemudian sekitar lima anak buah Arthur pergi ke dapur karena. "Ini mereka nona," ucap Lisa.
"Tadi bibi Brenda mengatakan kepadaku kalau kalian memesan kopi jadi ini kopinya sudah selesai, kalian sudah bisa membawanya," ucap Clara.
"Bibi Brenda nya kemana nona?" tanya salah satu penjaga.
"Ohhh, tadi bibi Brenda nya pergi ke toilet sebentar," jawab Clara tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu terimakasih nona," ucap mereka dan membawa kopi tersebut keluar untuk diberikan kepada para penjaga.
"Baik nona, terimakasih," ucap Lisa.
•
•
•
•
Clara tersenyum, setelah kepergian Lisa, ia pun langsung berjalan ke lantai dua dan ia masuk ke dalam kamar Arthur untuk mengintai para anak buah Arthur dari atas balkon kamar, karena dari sana dia bisa melihat dengan jelas situasi saat ini. 'Clara, apa kau disana,' ucap Beatrice di balik earphone milik Clara yang masih terhubung dengannya.
"Hmm, iya be," jawab Clara sembari memakai teropong milik Arthur yang ia dapatkan di dalam kamar tersebut.
"Ada apa?" tanya Clara.
Beatrice tidak menjawab apapun. "Be," panggil Clara sedikit kencang karena dia khawatir terjadi sesuatu oleh Beatrice.
'Iya, tidak apa-apa aku sedang mengalihkan perhatian mereka dari sini,' ucap Beatrice.
•
•
•
•
"Sebentar lagi," gumam Clara yang melihat para anak buah Arthur sudah banyak yang meminum kopi tersebut.
Setelah memastikan banyak anak buah Arthur meminum kopi tersebut ia pun dengan cepat berjalan ke lantai bawah dan masuk kedalam gudang. "Kenapa Arthur lebih menyuruh para anak buahnya berjaga di luar, sedangkan disini tidak ada sama sekali padahal kan berliannya itu yang sangat penting. Aneh," gumam Clara yang merasa heran karena di tempat itu sama sekali tidak ada penjaga nya.
Sampainya di dalam gudang, Clara langsung mencari tempat tersembunyi yang pernah ia dengar dari salah satu anak buahnya Arthur. "Dimana ya," gumam Clara.
Clara terus mencari keberadaan tempat itu disana. Tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah dinding sehingga dinding itu bergerak dan terbuka dengan sendirinya. "Wow," ucap Clara terperangah melihat tempat itu.
'Ada apa Clar?' tanya Beatrice.
"Gila, ini benar-benar gila," gumam Clara yang dapat di dengar oleh Beatrice.
'Apanya yang gila?' tanya Beatrice.
"Kau tahu seluruh isi di tempat ini di penuhi dengan alat dan senjata yang langkah be," ucap Clara yang masih takjub melihat banyak senjata hebat dan langkah di tempat rahasia itu.
'Kau jangan coba-coba mengambil nya Clara,' ucap Beatrice karena dia tahu sifat sahabatnya itu yang tidak bisa melihat senjata yang bagus pasti dia akan langsung mengambil nya.
"Hehehe, kau memang sangat mengerti diriku," ucap Clara yang memang sudah memegang salah satu senjata disana.
'Lebih baik kau cepat mencari berlian itu Clar,' ucap Beatrice karena dia hampir kewalahan melawan para anak buah Arthur.
"Hmm, baik be tapi sebelum itu tolong kau pesankan taksi online untukku dan suruh dia menjemput ku di lokasi yang akan aku kirimkan padamu nanti," ucap Clara.
'Iya,' jawab Beatrice.
BERSAMBUNG.