
Malam hari nya, setelah selesai makan malam, Clara dan Aarav langsung kembali ke kamar sedangkan Arthur pergi ke ruang pribadinya bersama dengan asisten nya. "Apa anda yakin bos?" tanya Bastian karena Arthur menyuruhnya untuk menjemput sahabat Clara, Bastian khawatir nanti mereka akan melarikan diri lagi.
"Apa kau meragukan ku?" tanya Arthur balik.
"Maaf bos, saya hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya." Ucap Bastian.
"Aku sudah mengatur semuanya, kau jangan khawatir, tidak akan terjadi apapun dan kejadian dulu tidak akan pernah terulang lagi untuk selamanya." Ucap Arthur serius.
"Dan tujuan aku ingin wanita itu kemari karena aku akan menikahi Clara disni dan aku butuh bantuannya untuk itu." Sambung Arthur sembari memegang sebuah cincin di tangannya.
"Bos akan menikahi nona Clara?" Tanya Bastian terkejut karena mendengar penuturan bos nya yang tiba-tiba itu.
"Iya.. Ada apa?" ucap Bastian menaikan satu alisnya.
"Apa tidak terlalu cepat bos?" Ujar Bastian.
"Cepat kau bilang? Kau pikir menunggu waktu lima tahun itu cepat, hah. Seharusnya aku sudah menikahi nya sejak dulu." Ucap Arthur sedikit kesal.
*yang dikatakan bos memang benar* batin Bastian.
"Maafkan saya bos," Ucap Bastian.
"Sudahlah... Besok kau siap-siap untuk menjemputnya secepatnya." Ucap Arthur.
"Baik bos, saya akan melaksanakan perintah anda." Jawab Bastian.
Setelah berbincang dengan Bastian, Arthur kembali ke kamarnya dan melihat pemandangan yang sangat menghangatkan hatinya. Ia pun tersenyum melihat wanita nya dan putranya yang tertidur lelap sembari saling memeluk satu sama lain. Arthur berjalan mendekati ranjang, lalu ia naik dan bergabung bersama putra dan wanita nya. "Aku sangat menyayangi kalian berdua." Ucap Arthur pelan sembari mencium kening Clara dan pipi Aarav lalu menyelimuti mereka.
"Mmm.. Daddy." Ucap Aarav sedikit terbangun karena merasakan ada pergerakan.
"Sshhtt... " Arthur mengelus kepala putranya dengan lembut supaya tidak terbangun.
•
•
•
•
•
Pagi harinya. Setelah selesai sarapan mereka bertiga berjalan menuju halaman belakang, Mereka bertiga saling bergandengan tangan dengan Aarav yang berada di tengahnya. "Daddy.. Daddy." Panggil Aarav seraya mendongak ke atas.
"Iya boy." Jawab Arthur.
"Uncle Bastian mana? Dari tadi Aarav nggak ngeliat uncle Bastian." Seru Aarav.
"Uncle Bastian mu, sedang pergi sebentar, karena ada sesuatu yang harus di kerjakan nya." Jawab Arthur.
"Apa dia pergi menjemputnya?" Tanya Clara.
"Iya baby." Jawab Arthur tersenyum.
"Terimakasih." Ucap Clara tanpa mengeluarkan suaranya.
Arthur membalasnya dengan senyuman dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Wahh.. Daddy kuda itu bagus sekali." Seru Aarav yang melihat ada se ekor kuda berwarna hitam pekat di taman tersebut.
"Iya.. Mau mau dad." Jawab Aarav semangat.
"No! Mommy tidak mengizinkan mu." Timpal Clara.
"Mommy.... Pliss, daddy tolong bujuk mommy." Rengek Aarav.
"Baby, biarkan putra kita belajar menunganggi kuda ya." Ucap Arthur lembut.
"Tidak darling, itu terlalu berbahaya aku tidak mau sampai terjadi apa-apa pada putra kita." Ucap Clara.
"Kau tenang saja, aku mempunyai anak buah yang sangat mahir dalam menunggang kuda, mereka akan mengajari dan menemani putra kita cara menunganggi kuda dengan baik dan aman." Jawab Arthur.
"Tapi..." Ucap Clara.
"Mommy plisss." Mohon Aarav dengan menautkan kedua telapak tangannya dan memasang wajah memelasnya memohon kepada Clara.
"Hufftt... Baiklah, tapi jika kau sampai terluka, mommy tidak akan pernah mengizinkan mu untuk melakukan nya lagi." Ucap Clara tidak mau ada bantahan karena dia sangat menyayangi putra nya.
"Baik mommy. Aarav janji tidak akan terluka sedikitpun." Jawab Aarav girang.
Arthur memerintah kan anak buahnya untuk menemani dan mengajari putranya cara menunggangi kuda dengan baik. Clara tampak sangat serius memperhatikan putranya yang sedang belajar berkuda karena dia sangat merasa khawatir takut terjadi sesuatu, sedangkan Arthur dia tampak sedikit cemburu lantaran Clara mengabaikan nya. *aku tidak percaya aku akan cemburu kepada putra ku sendiri* batin Arthur sedikit kesal.
"Babyy, bisakah kau juga memperhatikan ku disini." Ucap Arthur cemburu.
"Tidak, aku haru terus mengawasinya." Jawab Clara sembari menatap putranya.
Arthur menarik dagunya Clara dan menghadap ke arah nya dan lalu mencium bibir nya. "Eumm... Darling, lepaskan." Ucap Clara.
"Eumm.. No baby, ini hukuman karena kau telah mengabaikan ku." Ucap Arthur melepaskan ciumannya dan lalu melanjutkan nya lagi.
Akhirnya Clara pun membalas ciuman tersebut, di sela-sela mereka berciuman Arthur tampak menyelipkan sesuatu di jari manisnya Clara. Clara melepaskan ciumannya dan melihat jari manisnya. Ia terkejut kala melihat sebuah cincin berlian merah di jarinya tersebut. "I i ini." Ucap Clara terbata.
"Ayo kita segera menikah, baby." Ucap Arthur serius.
"Tapi i i ini." Ucap Clara yang masih terkejut dengan cincin tersebut karena cincin yang diberikan oleh Arthur adalah berlian merah muda yang pernah ia curi dulu.
"Iya, ini berlian merah muda itu. Kau tahu aku sudah merancang cincin ini lima tahun yang lalu, tapi sayang aku baru bisa memberikannya kepada mu setelah lima tahun kemudian." Ucap Arthur.
"Bagaimana bisa? Bukankah berlian ini sudah berada di tangan Daniello." Ucap Clara.
"Kau pikir bajingan itu bisa merebutnya dari ku," Ucap Arthur.
"Maafkan aku, semua ini karena aku." Ucap Clara senduh.
Arthur memeluk Clara dan mengusap-usap kepalanya dengan lembut. "Sekarang kita lupakan masa lalu dan fokus untuk memulai semuanya dari awal lagi tanpa ada kebohongan, okay baby." Ucap Arthur.
"Hiks.. Hiks... Iya." Jawab Clara menangis karena dia benar-benar merasa bersalah.
Arthur melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Clara. "Jangan menangis, dadaku sangat sakit setiap kali melihatmu menangis baby." Ucap Arthur.
Clara menganggukkan kepalanya. "Good girl." Ucap Arthur kembali memeluk nya.
BERSAMBUNG.