
"Iya aku tahu, tapi untuk apa?" tanya Clara.
"Seperti janji kita awal dulu, jika kita berhasil menyelesaikan misi ini maka kita akan pergi meninggalkan negara ini dan memulai jalan hidup kita yang baru," jawab Beatrice.
"Tapi bukankah ini terlalu cepat," ucap Clara.
"Clar selain janji itu, kita memang harus dengan cepat meninggalkan tempat ini karena jika kita tetap di sini pasti dengan cepat mereka akan menemukan kita. Kau tahu yang kita hadapi sekarang ini adalah seorang iblis Clar." Jelas Beatrice.
"Tapi be, Arthur aslinya tidak sekejam itu." Ucap Clara senduh.
"Aslinya? apa kau tahu bagaimana sifat asli Arthur saat dia tahu kalau kau telah mengkhianati dan membohonginya, hah?" ucap Beatrice sedikit kesal.
Tangis Clara pun pecah pada saat itu juga. "Hiks... Hiks.... Kau benar be, aku telah mengkhianatinya," isak Clara.
Beatrice melirik sahabatnya itu dengan rasa kasihan, dia tahu pasti sahabatnya itu telah jatuh cinta kepada raja mafia itu tapi Beatrice tidak bisa melakukan apapun kecuali membawa sahabatnya itu dan dirinya pergi sejauh mungkin dari raja mafia tersebut, karena jika sampai mereka berdua tertangkap, dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dirinya dan sahabatnya itu ditangan sang raja iblis mafia itu nantinya.
•
•
•
•
•
•
Beatrice membawa Clara ke bandara karena mulai sekarang mereka akan pergi jauh dari negara itu demi menyelamatkan diri mereka dari Arthur. "Ayo, Clar," ajak Beatrice sembari melepaskan sealt belt nya dan membuka pintunya.
Clara tampak melamun, ia merasa sangat berat untuk keluar dari mobil tersebut. "Clarrr," panggil Beatrice dengan sedikit kencang karena sahabat nya itu tidak kunjung keluar dari mobil.
Clara pun tersadar dari lamunannya karena suara panggilan dari Beatrice. Ia pun dengan lemas melepaskan sealt belt nya lalu membuka pintunya dan berjalan mendekati Beatrice yang sudah memasuki pintu bandara. "Ayo cepat Clara," teriak Beatrice karena pesawat yang akan mereka naiki sebentar lagi akan lepas landas.
Clara seolah berat melangkah kan kakinya kedalam bandara tersebut. Hufftt!! Beatrice menarik nafas nya karena melihat sahabatnya itu yang masih berjalan dengan sangat lambat. Beatrice pun akhirnya menarik tangannya lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat sehingga Clara ikut tertarik dengan cepat juga. "Kau membawa ponselmu Clar?" tanya Beatrice di sela-sela langkahnya.
Clara menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawab Clara karena sebelum meninggalkan mansion dia memang sudah meninggalkan ponselnya di dalam gudang lebih tepatnya dia memasukkan ponselnya ke dalam brankas tempat berlian tadi.
"Baguslah," ucap Beatrice.
•
•
•
Beatrice sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu. *Maaf Clar,* batin Beatrice.
Beatrice memanggil petugas pramugari yang berada disana, dia meminta air minum kepada pramugari tersebut. "Terimakasih," ucap Beatrice kepada pramugari tersebut yang telah memberikan air minum kepadanya.
"Minumlah," ucap Beatrice memberikan segelas air minum kepada Clara.
Tapi Clara tidak mendengarkan nya ia terus menatap kaca yang berada disampingnya. Beatrice menarik nafasnya lalu menghembuskan nya dengan pelan. "Clar," panggil Beatrice menyenggol tangan Clara.
"Hhmm," ucap Clara terkejut dan melihat kearah Beatrice yang duduk disebelah nya.
"Ini, minumlah," ucap Beatrice.
"Terimakasih," ucap Clara tersenyum tipis dan mengambil gelas minuman tersebut.
"Apa kau memikirkan dia?" tanya Beatrice setelah Clara selesai meminum air putih tersebut.
"Siapa?" tanya Clara tidak mengerti.
"Arthur," jawab Beatrice.
Clara terdiam setelah Beatrice mengatakan nama Arthur karena dia memang sedang memikirkan pria tersebut. "Kau mencintainya?" Tanya Beatrice.
Clara kembali terdiam mendengar pertanyaan Beatrice tersebut. "Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta kepadanya?" Tanya Beatrice kembali.
"Sepertinya kau memang sudah jatuh cinta kepadanya," ucap Beatrice karena dia dapat melihat dengan jelas jika sahabatnya itu sudah menaruh hati kepada pria mafia itu. *Hufftt, kenapa harus dia Clar, dia terlalu berbahaya untuk mu* batin Beatrice.
"Sebaiknya mulai sekarang kau harus melupakan dia Clar," ucap Beatrice.
Clara tetap terdiam, dia memalingkan wajahnya kembali kearah jendela sembari mengelap air matanya yang jatuh di pipinya. "Kau benar sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadanya be," Ucap Clara senduh sambil menatap kaca jendela.
Beatrice tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dia hanya menggosok-gosok pundak Clara dengan lembut, mencoba menenangkan sahabatnya itu yang mulai menangis. "Hiks.. hiks," tangis Clara yang tidak bisa dia tahan lagi.
*Sekali lagi maafkan aku Clar karena ini adalah satu-satunya jalan yang terbaik untuk kita,* batin Beatrice.
BERSAMBUNG.
Clara and Beatrice