
Setelah kepergian Arthur, Clara langsung menghubungi sahabatnya yaitu Beatrice. Clara masuk kedalam kamarnya yang berada di paviliun. "Bee, aku sudah tahu dimana berlian itu," ucap Clara to the point saat panggilan mereka terhubung.
'APA!!' Teriak Beatrice.
'Kau serius?' tanya Beatrice.
"Iya, Arthur meletakkan berlian itu di dalam ruang penyimpanan yang tersembunyi di dalam gudang," jelas Clara.
'Baguslah tapi bagaimana cara mendapatkan nya bukankah Arthur sering bersama dengan mu,' ucap Beatrice.
"Selama tiga hari kedepan dia tidak akan berada di mansion karena dia sedang berkunjung kerumah kakeknya,jadi ini adalah kesempatan untuk kita bergerak," jawab Clara.
'Jadi apa rencana mu?,' tanya Beatrice.
"Aku akan mencari cara untuk memberikan obat tidur kepada para pelayan dan penjaga disini dan kau alihkan perhatian seluruh CCTV keamanan disini karena CCTV disini terhubung ke tempat markas Arthur," jelas Clara.
'Kau tenang saja belakangan ini aku sudah berhasil mencoba meretas keamanan disana, nanti aku akan mengalihkan perhatian pihak pengawasan disana dan nanti aku akan mengatakan nya kepada mu saat mereka lengah,' ujar Beatrice.
"Baiklah, kalau begitu kita akan beraksi besok sebelum dia kembali pulang," ucap Clara.
'Hmm, iya,' jawab Beatrice.
Setelah beberapa saat panggilan mereka pun terputus. Clara termenung di dalam kamarnya, seharusnya dia bahagia karena telah berhasil menemukan tempat berlian itu tapi entah kenapa dia justru merasa sangat sedih saat ini.
"Tidak Clara, kau tidak bisa seperti ini, kau harus menyelesaikan misi ini secepatnya jika tidak panti asuhan akan hancur," gumam Clara kepada dirinya sendiri.
"Hiks, hiks kenapa hatiku sangat sakit," isak Clara.
Ke esokan paginya Clara berjalan memasuki mansionnya tapi sebelum masuk ke mansion dia sedikit terkejut melihat anak buah Arthur yang bertambah banyak pagi ini. *Apa yang terjadi? Kenapa anak buah Arthur banyak sekali* pikir Clara.
*Sepertinya aku belum bisa beraksi pagi ini,* pikir nya kembali.
Clara pun mengurungkan niatnya untuk ke mansion, dia kembali masuk kedalam paviliun dan menuju kamarnya, sampainya di kamar Clara langsung mengunci pintunya dan menghubungi sahabatnya. 'Bagaimana Clar? Apa kau sudah beraksi?' tanya Beatrice.
"Sepertinya kita belum bisa bergerak pagi ini, karena pagi ini Arthur menambah pasukannya di dalam mansion," ucap Clara yang tampak khawatir.
'Clar kau tenang jangan panik, ingat disini aku akan membantu, kau tidak sendiri Clar,' ucap Beatrice mencoba menenangkan sahabatnya karena dia tahu pasti Clara sekarang ini sedang sangat panik.
Clara menganggukkan kepalanya. "Terimakasih bee, aku akan menghubungimu jika keadaan sudah aman nanti," ucap Clara.
'Baiklah Clar, disini aku sudah berhasil meretas keamanan milik Arthur jadi kau bisa melancarkan aksi mu kapan saja,' ucap Beatrice.
"Okay kau tunggu saja panggilan dari ku," ucap Clara lalu memutuskan panggilan nya.
Setelah panggilan telepon itu terputus. Clara berusaha untuk menenangkan dirinya. "Kau bisa Clara," gumamnya.
Di sisi lain tanpa sepengetahuan Clara, sejak dini hari tadi Beatrice tidak tidur-tidur lantaran para anak buah Arthur hampir berhasil meretas komputer milik nya sehingga sampai pagi ini Beatrice masih melawan para anak buah Arthur. "Kemampuan mereka benar-benar tidak bisa diragukan," gumam Beatrice yang merasa para anak buah Arthur memiliki kemampuan yang sangat hebat.
"Tanganku bisa patah kalau terus begini," keluh Beatrice.
Siang harinya, setelah memikirkan berbagai rencana akhirnya Clara menemukannya. Dia berjalan kedalam mansion mencari keberadaan kepala pelayan yaitu Brenda. Clara melihat Brenda yang sedang berbincang dengan seorang penjaga pria di halaman depan, entah apa yang mereka katakan Clara tidak mengetahui nya karena jarak mereka yang cukup jauh.
Clara pun memanggilnya. "Bibi Brenda," panggil Clara sembari berjalan mendekatinya.
Brenda melihat kearah samping. "Iya, nona," jawab Brenda.
"Baiklah kalau begitu nanti aku akan membuatkannya untuk kalian, kau bisa pergi sekarang," ucap Brenda kepada pria itu.
Pria itu pergi bertepatan dengan sampainya Clara disana. "Ada apa nona?" tanya Brenda.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Clara penasaran.
"Bukan masalah penting nona, mereka hanya memintaku untuk membuatkan kopi untuk para penjaga karena mereka semua akan berjaga malam ini karena perintah dari tuan Arthur," jawab Brenda
Clara sedikit menyunggingkan bibirnya. *Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku* batin Clara.
"Ada apa nona mencari saya?" Tanya Brenda.
"Ahh, aku hanya merasa bosan saja bi jadi aku mencari mu," ucap Clara tersenyum.
"Apa aku boleh membantu bibi memasak kopi?" Ucap Clara dengan wajah memelas sehingga Brenda tersenyum melihatnya.
"Tentu saja nona," jawab Brenda.
Clara dan Brenda pun akhirnya berjalan kedalam mansion.
Di dapur Clara membantu Brenda membuat kopi untuk para penjaga. "Nona hati-hati air ini sangat panas," ucap Brenda yang melihat Clara sedang mengaduk kopi yang berada di dalam teko yang besar.
"Iya, bibi tenang saja," jawab Clara.
*Aku harus mengalihkan perhatian bibi Brenda untuk bisa memasukkan obat kedalam air kopi ini,* batin Clara.
"Bi, tolong ambilkan sendok yang lebih panjang supaya aku lebih mudah untuk meratakan kopinya," pinta Clara kepada bibi Brenda.
"Baik non," jawab Brenda yang berjalan kearah tempat sendok.
*Ini saatnya,* batin Clara.
Dengan cepat Clara mengeluarkan sebuah serbuk obat yang berada di dalam kantong celananya. Lalu ia memasukkan semua nya kedalam kopi tersebut. "Ini nona," ucap Beatrice sembari memberikan sendok yang panjang kepada Clara.
"Terimakasih bibi," ucap Clara mengambil sendok tersebut.
BERSAMBUNG.