
Bastian melihat Leo membawa sebuah map coklat ditangannya, lalu ia pun menanyakan nya. "Apa itu?" tanya Bastian.
"Ahh, ini adalah laporan dari Chris, dia bilang kalau dia sudah menemukan apa yang bos perintahkan," ucap Leo ingin memberikan map coklat itu kepada Arthur, tapi Bastian langsung mengambil nya karena dia ingin mengeceknya terlebih dahulu.
Leo mendengkus kesal lantaran Bastian merampas berkas itu darinya. Bastian pun membuka map itu dan mengeluarkan isinya, betapa terkejutnya dia saat melihat isi map itu. Arthur mengerutkan keningnya melihat ekspresi asistennya itu. "Ada apa?" tanya Arthur.
"Hah... " Ucap Bastian kaget.
"Ti ti tidak ada bos, aku akan mengecek kembali berkas ini," ucap Bastian gugup dan langsung memasukkan kembali kertas putih itu kedalam map coklat.
"Berikan padaku," ucap Arthur karena dia tahu pasti ada yang disembunyikan oleh asisten nya itu.
"Ta tapi bos," ucap Bastian gugup.
Arthur langsung merampas map coklat itu dari tangan Bastian dan ia pun membuka isi map itu dan membacanya. Arthur pun langsung terkejut setelah melihat informasi tersebut. "I i ini tidak mungkin," ucap Arthur tidak percaya.
"Kenapa ekspresi bos sangat serius?" Bisik Leo kepada Bastian.
Bastian tidak menghiraukan pertanyaan Leo. "Mungkin Chris salah mendapatkan informasi bos, biarkan aku memeriksa nya kembali," ucap Bastian berhati-hati.
"Kau benar, pasti ada orang yang ingin menjebak Clara," ucap Arthur yang meonolak untuk percaya.
"Tapi bos, Chris bilang mereka berdua telah melarikan diri." Seru Leo.
Bastian menatap tajam kearah Leo. "Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu," ucap Leo kepada Bastian.
"Bastian siapkan jet pribadi, kita akan kembali sekarang juga," ucap Arthur langsung turun dari ranjangnya dan mengganti pakaiannya.
"Tapi bos,, kau masih belum pulih," ucap Bastian khawatir terhadap kesehatan bos nya yang baru saja sadarkan diri itu.
"CEPAT!" teriak Arthur marah.
"Kau lebih baik diam," ucap Bastian menekan perkataannya.
Leo pun langsung terdiam karena aura mencengkam dari Bastian yang sangat menakutkan termasuk aura bos nya yang juga terasa lebih menakutkan. Leo hanya memperhatikan kedua orang itu yang terlihat sangat sibuk untuk pergi keluar dari rumah sakit, padahal bos nya itu masih harus beristirahat di rumah sakit tapi Leo tidak berani untuk mencegah nya. Bastian saja tidak berani apalagi dirinya pikir Leo.
Tepat pada saat Arthur baru ingin membuka pintu, tiba-tiba di depan pintu sudah ada tuan Lantunio bersama dengan tuan Paul. "Mau kemana kamu?" tanya tuan Lantunio karena Arthur tampak terburu-buru ingin pergi dari sana.
"Aku akan segera kembali ke Amerika kek," jawab Arthur.
"Tapi kamu baru sadar Arthur dan masih butuh istirahat," seru tuan Lantunio.
"Aku tidak apa-apa kek, ada urusan mendesak disana," ucap Arthur.
"Bukankah kamu masih belum menyelesaikan urusan mu dengan Luke," ucap tuan Lantunio.
"Aku akan mengurus dia lain kali, saat ini aku benar-benar ada urusan yang lebih penting dari itu." Ucap Arthur melangkah keluar karena dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Arthur berjalan sedikit terpincang dengan memegang luka di perutnya. "Ada apa Bastian?" Tanya tuan Lantunio mencari jawaban dari Bastian.
"Wanita yang dicintai bos, ternyata seorang penyusup tuan," jawab Bastian.
"APA!!" teriak Leo terkejut karena dia tidak tahu kalau salah satu wanita itu adalah kekasih bos nya.
"Sekarang kau mengerti," ucap Bastian menatap kesal Leo.
"Tapi kondisinya sekarang belum pulih," ucap tuan Lantunio.
Bastian tidak menghiraukan nya lantaran Arthur sudah semakin jauh, ia pun dengan cepat menyusul langkah bos nya itu. "Bagaimana tuan? Apa kita harus menyusul tuan Arthur?" tanya Paul.
"Tidak usah, biarkan dia menyelesaikan urusannya sendiri. Kita awasi dia dari kejauhan saja." Jawab tuan Lantunio karena dia tidak mau mencampuri urusan pribadi cucunya itu, biarlah Arthur mengurus nya sendiri pikir tuan Lantunio.
Arthur dan Bastian saat ini sedang berada di dalam mobil menuju bandara tempat jet pribadinya berada.
BERSAMBUNG.