Sakura's Petals

Sakura's Petals
Pulih (2)



DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA


“Yang Mulia, Yang Mulia Ratu meminta Anda menghadap.” ucap Hyun, setelah membungkuk hormat.


Putra Mahkota yang sejak tadi hanya duduk di atas kasurnya, menatap Hwa Ryong mengangguk. “Baiklah, kalau begitu tetaplah di sini dan jaga dia baik-baik. Jangan sampai ada seorangpun masuk ke kediamanku, kau mengerti?”


Hyun mengangguk. Putra Mahkota pun beranjak dan berjalan keluar. Langkahnya tiba-tiba terhenti, ia menoleh lagi ke arah Hyun. “Jika ia terbangun dan menanyakan yang membawanya siapa, jawab saja bahwa aku ini Menteri Personalia Keempat. Kau mengerti?”


Hyun tampak bingung sejenak, tapi pada akhirnya mengiyakan. “Baiklah, Yang Mulia.”


Sejam kemudian, Hwa Ryong pun membuka matanya. Ia tampak bingung saat mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Ruangan yang dipenuhi barang-barang mewah dan mahal. Walaupun rumahnya sendiri tak kalah mewah, tapi jelas rumahnya tak bisa mengimbangi kemewahan ruangan ini. Tak ada satu barang pun yang tampak usang. Butuh lima menit baginya untuk bangun dari rasa bingungnya, sebelum kemudian beranjak bangun dari kasurnya.


Ia hendak berdiri, tapi kakinya membuatnya terjatuh di kasurnya lagi. Mendengar suara dari dalam ruangan, Hyun pun melangkah masuk. Hwa Ryong tampak kaget dengan kedatangan Hyun.


“Syukurlah, Nona sudah bangun. Yang, eh, Tuan begitu khawatir dengan kondisi Nona.”


“Hm, Tuan, bolehkah saya tahu saya berada di mana?”


Hyun tersenyum. “Jangan panggil saya Tuan, Nona. Panggil saja Kasim Hyun.”


Hwa Ryong mengulang pertanyaannya lagi. “Baiklah, jika itu yang Anda minta. Kasim Hyun, bisakah Anda beritahu saya di mana saya sekarang?”


“Di dalam istana, Nona. Menteri Personalia Keempat yang membawa Anda kemari.”


Hwa Ryong menelan ludahnya, kasar. “Istana? Menteri Personalia? Kalau begitu, pria yang kemarin adalah seorang menteri.”


Hyun mengangguk. “Benar, Tuan adalah seorang menteri.” Hwa Ryong mendesah. Ia tidak menyangka orang yang kemarin ia panggil Oppa adalah seorang menteri. Melihat Hwa Ryong terdiam, Hyun langsung memerintahkan para tabib yang berada di luar, membawa masuk ramuan obatnya dengan isyarat tangannya.


“Ini adalah obat dari tabib, Nona. Tabib berpesan nona harus meminumnya begitu sadar.” katanya, sambil menyodorkan mangkuk obat.


Hwa Ryong mengangguk, lalu meneguk obatnya. “Terima kasih.” katanya, pada Hyun.


“Sama-sama, Nona. Ini sudah menjadi kewajiban saya. Lagipula, Nona telah menyelamatkan Yang, eh, Tuan saya.”


Hwa Ryong membalas ucapan Hyun dengan tersenyum.


Satu jam kemudian, Putra Mahkota sampai di kediamannya. Hyun langsung berlari menyusul Putra Mahkota dan membisiki majikannya.


“Dia sudah bangun?” ulangnya, gembira.


Putra Mahkota pun dengan setengah berlari, berjalan melintasi lorong. Tapi ketika ia hendak membuka pintu, ia teringat bahwa ia masih memakai pakaian Putra Mahkota. Ia menoleh ke arah Hyun. “Bantu aku ganti pakaian.”


Putra Mahkota duduk di depan kasur Hwa Ryong. “Apakah lukamu membaik?”


“Ya, Tuan.”


Putra Mahkota mengerutkan keningnya. “Salah. Bukan Tuan, tapi Oppa.”


“Terima kasih, Oppa.”


Putra Mahkota tersenyum. “Nah, begitu.”


Hening pun muncul di antara keduanya.


Hwa Ryong membuka pembicaraan. “Oppa,” panggilnya, dengan wajah terus tersipu, “Saya berterima kasih, Oppa telah menolong saya. Tapi bolehkah saya pulang saja?”


Putra Mahkota terkesiap. “Pulang?” ulangnya, setengah histeris. Hwa Ryong tampak kaget, Putra Mahkota pun berdehem menenangkan dirinya. “Kau belum sembuh benar. Setidaknya, tinggalah di sini beberapa hari lagi.”


“Saya hanya khawatir orang tua saya di rumah mencari saya.”


Putra Mahkota mengangguk, menyetujui. “Kalau begitu, bagaimana jika aku mengirim orang ke rumahmu dan memberitahu mereka bahwa kau baik-baik saja di sini?”


Hwa Ryong menggeleng. “Tidak, lebih baik saya pulang saja. Saya khawatir akan membuat istri Oppa terganggu karena keberadaan saya.”


Putra Mahkota terperangah. “Istri?”


“Oppa adalah seorang menteri, Oppa pasti sudah mempunyai istri.”


Putra Mahkota terdiam sejenak, kemudian tertawa geli. “Kau bisa tenang. Aku belum menikah. Jadi istirahatlah di sini sampai kau sembuh benar.”


Mereka pun saling menatap dalam diam. Mata Hwa Ryong menelusuri seluk beluk wajah Putra Mahkota. Hingga saat ini, ia masih tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada ketampanan pria di depannya itu. Sebaliknya juga demikian bagi Putra Mahkota. Ia tidak pernah melihat gadis secantik ini sepanjang hidupnya. Mata mereka pun tanpa sengaja bertemu. Membuat keduanya menundukkan kepala malu. Tapi kemudian, sambil mencuri-curi pandang, mereka dengan wajah masing-masing merona merah tertawa geli.


______________________________________________


" Terdapat satu kata yang dapat membebaskan kita dari beban dan penderitaan kehidupan; kata itu adalah cinta. "


- Sophocles


Gambaran pakaian Hwa Ryong :