Sakura's Petals

Sakura's Petals
Ratu



DI BALAI UTAMA KEDIAMAN RATU


“Ulang lagi.”


Hwa Ryong pun mengangguk hormat, mengambil vas baru lagi dan mulai memilih bunga mawar yang lain. Sesekali ia meringis, saat duri mawar menusuk jari tangannya. Sementara itu, Dayang Noh memperhatikan dengan cemas dari samping. Sudah dua puluh lima vas bunga dirangkai oleh Putri Mahkota, tetapi tidak ada satupun yang membuat Ratu senang. Padahal, sebenarnya keduapuluhlima vas itu sudah sangat cantik. Hwa Ryong yang sudah dikaruniai pengetahuan mengenai kerumahtanggaan istana, membuat rangkaian bunga itu lebih indah dari yang dayang istana buat. Tapi, entah kenapa Ratu bersikap begitu keras padanya.


“Ulangi lagi.” ucap Ratu, untuk kesekian kalinya.


Hwa Ryong pun mulai merangkai lagi hingga hari yang masih terang benderang berganti malam. Ratu yang baru saja kembali dari makan malamnya, melihat hasil rangkaian bunga Hwa Ryong dan mendesah.


“Ulangi lagi.”


Hwa Ryong mulai merangkai lagi. Sekitar sepuluh vas ia buat, ketika kemudian Ratu mendengus. “Hentikan saja. Kembalilah ke kediamanmu. Kau memang tidak punya bakat merangkai bunga, Putri Mahkota.”


“Maafkan kekurangan saya, Yang Mulia.”


“Pergilah.”


Hwa Ryong pun undur diri. Ia sempat oleng karena seharian ini terus menerus duduk dan merangkai bunga. Tapi ia berhasil menyeimbangkan tubuhnnya lagi, lalu memberi penghormatan pada Ratu, yang sudah sibuk membaca bukunya. Penghormatannya pun tidak digubris oleh mertuanya. Hwa Ryong dengan sedikit terseok, kembali ke kediamannya.


Begitu sampai di kediaman Putri Mahkota, Hwa Ryong mendapati kasurnya ditempati oleh Putra Mahkota. “Aku dengar seharian ini, kau berada di Istana Ibunda. Apa saja yang kalian lakukan? Apa Ibunda menceritakan hal-hal yang buruk tentangku? Jangan-jangan kalian bersekongkol di belakangku, ya?”


Hwa Ryong terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar ke arah Putra Mahkota. Dayang Noh yang hendak menjawab, dihentikan oleh isyarat tangan Hwa Ryong. “Iya, benar, Jeoha. Kenapa Anda bisa tahu?” Bersamaan dengan ucapannya, para dayang pun undur diri.


“Perasaanku saja. Kemarilah. Aku sudah sangat merindukanmu.” ucapnya. Hwa Ryong menghampiri Putra Mahkota, menggandeng tangannya lalu duduk di sampingnya.


“Eh, apa ini?” tanya Putra Mahkota, bingung. Hwa Ryong segera menyembunyikan tangannya yang penuh luka dari Putra Mahkota. “Kenapa tanganmu penuh luka seperti itu?”


“Ah, itu. Tadi aku hendak memetik beberapa bunga mawar untuk dibawa pulang, tapi karena sangat sulit akhirnya aku mendapat banyak luka saat mengambilnya.”


“Lalu, di mana mawarnya sekarang?”


“Hmmm, aku memberikannya pada dayang untuk dirangkai dan dipajang di depan kamar.”


“Jangan ulangi lagi. Kau selalu saja membuatku cemas. Baik kau hendak memetik mawar atau yang lainnya, jangan membuat dirimu sendiri terluka, apa kau mengerti?”


“Iya, Jeoha.”


“Lagipula, kau sekarang adalah Putri Mahkota Joseon. Kau memiliki banyak dayang untuk melakukan pekerjaan seperti ini. Perintahkan saja mereka dan jangan lukai dirimu sendiri.”


“Aku mengerti, aku tidak akan mengulanginya lagi.”


“Janji?”


Hwa Ryong mengangguk, pelan.


“Apa ada orang di luar sana? Cepat suruh Tabib Kerajaan siapkan obat untuk Putri Mahkota.”


Terdengar suara Dayang Noh memasuki ruangan, lalu membungkuk hormat mengiyakan. Sementara itu, Hwa Ryong menatap tangannya yang penuh luka. Mencoba berpikir positif mengenai mertuanya, ia menghela nafas pelan.


KEESOKAN HARINYA


Ratu menyuruh Hwa Ryong untuk membuat lukisan kaligrafi di perpustakaan istana. Seperti sebelumnya, Ratu nampak tak puas dengan hasil kerja Hwa Ryong.


“Apa kaligrafi seperti ini pantas bagi seorang Putri Mahkota?” Ratu melempar kertas hasil kaligrafi ke arah Putri Mahkota.


Guru Kaligrafi yang sedang berada di dekat Putri Mahkota, menatap ke arah kertas dengan wajah berkerut. “Yang Mulia, kaligrafi ini...”


“Oho! Kau berani memotong pembicaraanku dengan Putri Mahkota!”


“Maafkan hamba, Yang Mulia Ratu.” ucapnya, dengan dahi menempel di lantai.


Ratu menoleh ke arah Hwa Ryong. “Buatlah seratus lukisan kaligrafi seperti ini. Kau tidak boleh meninggalkan ruangan ini ataupun makan dan minum sedikitpun hingga kau menyelesaikannya. Apa kau mengerti?”


Hwa Ryong terkesiap pelan. Namun, sadar tak ada yang bisa ia lakukan, ia mengangguk hormat. “Ya, Yang Mulia.”


Ratu pun berjalan meninggalkan ruangan, meninggalkan Hwa Ryong dan dayang-dayang Putri Mahkota, beserta guru kaligrafi yang masih tetap berlutut di lantai.


“Kau bisa bangkit, Guru.” ucap Hwa Ryong.


Guru kaligrafi itu bangkit, kemudian segera memberi hormat. “Maafkan saya, Yang Mulia.”


Guru kaligrafi itu pun beranjak pergi. Hwa Ryong pun segera memulai melukis. Beberapa jam pun berlalu tanpa terasa. Sekitar separuh dari lukisan telah selesai. Dayang-dayang yang menemaninya berdiri di sekitar, mulai bergerak-gerak lelah. Sementara, Hwa Ryong terus saja melukis walau tangannya terasa begitu lelah.


Beberapa jam berlalu lagi dan lukisan kaligrafi hampir selesai seluruhnya. Hwa Ryong menggoreskan abjad terakhirnya, dengan raut lelah. Begitu selesai, ia menyerahkan pada kasim yang berdiri di sebelahnya.


“Apa benar sudah seratus?”


Kasim itu mengangguk, senang. “Ya, Yang Mulia. Sekarang, anda bisa beristirahat.”


Hwa Ryong ikut tersenyum, lelah. Ia mencoba berdiri dari kursinya. Namun, ia terhuyung sejenak. Dayang Noh, segera menangkap tubuh majikannya.


“Yang Mulia! Apa Anda baik-baik saja?”


Hwa Ryong, yang masih pusing, mengangguk pelan. “Tenang, aku tidak akan pingsan hanya karena hal seperti ini.”


Dengan setengah dipapah, Hwa Ryong meninggalkan kawasan perpustakaan istana menuju kediamannya di Istana Timur. Begitu sampai, ia pun segera membersihkan diri.


Ketika para dayang tengah mempersiapkan makan malamnya, tiba-tiba seorang dayang melangkah masuk dan memberitakan kedatangan Putra Mahkota.


Hwa Ryong langsung bangkit dari singgasananya dan menyambut Putra Mahkota di luar. “Jeoha!” hormatnya. Putra Mahkota langsung memberi isyarat kepada para dayang istana untuk pergi, meninggalkan mereka berdua sendiri.


Begitu sampai di kamar, Putra Mahkota kaget sesaat setelah melihat nampan berisi makanan tersaji di atas meja. “Hwa Ryong-ah, apa kau masih belum makan malam?”


Hwa Ryong terdiam sejenak. “Iya, Oppa. Aku terlalu lama berada di perpustakaan sehingga terlambat makan malam.”


“Sudah kubilang untuk menjaga tubuhmu. Kau tahu benar bahwa aku akan sangat menderita bila kau sampai sakit.”


“Aku tahu, Oppa. Maafkan aku.” Keduanya terdiam, kaku. Hwa Ryong mendesah, lalu menampilkan senyum terbaik yang bisa ia berikan saat itu, saat ia begitu lapar dan lelah. “Apa Oppa ingin mendengarkan sebuah puisi?” tanyanya, lalu berbalik menuju rak buku.


Putra Mahkota tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Kumohon, jangan lakukan hal yang bisa membuatku khawatir.”


Hwa Ryong membalikkan badannya, memeluk Putra Mahkota erat. “Aku berjanji, Oppa.”


Putra Mahkota tersenyum, lalu meringis. “Aku tidak pernah menyangka istriku di masa depan seperti ini, begitu nakal dan tidak patuh.”


Hwa Ryong pura-pura marah. “Kalau begitu, cari saja wanita yang lain.”


Putra Mahkota tertawa. “Bagaimana bisa aku mencari wanita lain, sementara hatiku sudah kau rebut?”


Keduanya tertawa. “Hmmm, Oppa. Sebagai ganti karena aku selalu membuat Oppa khawatir, aku akan menghadiahi Oppa sebuah tarian. Bagaimana?”


Putra Mahkota mengangguk, tertarik. “Tentu saja, aku mau.”


Hwa Ryong tersenyum, lalu segera berbalik menuju ke ruang ganti. “Oppa tunggu di sini sebentar, ya?”


SEJAM KEMUDIAN


Putra Mahkota yang awalnya antusias dengan senang, mulai menunggu dengan bosan. Hampir sejam sudah, Hwa Ryong berada di ruang ganti dan tidak kunjung keluar juga. Mungkin karena tidak ada dayang yang menolongnya berganti pakaian sehingga ia lama, pikirnya. Tapi satu jam bukanlah waktu yang singkat.


“Hwa Ryong-ah?” panggil Putra Mahkota pelan, akhirnya.


Tak ada jawaban.


“Hwa Ryong-ah! Aku masuk, ya?” tanya Putra Mahkota dengan sedikit ragu kalau ternyata Hwa Ryong belum selesai berganti pakaian. Tak ada jawaban lagi. Putra Mahkota pun memasuki ruang ganti.


Alangkah terkejutnya ia, melihat Hwa Ryong tergeletak tak sadarkan diri di lantai ruang ganti, masih dengan dangui lengkapnya. Putra Mahkota langsung berjongkok ke arah Hwa Ryong dan mencoba membangunkan istrinya. Namun, tak ada respon. Hati Putra Mahkota serasa ditikam seribu jarum.


“Apa ada orang di luar? Segera panggilkan tabib!”


_____________________________________________


" Mata ganti mata hanya akan membuat seluruh dunia menjadi buta. "


- MK Gandhi


Gambaran Pakaian Hwa Ryong