
Beberapa hari kemudian, Raja yang sedang duduk di kantornya dibuat kaget oleh berita yang dibisikkan oleh kasimnya.
Ia langsung mengurut dahinya, lelah begitu selesai mendengar berita bahwa prajurit-prajurit pengikut Pangeran Yunti yang berjumlah ribuan sudah mencapai pinggir ibu kota. Perang sudah tampak di depan mata, pikirnya.
Putra Mahkota yang juga menerima kabar yang sama, langsung menghadap ayahnya.
“Ahbamama, biarkan anakmu ini yang pergi menemuinya di luar istana. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk mencegah prajuritnya memasuki ibu kota.”
Raja yang sudah nampak lelah, mengiyakan. “Entah apa yang terjadi sebenarnya, hingga hal seperti ini bisa terjadi. Namun, aku sungguh bersyukur memiliki anak sepertimu, Seja.”
Seja menggeleng. “Saya yang bersyukur memiliki Ayah seperti Ahbamama.”
Raja tersenyum pelan. “Bagaimana keadaan Putri Mahkota? Apakah ia baik-baik saja? Aku yakin rumor di istana bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuknya.”
Putra Mahkota yang tidak pernah dengan Hwa Ryong sejak hari itu menjawab, “Ia pasti akan baik-baik saja, Ahbamama.”
DI PERBATASAN
Rombongan prajurit Putra Mahkota dan Pangeran Yunti saling berhadapan di perbatasan ibukota.
“Kau tahu persis apa yang kumau, bukan? Jadi, kabulkan keinginanku sebelum aku mengambilnya sendiri.”
Putra Mahkota mendesah marah. “Kau tahu persis peraturan Joseon bahwa tidak seorangpun penduduk Joseon boleh dijadikan budak, istri, ataupun berpindah kependudukan ke negara lain tanpa persetujuan Raja.”
Yunti mendengus. “Apa kau sedang mengarang sekarang?”
“Siapapun yang melanggar akan mendapatkan hukuman yang berat, tak peduli siapapun dia. Aku yakin kau pasti tahu hal ini juga.”
“Apa kau sedang mengancamku sekarang? Kau pikir itu akan berguna?”
“Selama kau berada di tanah Joseon, kau tidak bisa lepas dari hukum Joseon.”
Yunti tersenyum, meremehkan. “Entah, apa kau bisa mengatakan hal seperti itu nanti. Kita semua di sini tidak pernah tahu kapan tanah ini akan berganti kepemilikan. Apalagi setelah kejadian seperti ini terjadi.”
Putra Mahkota langsung mendesis, marah. “Beraninya kau.”
“Kalimat itulah yang seharusnya kuucapkan padamu.”
Putra Mahkota mendesah. “Aku menemuimu karena aku ingat persahabatan kita di masa lalu. Aku datang untuk membujukmu untuk menghentikan semua ini.”
Yunti mendengus. “Jangan membuatku tertawa. Persahabatan? Hanya ada kebencian di antara kita. Kau tahu persis itu.”
“Jika ini karena masalah kita di masa lampau yang masih belum terselesaikan, kumohon lupakanlah hal itu.”
“Lupakan? Semudah itukah kau berkata?”
Putra Mahkota mendesah keras. “Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu, tapi ingatlah kata-kataku ini. Sekalipun aku tahu bahwa kemungkinan besar kau bisa memenangkan peperangan ini, tapi aku tidak merasa kau akan bahagia atasnya. Kau mungkin bisa mendapatkan Hwa Ryong, tapi tidak dengan hatinya. Berhentilah membuat dirinya, terutama dirimu sendiri terluka. Ini adalah saranku sebagai sahabat lama, yang mungkin tidak diakui olehmu.”
Yunti terdiam sejenak. “Kau tahu sebuah ajaran bahwa tidak seorangpun bisa tahu kedalaman hati manusia. Kau tak tahu apakah hati Hwa Ryong akan terus bersamamu.”
“Tapi, setidaknya selama ia mencintaiku, aku ingin menjaganya dan membuatnya bahagia.”
Yunti terdiam, lelah.
“Pulanglah, Yunti-ah.”
“Penghinaan atas Qing yang telah dilakukan oleh Joseon akan kusampaikan dengan baik kepada Kaisar. Aku harap kau bersiap saat mendapat surat vonisnya.” Kemudian, dengan cepat, Yunti berbalik dan meninggalkan Putra Mahkota, menjauh dari perbatasan ibukota. Yang kemudian, diikuti oleh seluruh rombongan pasukan Dinasti Qing.
Putra Mahkota hanya bisa menatap teman lamanya, khawatir.
DI ISTANA DALAM
“Memajukan tanggal ritual penyatuan?” ulang Hwa Ryong. Ia nampak kaget dengan ucapan Ratu sebelumnya.
“Benar. Hanya ini satu-satunya cara untuk menjaga kedudukan dan statusmu sebagai Putri Mahkota Joseon.”
“Tapi...”
“Kau dan Putra Mahkota memang masih muda. Namun, menjaga statusmu di istana begitu penting. Sama pentingnya dengan menjaga nama baik Joseon.”
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
Yunti sedang duduk di kediamannya melamunkan Hwa Ryong. Hwa Ryong memakai pakaian bangsawan Qing, menjadi istrinya, sudah ada di pelupuk matanya. Tapi bayangan tersebut harus hilang ketika tiba-tiba seorang bawahannya menghadap dan mengabarkan bahwa Putra Mahkota dan Putri Mahkota dijadwalkan untuk malam pertama.
“Malam pertama?”
“Benar, Yang Mulia.”
Yunti langsung jatuh terduduk di kursinya.
Tatapannya berubah kosong. “Kapan?”
“Malam ini, Yang Mulia.”
Yunti terlihat sesak nafas seketika. “Temui Hyun Soo sekarang. Bilang padanya untuk melakukannya sekarang.”
“Hyun Soo, dayang mata-mata kita, Yang Mulia?”
Yunti menatap tajam ke arah pengawalnya. Pengawal itu langsung berubah ketakutan, mengangguk, lalu segera melaksanakan perintah majikannya.
Setelah bawahannya pergi, Yunti langsung memegangi dadanya, yang terasa nyeri.
DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA
Lima dayang mengitari Hwa Ryong. Satu memperbaiki rambutnya, satu merapikan pita dangui yang ia pakai, satu memoleskan perona bibir, satu memakaikan cincin ke jarinya, dan satu menaburkan bedak ke pipinya. Dayang Noh menatap tuannya, bangga. “Anda tampak begitu cantik malam ini, Sejabin Mama.”
Hwa Ryong tersenyum, gugup. “Apa benar?”
Dayang Noh bisa merasakan rasa gugup dari nada suara majikannya. “Apa Yang Mulia merasa gugup?”
Hwa Ryong tertawa kecil. “Bagaimana bisa aku tidak merasa gugup di saat seperti ini?”
Di suatu tempat di istana, tampak seorang dayang berdiri sendirian di kegelapan. Ia melongok ke arah sekitar sebentar sebelum kemudian masuk ke sebuah gedung kosong.
Di dalamnya, ia menemui seorang pria, yang ternyata merupakan bawahan Yunti.
“Yang Mulia Pangeran Yunti berkata bahwa ia meminta melakukannya sekarang.” bisik pengawal kepada dayang itu. Dayang itu langsung terkesiap kaget.
“Apa kau yakin?”
“Ya.”
Dayang itu mendesah. “Baiklah. Sekarang, aku ingin kau untuk membawa beberapa orang masuk ke istana. Bersiaplah dan bawa gerobak ke sini.”
“Baiklah.” jawab pengawal itu, masih bingung.
SESAAT KEMUDIAN
Hwa Ryong yang memakai dangui khusus, ia menunggu dalam kediamannya dengan gugup. Setelah beberapa lama, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia tak berani menoleh ke arah pintu. Namun, dalam sepersekian detik kemudian, mulutnya telah disumpal dengan kain dan matanya ditutup dengan kain hitam. Ia berusaha meronta, namun ia tidak sanggup mengalahkan kekuatan orang yang sekarang berusaha menggendongnya pergi.
Hwa Ryong pantang menyerah, ia terus meronta hingga kemudian salah satu bagian tubuhnya menabrak vas di dalam ruangan hingga pecah. Dayang Noh yang berjaga di luar seketika bertanya,
“Mamma, apakah Anda baik-baik saja?”
Karena tidak ada jawaban dari dalam ruangan, Dayang Noh pun merangsek masuk. Namun, naas, majikannya telah menghilang.
_____________________________________________
" Cinta seperti angin, kita tidak bisa melihatnya namun bisa merasakannya. "
- Nicholas S
Gambaran Pakaian Hwa Ryong saat bersiap malam pertama