
DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA
“Hwa Ryong.”
“Ah, Jeoha!” Hwa Ryong membungkukkan badannya hormat kepada Putra Mahkota yang baru saja pulang dari Balai Utama. “Anda sudah kembali? Aku harap apapun yang membuatmu harus pergi sepagi itu bukanlah masalah yang besar.” ucap Hwa Ryong, tulus khawatir kepada suaminya.
Putra Mahkota menyuruh dayang-dayang pergi, meninggalkan mereka hanya berdua di ruangan. Hwa Ryong duduk di pangkuan Putra Mahkota, segera setelah dayang-dayang pergi. Entah kenapa, Hwa Ryong sangat menginginkan pelukan dari suaminya saat itu. Mungkin karena ia merasa terancam atau takut kehilangan Putra Mahkota. Putra Mahkota membalas dan memeluk Hwa Ryong erat dalam pangkuannya.
“Aku harus membicarakan sesuatu denganmu.”
Hwa Ryong menelan ludah dan tetap memeluk suaminya. “Apa itu, Oppa?”
“Ini mengenai penunjukan selir baru.”
Hwa Ryong memejamkan matanya, menahan air mata. “Iya?”
“Ratu akan menunjuk calon selir baru untukku. Menurut Uhmamama, ini akan baik untuk kepentingan negara. Dengan menjadi besan Keluarga Kerajaan, keluarga calon selir bisa membantu lebih banyak rakyat. Selain itu, mempunyai besan yang kuat, akan membuat posisiku lebih aman sebagai Putra Mahkota.”
Hwa Ryong terdiam.
“Jujur saja, aku merasa malu, Hwa Ryong. Andai saja aku orang biasa, kau tidak perlu melalui hal seperti ini. Maafkan aku.”
Senyum keluar dari bibir Hwa Ryong. Ia mencoba menatap mata Putra Mahkota, lembut. “Aku tahu bahwa mencintaimu, aku harus berkorban dan menyadari bahwa aku bukan satu-satunya untukmu, Oppa. Aku tahu bahwa mencintai seseorang sehebat dirimu, aku harus rela membiarkan orang lain memilikimu. Aku tidak bisa memungkiri bahwa aku merasa sedih dan takut saat ini. Aku takut bahwa kau akan berhenti mencintaiku ketika orang lain datang di hidupmu. Aku juga wanita yang mengkhawatirkan banyak hal. Tapi ketika aku hendak menjadi Putri Mahkota, aku tahu benar bahwa Putri Mahkota lebih dari hanya menjadi istrimu. Aku juga mempunyai tanggung jawab besar untuk membimbing dan melindungimu dari apapun. Walau itu berarti aku harus menusuk hatiku dan terluka, aku takkan ragu. Jika memang dengan begini, aku bisa memberikan yang terbaik untukmu.”
Putra Mahkota terkesiap. Bukannya merasa tenang, ia merasa semakin tidak sanggup untuk membiarkan permasalahan ini menyakiti hati orang yang ia cintai. Begitu besar cinta Hwa Ryong untuknya, hingga ia rela berkorban. Namun apa yang dilakukan Putra Mahkota? Tidak satupun hal pernah dilakukan olehnya untuk Hwa Ryong.
Putra Mahkota hanya bisa memeluk Hwa Ryong, erat. “Aku berjanji. Aku takkan membuatmu terluka lagi. Aku akan melindungimu, Hwa Ryong. Aku takkan berhenti mencintaimu selamanya.”
Hwa Ryong berusaha membuat suasana menjadi ceria. “Apa Oppa yakin? Selamanya itu waktu yang lama.” kekeh Hwa Ryong, pelan. “Aku ini wanita yang banyak maunya dan suka bicara. Aku juga ingin sering dipeluk dan disayang. Aku ingin suamiku selalu bilang bahwa ia mencintaiku setiap pagi. Apa Oppa sanggup?”
Putra Mahkota terkekeh. “Kau ini ada saja. Tentu saja, aku sanggup. Siapa lagi yang dapat melakukannya dan menghadapimu selain aku?”
DI GERBANG ISTANA
Sebulan kemudian, Mi Kyung memasuki istana dengan tandunya yang seperti biasanya mewah. Hwa Ryong sengaja pergi menyambut Mi Kyung di gerbang utama, tempat Mi Kyung akan keluar dari tandunya.
Chima ungu muda dan dangui putih Hwa Ryong tertiup angin saat menunggu. Kepala Dayang Noh berkali-kali menyarankan agar Hwa Ryong kembali saja ke kediamannya karena angin sedang kencang. Namun, Hwa Ryong tetap bersikukuh. Ia ingin sekali menyambut calon selir baru Putra Mahkota. Atau lebih tepatnya, menjadi orang pertama yang melihat seperti apa calon selir baru ini.
Tidak lama kemudian, Mi Kyung sampai. Menggunakan dangui hitam dan chima merah muda, ia melenggang keluar dari tandu. Hwa Ryong terkesiap kaget. Ia ingat betul bahwa gadis itu adalah salah satu gadis yang mengikuti sayembara Putri Mahkota bersamanya. Seketika, hatinya menghangat. Seolah-olah sedang bernostalgia saat masa-masa itu. Hwa Ryong tidak lagi melihat calon selir baru itu sebagai saingan asing. Namun lebih ke arah sahabat seperjuangan. Di istana yang asing dan sepi, mempunyai teman yang mengerti dan mengenalmu adalah sesuatu yang menggembirakan. Setidaknya, itulah yang Hwa Ryong rasakan selama tinggal di istana.
“Sejabin Mama.” ucap Mi Kyung sambil membungkuk hormat. “Sudah lama kita tidak bertemu. Maafkan hamba, hamba tidak sempat mengunjungi anda sebelum hari ini.”
“Yang Mulia Putri Mahkota memang sungguh baik hatinya. Hamba sampai tidak bisa berkata-kata karena terkesima.”
Hwa Ryong mendesah. “Aku tidak pantas mendapat pujian seperti itu. Mari kita masuk. Aku tahu bahwa kau sudah lelah di perjalanan.”
“Baik, Yang Mulia.”
Mi Kyung pun mengikuti langkah Hwa Ryong dari belakang. Memang sudah menjadi tradisi kerajaan bahwa seseorang yang mempunyai gelar lebih rendah harus berjalan lebih pelan atau berjalan di belakang. Mi Kyung dalam hati, mengutuki Hwa Ryong. Seharusnya aku yang berjalan di depan, gerutunya dalam hati.
Pernikahan Mi Kyung dan Putra Mahkota pun dilaksanakan. Para dayang pun ditunjuk untuk melayani selir Putra Mahkota yang pertama. Sejak saat itu, Mi Kyung bukan lagi gadis bangsawan putri Menteri Keuangan, melainkan seorang selir kerajaan. Ia pun mendapat gelar tingkat keempat, yaitu Selir Eo-Sowon.
DI KEDIAMAN SELIR EO
Putra Mahkota sibuk menikmati sarapannya. Sama sekali tidak menoleh ke arah selir barunya, Mi Kyung. Hwa Ryong saat itu telah pergi. Hwa Ryong memang sengaja membiarkan mereka berdua memiliki waktu sendiri untuk berkenalan. Namun, tidak seperti yang Hwa Ryong inginkan. Putra Mahkota sama sekali tidak tertarik dan tidak berucap satu katapun kepada Mi Kyung.
“Saya rasa daging sapi asap adalah masakan kesukaan Anda, Jeoha. Di kemudian hari, biarkan hamba membuatkannya untuk Anda.” tanya Mi Kyung, memberanikan diri.
“Tidak. Itu tidak benar.”
Mi Kyung tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Jika hamba boleh bertanya, lantas mengapa anda makan begitu banyak daging sapi asap, Jeoha?”
“Ah. Ini karena Putri Mahkota menyukai daging sapi asap ini. Aku sedang mempelajari mengapa ia menyukainya dan berusaha mengingat rasanya. Aku hendak membuat ini untuknya saat hari ulang tahunnya minggu depan.”
Bagaikan petir, rasa geram menyambar hatinya. Mi Kyung berusaha tersenyum. “Hamba bisa melihat Anda begitu menyayangi Putri Mahkota. Yang Mulia Putri Mahkota sangat beruntung mendapatkan hati Anda, Jeoha. Hamba yakin Yang Mulia Putri Mahkota akan sangat senang saat mengetahui ini.”
“Rahasiakan ini darinya. Ini adalah kejutan yang ingin kuberikan untuknya.”
“Baik, hamba mengerti, Jeoha.”
_______________________________________________
" Mencintai seseorang berarti saling pengertian satu sama lain, tertawa dan menangis bersama, serta tersenyum dari lubuk hati dan saling percaya. "
- NN
Gambaran Mi Kyung saat memasuki istana sebagai selir :