Sakura's Petals

Sakura's Petals
Bandit



Rombongan Putra Mahkota berjalan menuju istana. Putra Mahkota menaiki kudanya dengan pakaian bangsawan biasa. Begitu pula pengawal dan dayang yang ikut dengannya. Gama Hwa Ryong berjalan bersebelahan dengan kudanya.


Hwa Ryong sesekali mencuri pandang ke arah Putra Mahkota dari jendela gama yang terbuka.


“Kau tak perlu malu-malu seperti itu. Lihat saja aku sebanyak yang kau mau.” ujar Putra Mahkota, tanpa menoleh ke arah Hwa Ryong sambil tersenyum datar.


Hwa Ryong terperangah, malu. Ia kemudian cepat-cepat menutup jendela gamanya, membuat Putra Mahkota seketika tertawa geli.


Baru saja tawa Putra Mahkota terhenti, tiba-tiba sekelompok besar bandit berdiri menghadang mereka. Rombongan Putra Mahkota berhenti seketika, membuat Hwa Ryong bingung dan membuka jendela gamanya lagi.


“Ada apa?”


Putra Mahkota terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Hwa Ryong. “Tetaplah diam di dalam gama. Dan jangan buka jendelanya sebelum kuminta.”


Hwa Ryong menatap Putra Mahkota, bingung. Tapi ia mengangguk begitu melihat betapa seriusnya muka Putra Mahkota. “Baiklah.” Ia kemudian menutup jendela gamanya. Putra Mahkota segera mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang.


Bandit itu pun menyerang tanpa ragu-ragu. Satu per satu pengawal Putra Mahkota berjatuhan, begitu juga dayang- dayang yang ada. Putra Mahkota dalam waktu singkat berada dalam keadaan terpojok. Ia pun segera kembali ke gama Hwa Ryong. “Hwa Ryong-ah! Cepat keluar!”


Hwa Ryong segera meloncat keluar dari gama. Ia tertegun sejenak saat melihat begitu banyak mayat pengawal tergeletak di tanah. Tapi ia tak punya waktu untuk itu, Putra Mahkota segera menarik tangannya, menjauh dari pertarungan yang sedang terjadi. Mereka berlari menuju hutan. Di belakang mereka, beberapa bandit berhasil keluar dari pertarungan dan mengejar mereka.


Di kejauhan, Nyonya Shim terkesiap menyadari bahwa gadis yang sedang dikejar oleh bandit itu adalah putrinya. Ia segera berlari menyusul mereka, bersama para pengawal yang juga menyaksikan nona mereka dikejar bandit-bandit itu.


Mereka berlari menyusuri hutan. Sambil terus berpegangan tangan, Putra Mahkota dan Hwa Ryong berlari menyelamatkan diri mereka. Tapi bandit-bandit itu berlari terlalu cepat hingga sulit untuk bisa menjaga jarak dengan mereka. Putra Mahkota pun berhenti berlari lalu menarik Hwa Ryong berhenti juga.


“Aku akan menghalau mereka di sini. Kau pergilah sejauh mungkin dari sini.”


Hwa Ryong menggeleng. “Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu.”


Bandit-bandit itu mulai kelihatan. Putra Mahkota sambil setengah mendorong Hwa Ryong pergi, ia berkata, “Pergilah! Tunggulah aku di air terjun itu.” Hwa Ryong menatap ke kejauhan di mana puncak air terjun itu terlihat. Ia melihat kerumunan bandit yang semakin dekat, kemudian berlari pergi.


Sambil tersengal-sengal, Hwa Ryong terus berlari. Sementara Putra Mahkota berusaha mati-matian melawan para bandit. Beberapa dari mereka telah berhasil ia lumpuhkan dalam waktu sekejap. Hanya tersisa tiga orang lagi, ketika kemudian pedangnya berhasil direbut oleh para bandit yang tersisa. Ia pun dengan terpaksa mengandalkan tangannya untuk melumpuhkan sisanya.


Hwa Ryong pun akhirnya sampai tak lama kemudian di air terjun, tempat mereka berjanji bertemu. Hwa Ryong mengawasi sekitarnya, cemas. Kenapa Yoon Oppa tak datang juga, pikirnya.


Ia sedang berjalan berputar di dekat air terjun ketika kemudian kedua tangannya dipiting. Ia berteriak ketakutan saat tahu bahwa orang yang memitingnya adalah sepasang bandit yang tampangnya begitu beringas. “Akhirnya tertangkap.” ucap bandit itu, disusul kekehan pelan.


Di tempat lain, Putra Mahkota yang berhasil melumpuhkan para bandit begitu kaget mendengar suara teriakan Hwa Ryong. Ia segera mengambil pedangnya dan berlari menuju arah air terjun.


“Cepat lepaskan aku!” ronta Hwa Ryong. Tapi para bandit segera menyumpal mulutnya juga dan mulai menyeretnya pergi.


Putra Mahkota pun tiba dan segera menyerang kedua bandit tersebut. Tapi tidak seperti yang tadi, kedua bandit itu cukup terlatih dan tidak mudah dikalahkan. Putra Mahkota yang mulai kehabisan tenaganya kewalahan mengatasi mereka berdua. Hwa Ryong hanya bisa menonton Putra Mahkota melawan mereka dari pinggir. Tak lama kemudian, Putra Mahkota jatuh terjerembab dan salah satu bandit sudah siap menghunuskan pedangnya ke arah Putra Mahkota, tapi Hwa Ryong langsung melemparkan tubuhnya, berusaha melindungi Putra Mahkota. Ia menggunakan tubuhnya untuk menjadi tameng bagi kekasihnya.


Putra Mahkota terperanjat, Hwa Ryong menutup kedua matanya pasrah. Untungnya, hunusan pedang bandit itu segera ditahan oleh salah satu pengawal Nyonya Shim yang datang tepat pada waktunya.


“Apa kau sudah gila?” cecar Putra Mahkota, sambil membuka ikatan mulut dan tangan Hwa Ryong.


“Berjanjilah padaku, kau takkan berbuat seperti itu lagi!”


“Tapi aku takut kau terluka.”


Putra Mahkota menatap Hwa Ryong lekat-lekat. “Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu. Apa yang akan dikatakan oleh orang lain jika seorang Putra Mahkota sepertiku tidak bisa menjaga kekasihnya sendiri dan malah kekasihnya yang melindunginya? Tidak hanya sebagai putra mahkota, sebagai pria pun aku gagal. Jadi, kumohon berhentilah membuat tindakan-tindakan berbahaya seperti tadi.”


Hwa Ryong hanya mengiyakan, tapi hatinya tentu saja beranggapan lain. Nyonya Shim segera menghampiri anaknya, begitu ikatan anaknya terlepas. “Apa kau tidak sadar betapa Ibu mencemaskanmu, Sayang?”


Hwa Ryong menunduk. “Maafkan aku, Bu.”


Nyonya Shim langsung memeluk anaknya. “Tidak, ini bukan kesalahanmu. Maafkan Ibu, Hwa Ryong-ah. Ibu terlalu memaksakan keinginan Ibu padamu.”


“Tidak, Bu. Akulah yang selama ini tidak berbakti pada Ibu dan Ayah.”


Nyonya Shim menggeleng. “Tidak, tidak apa-apa. Sekarang, ayo kita pulang.” ucapnya, sambil menarik tangan Hwa Ryong pergi. Tapi Hwa Ryong tetap berdiri di tempatnya. Ia mendesah. “Ada apa? Apa kau berencana untuk tetap kabur dari rumah?”


Hwa Ryong menatap Putra Mahkota, lalu menghela nafas. “Izinkan aku, Bu. Izinkan aku mengikuti pemilihan Putri Mahkota.”


“Putri Mahkota? Apa sebenarnya yang...” Kemudian Nyonya Shim teringat kata-kata suaminya, bahwa Putra Mahkota menyukai putrinya. Ia menatap Putra Mahkota yang berdiri tepat di sebelah anaknya. Mereka saat ini saling berpandangan cemas. Dan mereka tampak begitu serasi, membuat Nyonya Shim terdiam kehabisan kata-kata. Ia sempat melihat betapa mati-matiannya Putra Mahkota melindungi putrinya. Jelas, Putra Mahkota mencintai anaknya. Begitu pula putrinya. Apakah memang lebih baik jika Hwa Ryong bersama anak ini, pikirnya.


“Bu?” panggil Hwa Ryong.


Nyonya Shim pun menetapkan hatinya. “Baiklah. Aku akan biarkan kau mengikuti pemilihan. Tapi ingat, jika kau tidak terpilih, jangan pernah kabur dari rumah dan berjanjilah bahwa kau akan menikah dengan Yang Mulia Pangeran Yunti.”


Hwa Ryong tampak keberatan sesaat, tapi kemudian ia mengangguk. “Terima kasih, Bu.” Ia kemudian melayangkan senyum ke arah Putra Mahkota yang rautnya tampak cemas. “Aku tinggal pastikan aku menang, jadi jangan khawatir. Kalau dinilai, cintaku padamu adalah nomor satu di antara yang lain, Oppa.”


Putra Mahkota tersenyum geli, lalu menjentikkan jarinya ke hidung Hwa Ryong. “Aku mengerti. Ayo, kita harus segera berangkat.”


Nyonya Shim mengangguk. “Benar, kau harus cepat berangkat. Ibu akan menunggu di rumah,” ucapnya, namun dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia takkan bisa bertemu dengan anaknya lagi di rumah. Sejak dulu, ia tahu bahwa anaknya ditakdirkan untuk sesuatu yang besar. Entah sebagai Fujin atau sebagai Putri Mahkota.


____________________________________________


" Seorang ibu adalah wanita super yang bekerja 24 jam sehari, 365 hari setahun, gratis, tanpa pernah libur satu haripun. "


- NN


Gambaran Pakaian Nyonya Shim :