Sakura's Petals

Sakura's Petals
Prolog



"Hidup manusia sama seperti bunga sakura. Bunga yang bersemi dengan indahnya dan gugur pada waktunya pada pohon waktu. Setiap manusia memiliki waktu yang terbatas. Entah apakah akan dihabiskan dengan rasa bahagia atau menderita. Bahagia dan menderita pun semua kita sendiri yang menentukannya. Seperti pertanyaan, apakah kematian adalah kutukan atau anugerah bagi orang yang mengalami sakit berat. Dan apakah kehidupan adalah beban atau pemberian, bagi orang yang mengalami kesialan seumur hidupnya. Dan jika boleh jujur, dulu aku berpikir bahwa kematian adalah penderitaan. Karena mati berarti aku takkan bertemu sosok dirimu, Jeoha. Kamu yang ada di pikiranku setiap saat, kamu yang menjadi alasanku bertahan di tengah peliknya hidup, kamu dan pelukanmu yang membuat hatiku menjadi teduh.


Namun, tetap semua akan berhenti pada waktunya. Dan ketika hidup berjalan dan kematian mendekat, pikiranku pun berubah. Kehidupan membuatku berpikir bahwa kematian tidaklah selalu buruk. Apalagi jika dengan mati, aku bisa membuat semua orang bahagia, membuatmu aman, Jeoha. Orang akan berduka namun waktu akan menyembuhkannya.


Aku akan dikenang namun takkan lagi dinantikan. Itulah siklus kehidupan.


Kehidupan juga mengajarkanku bahwa hidup dapat murah hati memberi kita banyak hal, namun juga dapat mengambilnya setiap saat dengan kejam.


Dan tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubahnya.


Iya, setakberdaya itu diri kita.


Aku pun tak pernah bisa menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi pada kita.


Karena nyatanya, setiap orang yang hidup tak pernah punya pilihan.


Dan semua keputusan memiliki alasan di baliknya.


Maafkan aku, Jeoha


Aku hanya dapat memandangmu dari jauh mulai sekarang


Di kehidupan yang selanjutnya, aku berharap kita bertemu lagi dengan nasib yang berbeda


Cinta yang sama yang kurasakan denganmu.


Bukan dia yang menyakitiku, namun akulah yang memang memutuskan untuk berkorban demi kebahagiaanmu.


Ada pepatah yang berkata bahwa sang matahari mencintai bulan sedemikian besarnya hingga ia berkorban mati setiap malam agar sang bulan dapat hidup.


Namun, sayang, aku tak mau seperti itu.


Kamu adalah matahari negeri ini, aku tidak mau menjadi penghalang bagimu ataupun bagi negeri ini.


Waktuku kini telah tiba.


Aku mencintaimu, Jeoha.


Aku berharap kau akan selalu mengingatku setiap kau melihat pohon sakura mekar dan gugur."


- Bunga Sakura milikmu seorang


Tangisan terdengar dari kamar Raja. Kasim Hyun mendengar itu lalu mendesah. Ia merasa begitu tak berdaya. Kasim Hyun telah melayani raja sejak raja masih muda, melihat tuannya menderita ia pun ikut merasakannya. Namun, jika ia ingin menyenangkan tuannya, itu berarti ia harus menghidupkan kembali mendiang Putri Mahkota yang telah meninggal. Hal yang mustahil. Ia hanya bisa mendesah lagi.


"Setiap musim bunga sakura mekar, Jeohna akan membaca surat yang mendiang Putri Mahkota tulis untuknya di detik-detik terakhirnya, dengan raungan dan air mata. Sungguh Putri Mahkota begitu kejam. Tidak. Nasiblah yang begitu kejam untuk mereka."