
DI KEDIAMAN PRIBADI PUTRA MAHKOTA
Begitu mereka sampai, para penjaga yang berjaga di luar, langsung membungkukkan badannya begitu melihat Putra Mahkota.
Putra Mahkota langsung turun dari kudanya, membantu Hwa Ryong turun, lalu menuntun kudanya berjalan masuk ke dalam gerbang.
Rombongan Putra Mahkota mengikuti dari belakang. Kasim Hyun sesekali mendesah di belakang mereka.
Tiba-tiba dari arah depan, seorang pria berpakaian kasim berlari mendekat bersama empat dayang kepala lainnya. “Jeoha! Kenapa Anda tidak memberitahukan lebih dahulu kedatangan Anda?”
Putra Mahkota sejenak terkejut. Ia lupa memberitahu para dayang untuk memanggilnya dengan sebutan Tuan, bukan Yang Mulia. Ia mendesah. Tidak, ini malah bagus, pikirnya. Bukankah sebaiknya Hwa Ryong tahu siapa dia sebenarnya?
Di sisi lain, Hwa Ryong menatap Putra Mahkota dan Kasim bergantian, dengan raut bingung. “Jeoha? Apa maksud dari...?”
Putra Mahkota langsung menyela. Ia menoleh ke arah kasim di depannya. “Bawakan kami makanan ke Aula Utama dan siapkan beberapa kamar tamu untuk kami tinggal.” Kasim itu mengangguk hormat, lalu berlalu pergi bersama rombongannya. Putra Mahkota lalu menoleh ke arah Hwa Ryong. “Ikut aku.”
Hwa Ryong yang masih kebingungan hanya bisa mengikuti dari belakang. Berbagai pemikiran melintas di pikirannya tanpa bisa ia hentikan. Kejadian hari ini benar-benar di luar dugaannya. Ia sudah setengah memasrahkan hatinya, menerima Yunti, tapi entah kenapa akhirnya malah menjadi begini. Ketika ia sudah tak lagi melihat jalan, muncul sebuah kesempatan baginya. Tapi, pertanyaannya adalah apa ia berani mengambil kesempatan besar namun berbahaya ini? Apakah ia sudah merelakan hatinya jika nanti Yoon Oppa harus terluka karenanya? Apakah ia akan sanggup menanggungnya, tanyanya dalam hati.
Putra Mahkota duduk di balik meja, Hwa Ryong pun duduk di hadapannya dengan pandangan masih menerawang. Putra Mahkota berdehem, menyuruh para bawahannya keluar ruangan dan menjauh. Deheman itu membuat Hwa Ryong mendongak. Ia menatap Putra Mahkota dengan pandangan lelah.
Putra Mahkota menatap lembut Hwa Ryong. “Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang yang membawamu itu?”
Hwa Ryong mengalihkan pandangannya, bingung menjawab apa. “Soal itu, aku tidak bisa menjawabnya, Oppa. Maafkan aku.”
Putra Mahkota mendesah. “Apakah ia bangsawan dari Qing?”
Postur tubuh Hwa Ryong menegang seketika. Ia tidak berani menjawab, takut suaranya akan bergetar.
“Jadi, tebakanku benar, rupanya.” Keduanya kemudian terdiam cukup lama. Putra Mahkota menghela nafas panjang. “Kumohon, beritahu aku siapa dia. Apakah dia seorang bangsawan biasa ataukah jangan-jangan seorang pangeran?”
Kepala Hwa Ryong menunduk semakin dalam. Apa yang harus kulakukan, pikirnya. “Dia bukan bangsawan.” tegasnya. “Ia hanya seorang teman.”
“Teman? Lalu kenapa dia membawa begitu banyak pengawal untuk mengantarmu?”
Hwa Ryong berpikir keras. “Aku tidak tahu.” Keduanya terdiam sejenak. “Kalau Oppa tidak keberatan, aku ingin tidur cepat malam ini.”
“Tunggu, aku masih punya sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”
Hwa Ryong berhenti sejenak, lalu melangkahkan kakinya lagi. “Oppa bisa memberitahuku besok.”
Putra Mahkota hanya bisa menatap Hwa Ryong pergi keluar dari ruangannya. Ia mendesah begitu melihat Hwa Ryong menutup pintu, pergi. “Apa sebenarnya yang disembunyikannya?” desah Putra Mahkota.
Hwa Ryong berjalan berputar-putar di kamarnya. Ia menggigiti jarinya, gelisah. Aku harus segera keluar dari sini, pikirnya. Melihat wajah Oppa lebih lama lagi, aku takkan bisa menetapkan hati untuk meninggalkannya.
Hwa Ryong pun menunggu hingga dini hari ketika beberapa pengawal kelelahan dan mencari celah darinya untuk melarikan diri. Setelah sampai di luar pagar rumah, ia segera berlari menembus kegelapan.
DI KEDIAMAN SEMENTARA PANGERAN YUNTI
“Yang Mulia, kami akan pastikan untuk menemukan tempat orang yang menculik Nona berada dini hari ini, jadi beristirahatlah yang tenang, Yang Mulia.”
Yunti menaruh cangkir, kasar hingga cangkirnya retak dan melukai tangannya sendiri. Bawahannya menatapnya, khawatir.
“Yang Mulia...”
Yunti menatap bawahannya, marah. “Apa kau pikir aku bisa tenang saja sementara calon istriku diculik entah ke mana? Keluarlah dan jangan buat aku menghukummu karena kesal.”
“Baik, Yang Mulia.” Bawahan itu pun pergi tanpa suara. Meninggalkan Yunti yang kemudian segera menuangkan arak ke cangkir lainnya. Ia meminumnya dalam sekali teguk. Matanya memerah karena kesal sekaligus gelisah. Setelah meminumnya, ia membanting meja di depannya, membuat seluruh barang di atasnya berhamburan dan pecah di mana-mana.
DI KEDIAMAN PRIBADI PUTRA MAHKOTA
Putra Mahkota tampak tertidur pulas di kamarnya. Tak lama kemudian, ia pun terbangun. Ia tersenyum begitu terbangun saat sadar bahwa Hwa Ryong berada satu rumah dengannya. Hatinya terasa begitu ringan mengetahuinya.
Tapi kemudian, Kasim Hyun masuk ruangan dengan tergesa-gesa tanpa memberitahu kedatangannya. Putra Mahkota memandangnya, bingung.
“Apa kau sudah bosan jadi kasim sehingga bertindak tidak sopan seperti ini?”
Kasim Hyun mendesah. “Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi ada yang lebih penting dari itu sekarang. Nona Hwa Ryong... dia menghilang.”
Putra Mahkota terbelalak. "Apa katamu?" Ia langsung bangkit dari kasurnya dan berlari panik keluar.
________________________________________
" Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah tahu bahwa kamu ada di hatiku. "
- NN
Gambaran Pakaian Hwa Ryong :