Sakura's Petals

Sakura's Petals
Luar Istana



Musim semi pun tiba beberapa minggu kemudian. Ratu pun memutuskan untuk menghelat acara di luar istana bersama anak-anak yatim piatu bersama. Di acara tersebut, ia hendak mengajak seluruh wanita istana berkunjung bersama. Ia berharap acara ini dapat memberikan penghiburan untuk anak-anak di musim semi.


Hwa Ryong yang memang pada dasarnya suka berada di luar istana dan anak-anak, menyetujui keinginan Ratu. Acara pun dibuat besar-besaran dan diatur oleh Ratu sendiri. Hari acara itupun tiba. Semua wanita istana sibuk bersiap diri. Bagi mereka, ini adalah ajang untuk tampil tercantik di hadapan rakyat karena hari ini mereka akan diarak keluar istana melewati jalan menuju panti-panti asuhan. Tampil tercantik adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka.


DI BALAI KEDIAMAN PUTRI MAHKOTA


“Yang Mulia, ini Kepala Dayang Noh.”


Hwa Ryong yang sedang dirias oleh pelayannya menjawab, “Masuklah.”


Kepala Dayang Noh tampak kaget saat melihat riasan Putri Mahkota. “Apa Yang Mulia yakin menggunakan pakaian seperti ini?”


Hwa Ryong mengangguk, heran. “Apakah terlihat aneh?”


Kepala Dayang Noh menggeleng. “Anda selalu tampak cantik, Yang Mulia. Tapi hari ini para wanita istana akan berlomba menunjukkan kecantikan mereka. Memakai jeogori sutra berwarna ungu muda dan chima merah muda tanpa jahitan emas bukanlah pilihan yang baik, Yang Mulia.”


Kekehan pelan keluar dari sela bibir Hwa Ryong. “Aku tidak mengerti mengapa mereka sibuk berdandan padahal ini adalah acara kunjungan luar istana. Tapi, memakai pakaian terlalu mewah akan membuat anak-anak ketakutan dan menjauhiku. Aku hanya tidak ingin membuat mereka malu bertemu denganku. Jadi, aku memutuskan untuk memakai pakaian seperti ini hari ini. Jujur saja, jika memang peraturan istana mengijinkanku, aku hendak memakai pakaian sama seperti mereka. Namun tampaknya Ratu tidak akan setuju, jadi aku tidak jadi melakukannya.”


Kepala Dayang Noh hanya bisa tersenyum, mendengar ucapan tuannya. Ucapan Hwa Ryong benar. Memakai pakaian indah akan membuat anak-anak menjauh karena takut mengotori pakaian wanita istana saat bermain bersama. Putri Mahkota memang adalah orang yang sangat baik dan memikirkan rakyat, pikir Dayang Noh.


DI BALAI KEDIAMAN SELIR EO


“Dasar bodoh!” seru Mi Kyung kepada para pelayannya. “Berani sekali kau membawakanku pakaian seperti ini? Bagaimana bisa seseorang sepertiku memakai pakaian sekumal ini?”


“Maafkan kami, Nyonya. Tapi hanya pakaian-pakaian ini yang disediakan oleh Ratu untuk Nyonya.”


“Cepat ambilkan pakaian pribadiku! Bagaimana bisa pakaian seperti ini diberikan kepadaku?”


Dayang-dayang pun berlarian mengambil pakaian lain untuk Mi Kyung. Dalam hati, mereka mengutuki sikap angkuh Mi Kyung. Pakaian yang Ratu berikan sudah sangat baik dan layak menurut mereka. Bahkan, Ratu membiarkan kain-kain terbaik dikirim kepada Mi Kyung untuk dijahit menjadi pakaian baru karena statusnya yang masih keponakan jauh Ratu. Namun bukannya berterima kasih, Mi Kyung menolak pakaian-pakaian baru itu karena dianggapnya kumal.


Benar-benar tidak tahu terima kasih, pikir dayang dalam hati. Satu setel pakaian saja dapat memberi mereka makan untuk setahun.


DI JALANAN KOTA


Tandu wanita-wanita istana diarak melalui jalanan kota. Sebagian besar dari mereka memakai jeogori berbordir perak untuk tampil lebih cantik di hadapan rakyat. Tampilan Mi Kyung dengan jeogori berbordir rumit dengan taburan berlian serta dipadukan dengan chima berkain sutra mahal impor dari Dinasti Qing, menjadi salah satu yang terbaik selain Ratu. Ratu mendecakkan lidahnya, menatap Mi Kyung. Jujur saja, ia merasa malu melihat betapa menornya keponakannya. Sementara di sisi lain, menantu kesayangannya, Hwa Ryong tampil sederhana tanpa bordir emas ataupun perak, hanya bordiran benang putih semata. Namun, kesederhanaan itu tidak dapat menyembunyikan kecantikan Hwa Ryong. Tak ada seorang pun yang tidak kagum akan penampilan Hwa Ryong saat ia melintas.


Acara pun dimulai dengan makan bersama. Tiap wanita istana didampingi oleh satu anak yatim piatu, makan di meja yang sama. Tidak seperti Hwa Ryong yang nampak tenang dan sabar membantu anak yatim piatu itu makan bersama, Mi Kyung terlihat acuh tak acuh terhadap anak yatim piatu bagiannya. Lagi-lagi, Ratu hanya bisa mendecakkan lidahnya, malu.


Di saat acara bebas pun, Hwa Ryong tidak segan bercengkerama dengan para anak yatim. Sementara Mi Kyung sibuk duduk di balai yang dingin dan mengipasi wajahnya yang kepanasan.


“Yang Mulia! Anda begitu baik dan tidak seperti wanita istana yang lainnya.” ucap salah satu anak yatim kepada Hwa Ryong.


Hwa Ryong mengerutkan dahinya, heran.


“Ah, mungkin karena mereka lelah sehingga mereka beristirahat dulu. Bagaimana jika kau ajak teman-temanmu yang lain untuk bermain bersamaku juga? Kurasa bermain petak umpet bersama akan sangat menyenangkan.”


Anak kecil itu pun lari untuk memanggil teman-temannya dengan wajah girang. Hwa Ryong tersenyum senang. Melihat anak yang diasuhnya senang, ia bisa merasakan hatinya menghangat. Sesuatu yang jarang dapat ia rasakan di dalam istana. Memang terdapat Putra Mahkota yang senantiasa menemaninya. Namun, terkadang protokol istana dan struktur gelar dalam istana membuatnya muak.


Bersama lima belas anak, Hwa Ryong bermain petak umpet. Ia ditugaskan menjadi penangkap dan pencari. Sudah enam anak ia temukan. Ada yang bersembunyi di bawah selimut, di belakang dayang istana, di balik pohon, dan banyak lagi. Hwa Ryong sesekali terkekeh geli melihat tingkah anak-anak yang lucu saat bersembunyi.


Ia sedang sibuk berjalan untuk mencari di sekitar danau di belakang panti, ketika kemudian ia melihat ada bayangan mencurigakan di sekitar semak-semak. Senyum segera menghiasi wajah Hwa Ryong. Pasti ada yang bersembunyi di sini, pikirnya. Dengan langkah pelan, ia berjalan mendekat. Dan benar saja, ada seorang anak berpipi bulat sedang bersembunyi di sana. “Ketemu!”


“Ah! Yang Mulia pandai sekali bermain. Ini tidak seru!” ucap anak itu sambil mendesah kecewa.


Hwa Ryong tertawa. “Maafkan aku. Ayo keluar dari sana dan bantu aku mencari temanmu.”


Baru saja Hwa Ryong hendak membantu anak itu berdiri dan keluar dari semak-semak, ketika kemudian tiba-tiba ia mendengar suara yang terdengar tidak asing. Desisan ular!


Ular menggantung tepat di ranting pohon di atas kepala anak itu. Melihat wajah Hwa Ryong yang mengeras khawatir, anak itu pun sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia pun mendongak ke atas dan langsung berteriak ketakutan.


Ular itu nampak kaget karena kemudian ular itu langsung berubah sikap menyerang. Ular itu hendak mematok kepala anak itu. Namun untungnya, secepat kejapan mata, ia mengayunkan tangannya, mencoba menjauhkan ular itu. Taring ular itu pun menusuk pergelangan tangan Hwa Ryong saat Hwa Ryong melakukannya. Ular itu segera menghilang di balik semak-semak setelah berhasil melukai pergelangan tangan Hwa Ryong.


Mendengar suara teriakan, dayang istana dan anak-anak pun segera berdatangan menuju arah danau.


“Yang Mulia Putri Mahkota! Apa Anda baik-baik saja?”


Hwa Ryong meringis. “Kurasa aku perlu tabib istana.” ucapnya, sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang sedikit berdarah.


Anak yang ditolong Hwa Ryong segera menangis. “Maafkan aku, Yang Mulia. Jika saja bukan karena aku, Yang Mulia tidak akan dipatok ular.”


Kaki Kepala Dayang Noh berubah lemah begitu mendengar kata ular. “Ular, katamu?” ulangnya, ngeri. “Cepat panggilkan tabib istana!” serunya, kepada bawahannya.


___________________________________________


" Tidak ada seorang pun yang akan jatuh miskin akibat memberi. "


- Anne Frank


Perbandingan Pakaian Hwa Ryong dan Mi Kyung :