Sakura's Petals

Sakura's Petals
Janji



DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA


“Jangan halangi langkahku!”


Kasim Hyun mendesah. “Tapi, Jeoha.”


“Cepat! Apa kau ingin mendapat hukuman dariku?”


“Jeoha. Ini tidak benar. Jeoha tidak boleh keluar istana tanpa persetujuan Yang Mulia Raja.”


“Aku sudah menuruti kemauanmu untuk menghadiri perjamuan makan siang bersama Pangeran Yunti. Aku juga sudah mendampinginya bermain gayageum tadi. Apa masih ada alasan bagiku untuk tidak pergi?”


“Jeoha, hamba mohon.”


Putra Mahkota pun mendorong Kasim Hyun ke pinggir. Ia pun meloncat dari jendela dengan pakaian bangsawannya. Ia mulai meloncati pagar cepat.


“Jeoha! Pengawal! Cepat bawa kembali Yang Mulia Putra Mahkota! Dan jangan sampai seorang pun tahu.”


Para pengawal khusus Putra Mahkota pun bergegas menyusul dari belakang, tapi sayang Putra Mahkota sudah pergi terlalu jauh untuk mereka susul.


DI BAWAH POHON SAKURA


Hwa Ryong menangis tersedu. Tak lama kemudian, seolah langit juga merasakan kesedihannya, hujan lebat pun turun atasnya. Beribu pertanyaan dan keraguan timbul di hatinya. Tubuhnya mulai menggigil.


Lima menit kemudian, terdengar suara pria memanggil namanya. “Hwa Ryong! Hwa Ryong-ah!”


Hwa Ryong berdiri dari tempatnya. Ia memeriksa penampilannya, merapikan pakaian dan rambutnya yang telah basah, dan memasukkan hadiah yang ingin ia berikan pada Putra Mahkota dalam kantung sakunya.


“Hwa Ryong-ah!” Putra Mahkota langsung berlari saat matanya menangkap bayangan Hwa Ryong. Hatinya semakin sesak saat mendapati Hwa Ryong basah kuyup dan menggigil.


“Oppa!”


“Hwa Ryong! Kau tidak apa-apa?”


Hwa Ryong tersenyum, menenangkan. “Aku tidak apa-apa. Oppa, Oppa baik-baik saja, kan? Aku khawatir sekali Oppa diserang seperti yang terjadi dulu. Aku juga khawatir Oppa tidak akan memenuhi janji kita. Tapi, ternyata Oppa datang. Aku begitu lega melihat Oppa.”


Putra Mahkota semakin merasa bersalah. “Maafkan aku. Aku membuatmu menunggu selama ini. Sebagai gantinya, bagaimana jika kutraktir makan malam?”


Hwa Ryong mengangguk. Hujan pun berhenti dan mereka berjalan menuju warung terdekat.


DI JALAN MENUJU KEDIAMAN KELUARGA SHIM


“Terima kasih atas makanannya.”


“Aku yang harusnya bilang begitu. Kau sudah menungguku seharian, maaf, ya?”


Hwa Ryong tertawa geli. “Oppa sudah mengucapkan maaf sebanyak dua puluh kali, Oppa tahu?”


Putra Mahkota mendesah. “Tapi itu tidak bisa mengurangi rasa bersalahku padamu."


“Jika Oppa benar merasa bersalah, datanglah tepat waktu pada pertemuan kita selanjutnya.”


“Iya, aku berjanji."


Hwa Ryong bersin. Ia hendak mengambil saputangan dari dalam saku bajunya, sebelum kemudian ia teringat akan hadiah yang ia siapkan bagi Putra Mahkota.


“Cepat masuklah, aku tidak ingin kau masuk angin gara-gara aku.”


Hwa Ryong tersenyum, lalu menyodorkan kantung berisi saputangan itu.


“Apa ini?”


Hwa Ryong menunduk malu. “Hadiah.”


Putra Mahkota tersenyum senang. “Ah, bagaimana ini? Aku tidak bawa apapun untukmu hari ini.”


Hwa Ryong menggeleng cepat. “Oppa tidak perlu membalasnya.”


Putra Mahkota tersenyum mengiyakan. “Baiklah, ini kuterima. Terima kasih, ya?”


Hwa Ryong mengangguk. “Aku pulang dulu, ya, Oppa.”


“Tentu.” katanya, sambil melambaikan tangan. Lalu Hwa Ryong menghilang dari pandangan Putra Mahkota di balik pintu gerbang rumah.


DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM


“Apa perkataan Ibumu ini kau anggap angin lalu sehingga kau melenggang keluar rumah seenaknya saja?” seru Nyonya Shim, beringas sambil memecut kaki anaknya dengan rotan.


Hwa Ryong terdiam, sambil sesekali meringis kesakitan. Dalam benaknya, penuh oleh wajah Putra Mahkota. Ia bahkan tidak menghiraukan satu katapun yang diucapkan ibunya. Sejam kemudian, sambil terseok-seok, Hwa Ryong kembali ke kamarnya dipapah Seol.


“Nona, tolong jangan lakukan ini lagi pada saya.” ucap Seol, setelah mendudukkan majikannya di kasur.


Hwa Ryong yang tersenyum gembira, menatap Seol. Seol menatap balik nonanya, bingung. “Kenapa Nona bisa tampak baik-baik saja, bahkan gembira sekali, setelah dipecut Nyonya? Saya yakin kaki anda hampir patah karena pecutan Nyonya.”


“Rahasia.” jawab Hwa Ryong. “Bantu obati lukaku, Seol.”


“Ah, Nona ini. Jangan bilang Nona akan melakukannya lagi.” ucap Seol, setelah menangkap raut muka jahil pada wajah majikannya.


“Memang aku akan melakukannya lagi. Lagi dan lagi.”


“Jika begini terus, Nona bisa dikunci di gudang. Apa Nona tidak takut?”


Hwa Ryong terdiam sebentar, lalu tidur telungkup, membiarkan Seol mengobati lukanya. “Sebenarnya, takut. Tapi dijatuhkan di jurang pun aku rela.”


Seol menggeleng-gelengkan kepalanya, kesal. “Astaga! Apa sih yang membuat Nona aneh seperti ini? Apa kepala Nona sempat terbentur tadi di jalan?”


“Kau akan mengerti suatu saat nanti, saat kau bertemu dengan orang yang tepat.”


“Orang yang tepat?”


“Ya, seseorang yang membuatmu menjadi orang paling bahagia di dunia.”


Seol menggeleng, tak percaya. “Aku tidak peduli siapa dia. Jangan biarkan dia membuat Nona dihukum atau terkena masalah. Bukan hanya karena itu akan membuat saya dihukum saja, tapi kabur dari rumah itu sangat berbahaya. Apalagi di saat seperti ini, saat Pangeran Yunti sedang berada di Korea. Nyonya dan Tuan Shim bisa kehilangan muka jika anda terus-terusan begini.”


Hwa Ryong mendesah. “Iya, iya. Aku tahu.” Tapi dalam benaknya, ia merencanakan untuk kabur lagi.


DI BALAI KEDIAMAN PUTRA MAHKOTA


Putra Mahkota duduk di kasurnya, dengan senyum menghiasi wajahnya. Kasim Hyun mendesah.


“Apakah Yang Mulia begitu bahagia bisa kabur dari istana?”


Putra Mahkota mengangguk. “Hmmm, tentu saja.” Ia kemudian mendengus ke arah Kasim Hyun. “Tapi gara-gara kau, aku jadi terlambat, kau tahu?”


“Jeoha, jangan lagi lakukan itu. Kejadian sore ini memang berhasil saya atasi. Tapi jika Anda melakukannya lagi, saya tidak bisa menjamin Yang Mulia bebas dari hukuman juga.”


“Aku tahu.”


“Pemilihan putri mahkota sudah dekat. Jika Yang Mulia ketahuan berada di luar istana bersama gadis, nama keluarga kerajaan akan tercoreng dan keluarga gadis itu juga akan terancam diasingkan. Jadi, kumohon Yang Mulia berpikir seribu kali sebelum melakukannya, Yang Mulia.”


“Kau, tenang saja. Aku sudah memikirkan cara keluar dari istana tanpa seorangpun tahu. Jadi duduk saja dan minum teh selagi aku pergi. Aku jamin tidak akan ada masalah.”


Mata Kasim Hyun terbelalak lebar. “Apa maksud Yang Mulia? Jeoha! Hamba mohon urungkan niat Anda keluar dari istana lagi.”


Putra Mahkota membaringkan tubuhnya di kasur. “Aku mau tidur. Jangan ganggu aku.”


“Jeoha!” desah Kasim Hyun.


Putra Mahkota mengeluarkan sapu tangan yang dihadiahkan Hwa Ryong untuknya dari saku baju tidurnya. Ia memandangi bordiran phoenix merah dengan takjub. Putra Mahkota bisa merasakan perasaan cinta Hwa Ryong di tiap jahitan pada sapu tangan tersebut.


_____________________________________________


" Bagi dunia, kamu mungkin hanya satu orang, tetapi bagi satu orang kamu adalah dunianya. "


- Bill W


Gambaran Sapu Tangan Phoenix :