
Beberapa hari kemudian, Tabib Seo datang memeriksa keadaan Hwa Ryong. Setelah memeriksa, Tabib Seo pergi menuju kamar Putra Mahkota.
“Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Sudah baik-baik saja, Yang Mulia.”
Putra Mahkota terlihat senang, lalu dua detik kemudian berubah murung. “Ah, benarkah? Apa ia sudah bisa berpergian sekarang?”
Tabib Seo membungkuk hormat. “Iya, Yang Mulia.”
“Baguslah. Terima kasih sudah membantuku merawatnya, Kasim Hyun akan memberimu imbalan setelah ini. Tapi kau tahu kan bahwa ini rahasia. Jadi pastikan tidak ada seorang pun tahu bahwa ia ada di sini, kau mengerti? Kau tentu tahu apa yang akan terjadi jika rahasia ini sampai bocor.”
“Iya, Yang Mulia. Saya berjanji akan menjaganya.” jawabnya, lalu berjalan keluar.
Putra Mahkota bergumam. “Berarti tinggal malam ini saja.”
Hwa Ryong sedang membaca buku di ruangannya ketika kemudian Putra Mahkota mengetuk pintu dan melangkah masuk.
Putra Mahkota duduk di seberang meja.
“Ayo kita jalan-jalan ke luar!” ajak Putra Mahkota.
Hwa Ryong tampak antusias sebelum kemudian mendesah, lalu menggeleng. “Saya tidak ingin menjadi masalah bagi Oppa. Saya tahu bahwa keberadaan saya di sini adalah rahasia.”
Putra Mahkota mendesah, lalu dengan senyum lebar, ia menarik tangan Hwa Ryong berdiri lalu menyeretnya keluar.
“Oppa! Bagaimana jika ada yang melihat saya?” bisiknya.
Putra Mahkota tertawa geli. “Ini sudah larut malam. Takkan ada yang lewat sini, kecuali mereka itu hantu.”
Hwa Ryong kaget saat mendengar kata hantu. “Hantu?”
Putra Mahkota terkekeh geli melihat Hwa Ryong ketakutan. “Kenapa? Kau takut hantu?”
Hwa Ryong hendak mengangguk, tapi kemudian menggeleng. “Tidak, siapa yang bilang saya takut hantu?”
“Benarkah? Kalau begitu, ikut aku.” Sambil terus menggenggam tangan Hwa Ryong, mereka berjalan lagi.
Hwa Ryong meronta sepanjang jalan. Tak lama kemudian mereka pun berhenti di suatu tempat. “Lihatlah di sana!”
Hwa Ryong langsung menutup matanya, takut. “Tidak.” Putra Mahkota tersenyum.
“Oppa janji?”
Putra Mahkota mengangguk. “Iya.”
Hwa Ryong pun mulai membuka matanya dan ia pun terperangah. Sebuah pemandangan menakjubkan, membuatnya berjalan tanpa sadar, menjauh dari Putra Mahkota. Sebuah pohon sakura berdiri di tengah indahnya taman bunga. Kolam kecil dibangun di sebelah barat. Dan terlihat sebuah gedung istana berarsitektur indah berdiri kokoh di utara taman. Hwa Ryong memungut bunga sakura yang berguguran ditiup angin.
Putra Mahkota yang masih berdiri terpaku di tempatnya, teringat kejadian di mana ia melihat Hwa Ryong pertama kali. Hwa Ryong dihujani guguran bunga sakura, seperti yang saat ini ia lihat. Begitu cantik. Detak jantungnya semakin cepat saat Hwa Ryong menoleh ke arahnya dan tersenyum untuknya. Putra Mahkota berjalan mendekat. Hwa Ryong langsung menghujaninya dengan bunga yang ia kumpulkan di telapak tangannya. Hwa Ryong tertawa, membuat Putra Mahkota ikut tersenyum. Tiba-tiba ia tersadar. Hwa Ryong takkan lagi berada di sisinya setelah malam ini berlalu. Hari-hari yang dilaluinya bersama Hwa Ryong begitu bahagia hingga ia tidak sadar bahwa sudah waktunya bagi mereka untuk berpisah. Putra Mahkota menatap Hwa Ryong yang kini berdiri di atas jembatan, melihat ikan koi yang berenang di kolam. Putra Mahkota bergerak menghampirinya.
Dengan tatapan sedih ke arah kolam, ia berkata. “Tabib Seo berkata bahwa kau sudah boleh pulang besok pagi.”
Hwa Ryong tampak senang. “Benarkah?”
Hati Putra Mahkota serasa ditusuk jarum saat ia menangkap nada gembira dari suara Hwa Ryong. “Iya.”
Sebaliknya, Hwa Ryong juga menangkap nada sedih dari Putra Mahkota. “Oppa baik-baik saja? Apakah aku membuat Oppa marah?”
Putra Mahkota tiba-tiba tak lagi kuat menahan perasaannya. Ia memeluk Hwa Ryong erat. Membuat Hyun, semua dayang, dan pengawal yang menjaganya, juga terutama Hwa Ryong kaget dan memalingkan wajah. “Kumohon, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melupakanku.”
Detak jantung keduanya berdebar kencang. Hwa Ryong terdiam, terlalu kaget untuk menjawab. Mereka pun terdiam begitu lama sebelum kemudian Hwa Ryong menjawab, “Saya tidak akan melupakan Oppa, saya janji.”
“Aku akan berusaha menemuimu dua hari lagi. Bagaimana jika di bukit di sebelah pohon sakura, tempat kita empat hari lalu diserang?”
“Bukit? Baiklah.”
“Pada tengah hari, janji?”
Hwa Ryong mengangguk, masih dalam pelukan Putra Mahkota. “Iya. Aku berjanji."
Mereka pun berpelukan sepanjang malam.
_____________________________________________
" Dan tiba-tiba, semua lagu cinta adalah tentangmu."
- NN
Gambaran Pakaian Hwa Ryong :