Sakura's Petals

Sakura's Petals
Serangan (2)



Penjahat itu akhirnya berhasil dilumpuhkan. Kedua penjahat itu pun mundur saat tahu mereka sudah kalah. Putra Mahkota hendak mengejar mereka, tapi Hyun menghentikannya. Sementara Seol berlari menuju Nonanya yang sedang terduduk lemas di tanah. “Nona tidak apa-apa?” ucapnya, sambil memeluk Nonanya.


Nona itu menggeleng. Ia mengernyit saat berusaha berdiri. Pergelangan kakinya sakit. Tapi ia masih bisa berdiri, walau dengan sedikit terseok-seok.


Putra Mahkota pun berjalan mendekati mereka. Sebelum itu, ia memperingatkan Hyun. “Jangan beritahukan identitasku, kau mengerti?”


Hyun mengangguk. “Baik.”


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Putra Mahkota.


Mendengar suara pria yang tadi, ia pun mendongak. Dan di bawah sinar rembulan, terlihat olehnya pria tertampan yang pernah ia lihat. Membuatnya terkejap kaget dan merona di saat yang sama. Kemudian ia teringat bentuk bibir itu. Pria ini adalah pria yang tadi, pikirnya. Jantungnya pun berdetak kencang.


Putra Mahkota gelisah. “Apa kau demam? Wajahmu merah.”


“Tidak, saya tidak apa-apa.”


Kemudian, mata si Nona menangkap darah membasahi lengan jubah pria itu. Ia mengerutkan dahinya. “Tuan terluka.”


“Ah, ini. Ini hanya luka kecil.” Ia berusaha menggerakkan lengannya. Tapi seperti orang yang dibangunkan dengan air es, Putra Mahkota langsung meringis kesakitan. Ekspresinya disambut tawa oleh semua orang. Setelah tertawa sejenak, Nona langsung menyobek bagian dalam chimanya. Lalu mengikatkannya pada lengan Putra Mahkota. Jantung keduanya berdetak semakin kencang saat keduanya berdiri berdekatan. “Tuan harus diobati dulu.” ucapnya. Putra Mahkota hanya bisa mengangguk.


Mereka pun berjalan ke sebuah peristirahatan, sementara Seol dan Hyun berusaha mencari obat. Nona dan Putra Mahkota tampak canggung dalam sebuah bilik kamar. Putra Mahkota duduk di atas kasur. Sementara Nona duduk di balik meja yang berada di sebelah kasur.


“Terima kasih.”


Nona tersenyum tersipu, membuat Putra Mahkota tersipu juga. “Sama-sama, Tuan.”


“Siapa namamu?”


Nona itu tampak terkejut, kemudian dengan ragu menjawab, “Shim Hwa Ryong, Tuan.”


Putra Mahkota tersenyum. “Jangan panggil aku Tuan. Kau sudah begitu berjasa menyelamatkanku tadi.”


“Tapi...”


“Sudah, kalau kau benar menghormatiku, panggil saja aku Yoon Oppa.”


“Baiklah, Yoon Oppa.” Putra Mahkota langsung merona mendengarnya.


Putra Mahkota mengangguk. “Tenang saja. Setelah lukaku kau bebat, sudah tidak terlalu sakit lagi.”


Kemudian, datanglah makanan dan minuman yang mereka pesan. Seorang pria membawakan meja makan mereka sambil sesekali memandang ke arah Hwa Ryong. Putra Mahkota menyadarinya dan mulai melotot. “Silahkan dinikmati, Tuan, Nona.”


Setelah pria itu menutup pintu kamar yang mereka sewa, Hwa Ryong segera menyeduh teh untuk empat cangkir yang ada. Merasa gugup karena diperhatikan oleh Putra Mahkota, pada cangkir keempat, tanpa sengaja air panas mengenai kulitnya. “Aah.”


Putra Mahkota langsung mengompres tangan Hwa Ryong dengan lap yang tadi dipakai untuk membersihkan lukanya, sambil meringis saat lukanya kembali sakit.


“Tenang saja, Tuan. Saya baik-baik saja.”


Putra Mahkota pun kembali duduk. Ia menyergah. “Tuan? Apa yang kubilang tadi padamu, hah? Panggil aku Oppa. Aku sudah berutang budi padamu sedemikian besar dan kuminta kau tidak perlu sungkan padaku. Lagipula, aku yakin jarak usia kita tidak terlalu jauh.”


“Saya empat belas tahun.”


Putra Mahkota mengangguk. “Berarti kita berbeda dua tahun. Jika kau benar empat belas, maka seharusnya kau sudah bertunangan dengan pria, bukan begitu?”


Hwa Ryong tersenyum. “Sayangnya, belum, Oppa.”


“Aneh sekali. Apa yang keluargamu tunggu? Ah, aku mengerti. Keluargamu pasti mencari calon yang benar-benar baik. Kulihat dari hanbok yang kau pakai dan perhiasan yang kau kenakan, kau pasti bukan bangsawan biasa.”


Senyum Hwa Ryong sedikit pudar dan Putra Mahkota menyadarinya. “Sebenarnya, saya sedang dipersiapkan untuk menikah, tapi kami masih belum bertunangan.”


Putra Mahkota terlonjak kecil. Ia bingung harus merasa bagaimana. Dalam beberapa hal, ia menyukai gadis yang baru ditemuinya tak lebih dari beberapa jam lalu. Wajah Hwa Ryong tidak bisa dibilang jelek, bahkan bisa dibilang sangat cantik malah. Keberaniannya untuk menolong dirinya tadi juga patut dipuji. Kebanyakan wanita akan langsung kabur atau pingsan begitu melihat penjahat. Dan yang paling penting adalah ia baru sadar bahwa jantungnya sejak pertemuan pertama berdegup kencang. Bahkan sejak ia melihat Hwa Ryong di pasar. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.


Tapi menurut cerita Hyun, berdebar-debar karena seorang gadis bisa berarti menyukai atau bahkan mencintai seseorang. Lantas, apakah benar begitu, pikirnya. Kalau memang benar, bisa dipastikan gadis ini tak boleh begitu saja ia lepaskan. Cinta pertama, siapa yang menyangka akan menemukannya di saat genting seperti ini?


Tapi, mendengar jawaban Hwa Ryong tadi, Putra Mahkota juga merasa kecewa. Ia telah kalah telak. Bahkan sebelum memulai. Hwa Ryong sudah punya seorang pria yang bisa menjaganya.


_________________________________________


" Aku telah memiliki banyak kenangan dalam hidupku, namun kenangan terindah yang kumiliki adalah saat bertemu denganmu. "


- NN