
Seorang gadis sedang duduk termenung di atas bukit. Ia memakai jeogori kuning dan chima berwarna merah dengan hiasan bunga di bagian bawahnya. Ia terlihat sedang meratapi nasibnya yang malang. Sesekali ia terisak, mengusap air matanya dengan sapu tangan putih tulangnya.
Seorang gadis berusia sama, namun berpakaian seperti pelayan, mendekat. “Agassi, sudah waktunya pulang. Hari sudah semakin sore. Nyonya Besar akan khawatir jika nona tidak segera pulang.”
Nona itu tetap bergeming di tempatnya. “Apakah aku harus pulang, Seol?”
Pelayan itu tampak kebingungan. “Apa yang Nona maksud?”
Nona itu menoleh ke arahnya. Ia menggeleng, gemas. “Sudah, jangan dibahas lagi. Sampai kapanpun, kau takkan pernah bisa mengerti perasaanku.”
“Hamba, memang pelayan, Nona. Tapi, hamba tahu bahwa saat ini Nona sedang patah hati. Hanya saja, tidak baik menginginkan hal yang tidak akan pernah bisa Nona dapatkan. Hanya akan memasukkan duri dalam hati. Jadi, hamba mohon, jangan pernah memikirkannya lagi, Nona. Ini juga demi kebaikan Nona.”
Nona itu berdiri. “Apakah benar, aku harus melupakannya? Bagaimana jika ia memang cinta sejatiku?”
“Kalaupun memang benar, apakah dia bisa merubah takdir Nona? Nona dilahirkan untuk menjadi calon istri Pangeran Dinasti Qing.”
“Aku tahu.” Nona itu mendesah dan mulai berjalan pulang.
Sekuntum bunga sakura tiba-tiba menimpa bibirnya. Langkahnya pun terhenti. Ia memungut bunga itu, memandangnya sendu, lalu kemudian menerbangkannya pergi.
SEMINGGU SEBELUMNYA...
“Ayo, cepat, Seol! Apa kau ingin kita tertangkap?”
Seol segera meloncat dari tembok pagar dan jatuh terduduk di tanah. “Hamba kan tidak sepintar Nona memanjat tembok.” keluhnya.
Nona itu tertawa. “Sudah, berhenti mengeluh. Ayo, pergi.”
“Aku beli ini semua, Nyonya.” ucapnya, begitu sampai di toko kue. Ia membeli sebungkus besar kue plum manis. Nyonya itu tampak terpesona dulu sebelum kemudian membungkuskan pesanan si nona.
Setelah Seol membayar kue itu, Nona itu pun beranjak ke toko perhiasan. Ia tampak serius memilih beberapa hiasan rambut. “Apakah menurutmu ini cocok untuk Ha Neul?” tanya Nona itu sambil menyodorkan hiasan rambut berbentuk bunga sakura pada Seol.
Seol tampak bingung. “Kurasa ia cocok dengan yang warna kuning itu, Nona.”
“Benarkah?” Nona itu tampak berpikir lagi. Kemudian, “Baiklah, aku ambil yang ini dan yang kuning.” Sang penjual langsung membungkuskan pesanan si Nona sambil sesekali mencuri pandang ke arah si Nona.
Nona itu sedang melewati lorong pasar yang ramai ketika kemudian terjadi perkelahian di tengah-tengah pasar. Beberapa orang berpakaian bangsawan tengah diserang oleh beberapa orang berpakaian hitam. Ia berusaha keluar dari kerumunan, tapi bukannya keluar ia semakin terdesak mendekat ke arah orang-orang yang sedang berkelahi. Ia terombang-ambing di tengah orang pasar, kemudian kakinya terantuk batu hingga ia terhuyung jatuh. Tapi sebelum jatuh, tiba-tiba seorang pria menahannya. Seorang pria berpakaian bangsawan berwarna biru. Wajahnya tidak terlihat jelas, karena sinar matahari membuatnya silau. Hanya sepasang bibir kokoh itu yang sempat ia lihat. Pria itu tersenyum sejenak pada Nona, membuat hatinya serasa melompat, sebelum kemudian mendorong Nona keluar dari kerumunan. Masih terpesona, Nona itu terus menatap ke arah pria itu, yang sekarang sedang melawan beberapa orang sekaligus.
___________________________________________
" Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tetapi jatuh cinta padamu adalah sesuatu yang tidak bisa kukendalikan"
- NN
Bonus gambaran pakaian Hwa Ryong :