Sakura's Petals

Sakura's Petals
Pengorbanan



DI KEDIAMAN KELUARGA SHIM


Tuan Shim sedang duduk berhadapan dengan istrinya. Ia terlihat begitu resah, sementara Nyonya Shim terisak sambil sesekali mengelap air matanya dengan saputangan.


“Aku rasa kita harus segera menemukan Hwa Ryong dan pindah ke Beijing.”


Nyonya Shim mendongak. “Bukankah kau yang selalu menolak pindah? Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Kita tak bisa tinggal di Joseon lagi.” Tuan Shim mengambil nafas panjang. “Hanya pilihan itu yang kita punya untuk menyelamatkan keluarga kita dan juga negara ini.”


“Apa maksudmu?”


“Hwa Ryong harus segera pergi ke Beijing dan menjadi fujin. Hanya dengan cara ini, kita bisa menyelamatkan semuanya.”


Nyonya Shim hanya terdiam, heran. Ia tak bisa mencerna satu katapun dari mulut suaminya.


DI SUATU MOTEL


Kasim Hyun sedang membawakan nampan berisi makanan kecil ke dalam sebuah kamar. Terlihat Putra Mahkota sedang duduk di kasurnya dengan peta di hadapannya. Matanya menelusuri peta itu dengan seksama.


“Apa menurutmu dia pergi ke hutan? Dia seorang gadis, ia takkan berani pergi sejauh itu. Tapi, melihat keberaniannya saat menolongku, apakah kita juga harus mempertimbangkan untuk mencarinya di hutan?”


Kasim Hyun mendesah. “Yang Mulia, sudah dua hari penuh prajurit mencarinya. Apakah kita masih harus melanjutkan pencariannya?”


“Apa maksudmu? Jangankan dua hari, seratus tahun pun aku akan tetap mencarinya.”


Kasim Hyun menatap Putra Mahkota khawatir. “Tapi, Yang Mulia...”


“Suruh prajurit istirahat malam ini. Lanjutkan pencarian pagi besok. Aku salah telah membuat mereka bekerja begitu keras seperti ini, tapi aku tetap takkan menyerah, apa kau mengerti?”


“Baik, Yang Mulia.” jawab Kasim Hyun, berat hati.


DI DALAM MIMPI HWA RYONG


Tampak sepasang kekasih berlari bersama di tengah hutan. Di belakang mereka, tampak seorang pria naik kuda dengan busur dan panah di tangannya. Sepasang kekasih itu terus berlari hingga kemudian si wanita terjerembab dan jatuh. Pria yang naik kuda itu pun berhasil menyusul dan menghalangi langkah mereka.


“Hwa Ryong! Berhenti dan menyerahlah! Atau akan kubunuh dia.” katanya, sambil menarik panah di busurnya dan mengarahkannya ke arah si pria.


Si pria menatap si wanita. “Aku akan melawannya.”


Si wanita menangis. “Kau bisa mati.”


“Aku takkan apa-apa. Hanya ini yang bisa kita lakukan sekarang.”


Pria yang naik kuda itu pun turun dari kudanya. Ia melempar busurnya ke samping dan mengambil pedang dari pinggangnya. “Jadi, kau mau melawanku, heh? Baiklah.”


Kedua pria itu pun bertarung sengit. Tapi karena lengah, pria yang naik kuda terjatuh dan pria yang satunya hendak menebasnya, sebelum kemudian hunjaman panah-panah menembus tubuhnya. Darah mengalir ke mana-mana. Pria itu limbung dan akhirnya terjatuh.


“Tidak, ini tidak terjadi! Yoon Oppa! Yoon Oppa! Bangunlah.” panggil wanita itu histeris, sambil terus berusaha membangunkan pria yang ia cintai.


“Maafkan aku, Hwa Ryong. Aku...” Pria itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.


“Tidak! Yoon Oppa! Bangunlah.”


“Hwa Ryong-ah!”


Si wanita pun meninggal, menyusul kekasihnya.


Hwa Ryong pun tersadar dari pingsannya, dengan nafas terengah-engah. Ia bahkan masih bisa merasakan rasa sakit yang ia rasakan di perutnya saat ia menghunus perutnya dengan panah. Lalu matanya mulai berkeliling, mencari tahu apa yang terjadi. Pelayan yang sedang menjaga di sampingnya langsung tersenyum melihatnya. “Agassi! Syukurlah Anda sudah bagun, Agassi.”


DI KEDIAMAN YUNTI


“Apa ia akan baik-baik saja? Sudah seharian ini ia tidak bangun-bangun juga.” kata Yunti, sambil duduk di kamarnya.


Seorang tabib yang baru saja selesai memeriksa Hwa Ryong tadi, duduk di hadapannya, menjawab. “Denyut nadinya sudah mulai normal, Yang Mulia. Nona akan segera sadar, jadi Yang Mulia tidak perlu khawatir. Hanya saja ia harus makan setidaknya beberapa suap begitu sadar. Apa Yang Mulia bisa melakukannya?”


Yunti mengangguk, cepat. “Aku pasti akan membuatnya makan. Jadi, setelah dia makan, apa dia akan sembuh?”


Tabib itu tersenyum. “Tentu, Yang Mulia. Ia pingsan karena kurang makan dan minum sehingga ia dehidrasi. Hanya dengan membuatnya makan, ia bisa sembuh.”


“Baguslah. Kau bisa pergi sekarang.”


Tabib itu berdiri lalu membungkuk hormat. “Saya permisi dulu, Yang Mulia.”


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dan mengabarkan bahwa Hwa Ryong sudah sadar. Yunti pun bergegas ke kamar Hwa Ryong. Begitu Yunti masuk, ia melihat Hwa Ryong berbaring di kasurnya menatap atap kamar. Saat tahu Yunti datang, Hwa Ryong menatap Yunti datar. “Apa yang terjadi padaku?”


“Kau pingsan.”


Hwa Ryong beranjak duduk. Yunti langsung mendekati Hwa Ryong, membantunya bangun.


“Apa kau baik-baik saja?”


Hwa Ryong mengangguk. Ia mendongak menatap Yunti serius, lalu ia tersenyum kaku. “Aku setuju. Aku setuju menikahimu. Jika ini memang yang terbaik, yang bisa kulakukan untuk melindunginya, aku akan melakukannya. Aku akan menikah denganmu.” ucapnya, dengan suara bergetar dan pasrah. Walaupun Yoon Oppa adalah seorang menteri, tapi di hadapan seorang Pangeran Dinasti Qing, jelas bukan tandingannya.


DI PASAR


“Apa masih tak ada petunjuk di mana dia berada?”


Kasim Hyun mengangguk pelan. “Ya, Yang Mulia. Para prajurit bahkan sudah mencari ke hutan, tapi tampaknya hasilnya nihil. Semua tempat di ibukota juga sudah kami datangi, tapi tak ada seorangpun yang tampaknya pernah melihatnya.”


Putra Mahkota mendesah panjang. Ia duduk di kasurnya, frustasi. Ia terdiam cukup lama sebelum kemudian ia tiba-tiba berdiri. “Sudah cukup! Aku akan mencarinya sendiri mulai sekarang. Jangan coba-coba hentikan aku lagi.” Putra Mahkota pun berjalan keluar.


“Yang Mulia! Yang Mulia!” panggil Kasim Hyun.


Tapi Putra Mahkota telah mengendarai kudanya pergi.


__________________________________________


" Karena cinta bukan jawaban dari segalanya. Karena cinta sejati berarti pengorbanan. Kadang cinta berarti mampu merelakan. "


- Melissa DLC


Gambaran Pakaian Formal Dinasti Qing :